Tautan-tautan Akses

Abu Vulkanik Merapi Bisa Kurangi Pemanasan Global


Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi ternyata bisa bermanfaat mengurangi pemanasan global.
Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi ternyata bisa bermanfaat mengurangi pemanasan global.

Hal serupa pernah terjadi saat Gunung Tambora di NTB meletus tahun 1815 yang menyebabkan pendinginan global yang cukup lama.

Gunung Merapi kini aktivitasnya sudah mulai menurun. Meski demikian, abu vulkanik dari letusan gunung tersebut masih tersisa di berbagai daerah sekitar lereng gunung Merapi. Abu vulkanik dari gunung Merapi yang berbahaya untuk tubuh manusia, ternyata berguna untuk bumi.

Menurut penelitian, abu vulkanik tersebut menyebabkan pendinginan global, sehingga bermanfaat untuk mengurangi pemanasan global atau global warming.

Berdasarkan keterangan Volcanic Ash Centre Australia, ketinggian abu vulkanik dari letusan gunung Merapi mencapai 55.000 kaki (atau hampir 17 kilometer). Dengan ketinggian tersebut dan letusan yang cukup kuat, mendorong abu vulkanik masuk ke dalam lapisan stratosfer, tempat terjadinya cuaca.

Abu tersebut kemudian menghalangi radiasi matahari yang masuk ke dalam atmosfer. Pendinginan global terjadi saat curah hujan berkurang dan abu cenderung menempel pada lapisan stratosfer.

Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat pernah meletus tahun 1815.
Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat pernah meletus tahun 1815.

Konsultan bencana, Richard W. Gnagey mengungkapkan, letusan gunung Merapi bisa mengurangi pemanasan global. Hal itu seperti terjadi saat gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus pada tahun 1815. Letusan gunung Tambora menyebabkan pendinginan global yang cukup lama, sehingga temperatur cuaca di beberapa kawasan di dunia sangat dingin.

Menurut Richard, letusan gunung Tambora bahkan mampu menurunkan temperatur cuaca hingga satu derajat Celcius. Richard menambahkan, hasil pemanasan global yang terjadi selama seratus tahun terakhir dapat diimbangi oleh satu kali letusan gunung berapi, asalkan letusannya itu besar dan semburan abu vulkaniknya sampai ke stratosfer.

Richard W. Gnagey mengatakan, “Hasilnya global warming selama seratus tahun terakhir bisa diimbangi dengan satu kali gunung meletus, asal letusannya besar dan sampai ke stratosfer”.

Sementara itu, meskipun berguna untuk mengurangi pemanasan global, manusia harus tetap berhati-hati terhadap efek abu vulkanik bagi kesehatan tubuh. Kepala Sub Bidang Evaluasi Bencana Gunung Api—Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Supriyati Dwi Andreastuti mengungkapkan, dampak secara tidak langsung dari letusan gunung Merapi yaitu hujan abu. Abu dari letusan gunung Merapi sifatnya seperti silica, dan bila mengontaminasi air akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Menurut Supriyati, silica ini akan merusak saluran pernapasan dan membuat mata yang terkena menjadi perih.

Abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan manusia, khususnya bagi saluran pernapasan.
Abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan manusia, khususnya bagi saluran pernapasan.

Supriyati menambahkan bahwa abu vulkanik juga berbahaya bagi tanaman. Bila terkena abu tersebut, tanaman akan mati.

“Dari sifat kimianya, ini (abu vulkanik) bila terkena vegetasi akan menjadi kering. Jadi kering, kemudian mati. Kemudian kalau misalnya ada buah-buahan yang siap panen juga akan gugur”, demikian Supriyati.

Sementara, berdasarkan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration Oktober 2010, bumi terus mengalami suhu di atas rata-rata dibandingkan temperatur di abad ke-20. Pendinginan global juga pernah terjadi saat letusan gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991. Letusan ini menyebabkan pendinginan global yang sangat ekstrim, karena ketinggian abu akibat letusan gunung tersebut mencapai 78.740 kaki atau sekitar 24 kilometer.

XS
SM
MD
LG