Tautan-tautan Akses

Naikkan Partisipasi Pekerja Perempuan Kunci Ekonomi Sehat

  • Mil Arcega

Para pengusaha rintisan perempuan melakukan latihan fisik bersama di San Mateo, California (foto: ilustrasi).

Pasar kerja Amerika melebihi ekspektasi bulan lalu - menambah 209 ribu pekerja baru ke perekonomian Juli lalu dan menurunkan tingkat pengangguran nasional menjadi 4,3 persen. Tetapi upah semakin tidak mencukupi, demikian pula tingkat partisipasi tenaga kerja nasional.

Menurut ekonom, itu karena jutaan orang Amerika yang dalam usia kerja memilih tidak bekerja, sebagian lagi akan kembali ke sekolah, lainnya diam di rumah untuk mengurus keluarga.

Sebelum resesi tahun 2008 memurukkan ekonomi Amerika, hampir 70 persen penduduk usia kerja di Amerika bekerja. Kini persentase usia kerja di Amerika yang bekerja mandek pada tingkat rendah 60-an, meskipun itu angka pengangguran yang rendah dalam 16 tahun.

Itu disebut "kelonggaran kerja" ujar dosen ekonomi Howard University, Bill Spriggs, yang mengatakan, itu salah satu alasan mengapa upah tidak naik seiring bertambahnya lapangan kerja.

"Nyatanya adalah perusahaan benar-benar tidak merasakan tekanan itu, mereka tidak benar-benar merasakan kelangkaan itu,"ujar Spriggs.

Sebagian orang Amerika menyerah mencari kerja setelah ekonomi merosot. Itu artinya mereka tidak lagi dihitung sebagai pengangguran. Orang-orang kulit hitam dan minoritas Amerika yang secara tidak proporsional terkena PHK membuat kemajuan yang signifikan sejak tahun 2008. Tetapi, perempuan, terutama yang bekerja dalam sektor publik, menurut kepala ekonom pada kelompok Stifel Fixed Income, Lindsey Piegza, tidak banyak membuat kemajuan.

Kepada VOA via Skype, Piegza mengatakan:

"Upah perempuan sekarang rata-rata 80 sen dibanding satu dolar untuk pekerja laki-laki. Kalau kita menghitung pula pesatnya kenaikan biaya penitipan anak, banyak perempuan yang memutuskan tinggal di rumah saja."

Spriggs, pakar ekonomi pada Howard University, menambahkan, "Itu penting karena perubahan yang terjadi semasa baby boom adalah kenaikan partisipasi angkatan kerja bagi perempuan, jadi kalau itu ditiadakan, kita tidak bisa kembali ke ekonomi yang sehat."

Seiring "Baby Boomers", mereka yang lahir antara tahun 1946 dan 1964, mendekati usia pensiun, Piegza mengatakan, mendorong perempuan usia kerja masuk lagi ke angkatan kerja sangatlah penting.

"Jika melihat perginya secara permanen perempuan dari angkatan kerja, ini bisa menjadi kehilangan secara permanen bagi produktivitas, pertumbuhan, dan bagi ekonomi," tukasnya.

Tingkat partisipasi buruh di kalangan perempuan mencapai puncak, 60 persen, tahun 1999, tetapi sejak itu angka tersebut turun menjadi sekitar 57 persen.

Kajian Dana Moneter Internasional tahun 2017 menunjukkan, menaikkan tingkat partisipasi perempuan satu persen saja bisa meningkatkan pertumbuhan produktivitas sebanyak 0,3 persen setiap tahun. [ka/al]

XS
SM
MD
LG