Tautan-tautan Akses

TNI AU Gelar Latihan Militer Terbesar di Laut China Selatan


Presiden Joko Widodo di atas dek kapal Angkatan Laut KRI Imam Bonjol dengan beberapa anggota kabinet di perairan Kepulauan Natuna, Riau (23/6).

Presiden Joko Widodo di atas dek kapal Angkatan Laut KRI Imam Bonjol dengan beberapa anggota kabinet di perairan Kepulauan Natuna, Riau (23/6).

Lebih dari 2.000 personel angkatan udara ambil bagian dalam latihan selama dua minggu yang bertujuan menunjukkan eksistensi di wilayah tersebut.

Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia (TNI AU) menggelar latihan militer terbesarnya minggu ini, dekat beberapa pulau di Laut China Selatan, untuk menunjukkan kedaulatan atas wilayah kaya gas di perbatasan teritori yang diklaim China, menurut para pejabat hari Selasa (4/10).

Presiden Joko Widodo bulan Juni meluncurkan kampanye yang belum pernah ada sebelumnya untuk meningkatkan fasilitas perikanan, eksplorasi minyak dan pertahanan di sekitar Kepulauan Natuna, menyusul serangkaian bentrokan antara angkatan laut Indonesia dan kapal-kapal penangkap ikan China.

China, meskipun tidak menantang klaim Indonesia atas Natuna, telah membuat pemerintah berang karena mengatakan bahwa kedua negara memiliki "klaim-klaim yang tumpang tindih" di perairan dekat mereka, yakni Laut Natuna.

"Kami ingin menunjukkan eksistensi kami di wilayah ini. Kami memiliki pasukan udara yang cukup baik untuk melakukan tindakan pencegahan," ujar Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya, juru bicara TNI AU.

Lebih dari 2.000 personel angkatan udara ambil bagian dalam latihan selama dua minggu, yang termasuk penggunaan armada jet Sukhoi dan F-16, ujarnya.

Pasukan angkatan lain tidak ikut dalam latihan ini, yang akan dimulai Kamis.

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, tempat lalu lintas perdagangan dengan nilai sekitar US$5 triliun per tahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim di wilayah ini.

Meskipun Indonesia tidak ikut dalam sengketa di Laut China Selatan, pemerintah keberatan dengan tindakan China memasukkan perairan sekitar Kepulauan Natuna dalam "sembilan garis putus-putus", atau garis demarkasi yang digunakan China di peta untuk menunjukkan klaimnya. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG