Tautan-tautan Akses

SBY Sampaikan Belasungkawa Ledakan Bom di Boston


Presiden SBY ikut berbelasungkawa atas ledakan bom yang mengguncang lomba marathon di Boston, 15 April 2013 (Foto: dok).

Presiden SBY ikut berbelasungkawa atas ledakan bom yang mengguncang lomba marathon di Boston, 15 April 2013 (Foto: dok).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan rasa prihatin dan ikut berbelasungkawa atas ledakan bom yang mengguncang lomba marathon di Boston, Amerika Serikat (15/4).

Juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada wartawan di kantor Presiden Jakarta Selasa (16/4) menjelaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menerima kabar peristiwa ledakan bom di Boston Amerika Serikat. Atas peristiwa itu, Presiden menurut Julian menyatakan rasa prihatin yang mendalam terhadap keluarga korban insiden ledakan bom di Boston Amerika Serikat.

"Bapak presiden menerima kabar tentang adanya insiden pemboman di Boston pada siang hari waktu setempat, yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan luka-luka. Tentu bapak Presiden menyampaikan rasa prihatin yang dalam pada keluarga korban yang terkena musibah. Sementara ini belum ada komunikasi langsung antara bapak Presiden dengan Presiden Obama," kata Julian Aldrin Pasha.

Menurut Julian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus memonitor perkembangan peristiwa ledakan bom ini. Dari Duta besar Indonesia di Amerika Serikat Dino Pati Jalal, Presiden menerima laporan bahwa tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

"Dan tadi pagi bapak Presiden juga telah mendapatkan laporan dari dubes Indonesia di Amerika Serikat Dino Pati Jalal. Disamping itu juga dari konjen di Washington DC dan di Boston," kata Julian. "Tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam peristiwa itu, meskipun dilaporkan ada warga negara Indonesia yang ikut dalam lomba marathon yang diselenggarakan di Boston itu," lanjutnya.

Meski sementara ini belum ada larangan bepergian ke Amerika Serikat khususnya kota Boston bagi WNI, namun menurut Julian, Presiden mengimbau agar warga negara Indonesia meningkatkan kewaspadaannya dimanapun berada, termasuk di Amerika Serikat.

Sementara itu dosen Terorisme Universitas Pertahanan Anton Ali Abbas kepada VOA memastikan peristiwa ledakan bom ini dilakukan secara terencana. Aparat Federal Amerika Serikat dalam melakukan investigasi kasus ini menurut Anton, harus membuka segala kemungkinan asumsi pelaku dan tidak hanya mengerucut pada ekstrimis kanan.

"Ini adalah pelaku yang terencana, karena dia memanfaatkan momentum di Boston ada Patriot Day, terus juga saat libur dan semua mata tertuju kesana. Sejauh ini yang mengkonfirmasi adalah kelompok Taliban yang mengatakan ‘kita tidak terkait dengan insiden ini’," kata Anton Ali Abbas.

"Yang kedua, yang perlu dicermati saat ini di Amerika adalah munculnya fenomena ‘lone wolf terrorism’. Bagaimana pelaku bermain sendiri. Dia juga cerdas dan merencanakan segala sesuatu dengan cermat. ‘lone wolf terrorism’ juga pernah ada yang bermotif bahwa ‘saya juga adalah patriot Amerika maka saya melakukan ini’. Jadi kita tidak bisa jump mengatakan ‘oke ini adalah kelompok ekstrimis kanan’," tambah dosen Terorisme Universitas Pertahanan ini. "Bagaimanapun juga untuk memulai investigasi ini tentu aparat Federal Amerika Serikat harus membuka selebarnya asumsi siapa pelakunya," tambahnya.

Anton Ali Abbas yang juga Alumnus Program Terorisme Marshall Centre di Jerman berharap pemerintah Amerika Serikat tidak melakukan pengetatan kedatangan warga negara asing atau melakukan pengawasan berlebihan. Khususnya terkait dengan stigmasisasi bahwa pelaku teror dari kelompok atau agama tertentu. Jika itu dilakukan menurut Anton, aparat keamanan Amerika akan sulit mendeteksi pelaku-pelaku teror yang bermain sendiri atau dikenal dengan fenomena ‘lone wolf terrorism’ tersebut.

Dua bom mengguncang kerumunan penonton di garis finish lomba marathon Boston, Senin 15 April 2013 waktu setempat. Bom ini menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 140 orang. Pihak Gedung Putih menyatakan ledakan ini sebagai “aksi teror.”
XS
SM
MD
LG