Tautan-tautan Akses

Obama: Diplomasi Cara Terbaik Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir


Presiden AS Barack Obama dalam wawancara khusus dengan Reuters di Gedung Putih, Senin (2/3).

Presiden AS Barack Obama dalam wawancara khusus dengan Reuters di Gedung Putih, Senin (2/3).

Presiden AS Barack Obama mengatakan Iran harus menghentikan aktivitas nuklir yang sensitif selama sedikitnya 10 tahun guna mencapai perjanjian nuklir dengan Barat.

Dalam wawancara dengan kantor berita Reuters, Presiden Amerika Barack Obama hari Senin (2/3) mengakui bahwa peluang untukmencapai perjanjian nuklir dengan Iran masih di bawah 50 persen.

Obama berbicara terbuka tentang perundingan guna mengekang program nuklir Iran – sehari sebelum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato tentang isu itu di depan Kongres Amerika. Presiden Obama mengatakan kepada kantor berita Reuters, cara terbaik untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir bukan lewat sanksi tambahan atau opsi militer, tetapi lewat diplomasi.

“Yang kami sampaikan sejak awal adalah dengan memberi sanksi yang keras terhadap Iran, kami bisa mengajak Iran ke meja perundingan. Dengan mengajak Iran ke meja perundingan, memaksa mereka melakukan perundingan serius, supaya kami bisa benar-benar mengetahui apa yang terjadi di dalam negeri Iran,” kata Obama.

Presiden Obama menambahkan bahwa masa jeda selama satu tahun – masa yang dibutuhkan Iran untuk membuat senjata nuklir jika memang menghendakinya –akan memberi kesempatan kepada tim pemantau internasional untuk mengetahui kalau terjadi pelanggaran apapun, dan usaha Iran itu bisa dihentikan dengan tindakan militer.

Presiden Obama mengatakan Iran seharusnya berjanji membekukan program nuklirnya setidaknya selama 10 tahun guna mensukseskan tercapainya perjanjian nuklir tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di hadapan para anggota Kongres Amerika hari Selasa, tentang potensi bahaya perjanjian nuklir dengan Iran yang akan mengancam keberadaan Israel.

Keputusan Perdana Menteri Netanyahu untuk berbicara dimuka Kongres Amerika telah memicu kecaman keras dari banyak pihak, termasuk anggota-anggota Kongres dari faksi Demokrat yang merasa pemimpin Israel itu berusaha menggerogoti otorita Presiden Obama dan meremehkan perundingan yang sedang berlangsung.

Presiden Obama juga berupaya mengecilkan anggapan adanya perselisihan antara dirinya dan Nentanyahu, dengan mengatakan bahwa dukungan militer Amerika bagi Israel justru paling kuat dalam masa pemerintahannya.

Namun, Presiden Obama menekankan bahwa berpidato di depan Kongres Amerika hanya beberapa minggu sebelum pemilu Israel, merupakan kesalahan Netanyahu. Ditambahkannya, langkah itu mempolitisir hubungan kedua negara dan meskipun kerusakan yang ditimbulkan tidak permanen, tetapi mengganggu usaha menghentikan Iran membuat senjata nuklir.

“Ketika kami pertama kali mengumumkan kata sepakat sementara ini, Perdana Menteri Netanyahu membuat berbagai pernyataan yang tidak betul. Antara lain, bahwa ini akan menjadi perjanjian yang sangat buruk, akan membuat Iran memperoleh 50 milyar dolar dana bantuan, dan bahwa Iran tidak akan mematuhi perjanjian ini. Tidak satu pun pernyataan itu terbukti. Faktanya, justru sebaliknya. Saat ini kami melihat Iran tidak mengembangkan program nuklir tersebut. Dalam beberapa hal, Iran justru telah menghentikan beberapa elemen program nuklirnya,” tegas Obama.

Dalam sebuah forum pertemuan tahunan kelompok lobby pro-Israel di Washington “AIPAC” hari Senin (2/3), Netanyahu mengatakan Amerika dan Israel akan bisa mengatasi perbedaan pendapat yang ada dan hubungan antara keduanya bahkan akan menjadi lebih kuat.

“Pidato saya tidak bertujuan menunjukkan melecehkan Presiden Obama atau pemerintahannya. Saya sangat menghormati keduanya. Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan Presiden Obama bagi Israel – kerjasama keamanan, saling tukar informasi inteljen, dukungan di PBB dan banyak lagi,” ujar Netanyahu.

Beberapa analis mengatakan ketidaksepakatan itu bukan bersifat pribadi atau partisan tetapi lebih didasarkan pada kebijakan. Presiden Obama maupun Perdana Menteri Netanyahu sama-sama memiliki perbedaan fundamental tentang apa yang dianggap terbaik bagi keamanan nasional masing-masing negara, dalam hal ini adalah bagaimana mencegah Iran agar tidak mengembangkan senjata nuklir”.

(Aru Pande/VOA).

XS
SM
MD
LG