Tautan-tautan Akses

Amerika Identifikasi Tersangka Pembantaian di Afghanistan


Sersan Robert Bales (kiri) tersangka pelaku pembantaian 16 warga sipil Afghanistan (Foto: dok).

Sersan Robert Bales (kiri) tersangka pelaku pembantaian 16 warga sipil Afghanistan (Foto: dok).

Sersan Robert Bales, tersangka pelaku pembantaian warga sipil di Afghanistan, diterbangkan ke sebuah penjara dengan keamanan maksimum di Pangkalan Militer Amerika Fort Leavenworth, Kansas.

Seorang pejabat tinggi Amerika telah mengidentifikasi tentara tersangka pembunuhan 16 warga sipil di Afghanistan pekan ini.

Sersan Robert Bales, tersangka pembunuhan 16 warga sipil Afghanistan tersebut belum dikenai tuduhan. Tetapi ia diterbangkan ke sebuah penjara dengan keamanan maksimum di pangkalan militer Amerika Fort Leavenworth di negara bagian Kansas, hari Jumat (16/3). Afghanistan telah meminta agar dia diadili di Afghanistan.

Juga hari Jumat, pengacara Bales mengatakan kliennya kemungkinan menderita stres setelah menyaksikan salah seorang temannya menderita luka parah.

John Henry Browne, pengacara itu, mengatakan sersan berusia 38-tahun itu menyaksikan kaki salah seorang rekannya hancur sehari sebelum pembantaian hari Minggu di Kandahar itu.

Browne mengatakan kliennya juga tidak senang dengan tugas keempat kalinya di zona perang. Bales, ayah dua anak, telah bertugas tiga kali di Irak, di mana ia mengalami cedera kepala dan kehilangan sebagian kakinya. Pengacara itu mengatakan Bales diberitahu bahwa dia tidak akan dikirim ke Afghanistan, tapi janji itu tiba-tiba berubah.

Sersan Robert Bales (kiri) saat berada di Fort Irwin, California (Foto: dok).

Sersan Robert Bales (kiri) saat berada di Fort Irwin, California (Foto: dok).

Keluarga Bales telah dipindahkan ke pangkalan militer di selatan kota Seattle demi keamanan. Browne memberitahu para wartawan bahwa anggota keluarga Bales mengatakan, sersan itu tidak pernah memiliki rasa bermusuhan terhadap warga Muslim. Dia digambarkan berwatak lembut.

Para pejabat Amerika telah menjanjikan penyelidikan menyeluruh atas insiden yang telah mengakibatkan hubungan Afghanistan-Amerika memburuk itu. Tapi hari Jumat, Presiden Afghanistan Hamid Karzai menuduh Amerika gagal bekerja sama dalam penyelidikan.

Karzai bertemu dengan tetua suku dan keluarga korban yang tewas dan mengatakan bahwa delegasi yang diutusnya untuk menyelidiki pembantaian itu tidak mendapat kerjasama yang diharapkan dari pejabat-pejabat Amerika.

Karzai marah dan menyatakan korban sipil sudah berjatuhan begitu lama, dan ini harus menjadi yang terakhir. Menurut Karzai, perilaku ini tidak bisa lagi ditoleransi.

Pemimpin Afghanistan itu juga mempertanyakan klaim militer Amerika bahwa hanya satu orang penembak terlibat insiden itu. Penduduk desa mengatakan, lebih dari seorang tentara Amerika terlibat dalam serangan di distrik Panjwai itu, dimana korban tewas termasuk anak-anak.

Hari Kamis, Presiden Karzai bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Leon Panetta di Kabul dan menuntut agar pasukan NATO ditarik dari desa-desa Afghanistan dan dipindahkan ke markas mereka setelah penembakan itu. Kepada wartawan, Karzai mengatakan, tuntutan itu juga menjadi bahan percakapan melalui telepon dengan Presiden Amerika Barack Obama hari Jumat.

Gedung Putih mengatakan, kedua pemimpin itu membahas keprihatinan lama Karzai tentang serangan malam koalisi, salah satu kendala perjanjian kemitraan strategis Amerika-Afghanistan yang sekarang sedang dirundingkan.

Presiden Obama dan Presiden Karzai juga menegaskan komitmen bersama mereka mengenai rencana pengalihan keamanan di mana pasukan Afghanistan akan mengambil alih kendali penuh keamanan sebelum akhir tahun 2014. Presiden Obama juga mengucapkan selamat kepada pemimpin Afghanistan itu atas kelahiran putrinya.

XS
SM
MD
LG