Trump Berupaya Reformasi Sistem Perpajakan

  • Michael Bowman

Presiden AS Donald Trump bersama Menkeu Steven Mnuchin pada konferensi pers di Departemen Keuangan AS (21/4).

Gagal menggantikan Obamacare, Presiden Donald Trump kini berupaya mewujudkan salah satu janji kampanye lainnya yaitu mereformasi sistem perpajakan federal, yang oleh banyak warga Amerika dinilai sangat rumit, memberatkan dan menimbulkan masalah perekonomian.

Ribuan lembar halaman pedoman pajak federal Amerika kerap menjadi bahan lelucon, seperti yang disampaikan komedian Jimmy Fallon ini.

“Terima kasih, ini Hari Pajak, di mana perhitungan pendapatan dan pajak digabung dengan ancaman masuk penjara,” canda Fallon.

Presiden Trump menyimpulkan rencana pajaknya dengan cara ini.

“Akan ada pemangkasan yang sangat besar,” ujarnya.

Trump meminta menterinya yang menjadi ujung tombak reformasi pajak itu menjabarkan parameternya.

“Prioritas presiden adalah pemangkasan pajak kelas menengah. Sederhanya : warga Amerika pada umumnya harus bisa melaporkan pajak dalam satu lembar kartu pos berukuran besar. Pemangkasan pajak untuk bisnis adalah membuat pajak menjadi lebih kompetitif,” kata Menkeu Steven Mnuchin.

Pemimpin-pemimpin faksi Republik di Kongres mengatakan perubahan pajak seharusnya tidak meningkatkan defisit anggaran. Tetapi sejarah menunjukkan rencana pajak Partai Republik lebih berpihak pada orang kaya dan memperburuk keuangan Amerika, demikian ujar seorang anggota faksi Demokrat.

“Jika Trump ingin meloloskan pemangkasan pajak secara besar untuk membuat orang yang kaya menjadi semakin kaya dan membebankannya pada keluarga kelas menengah dan kaum pekerja, jawabannya adalah tidak,” ujar Joseph Kennedy III.

Meskipun mengurangi tingkat pajak, faksi Republik ingin mengurangi sejumlah keringanan pajak yang menguntungkan warga, mulai dari pemilik hipotik rumah hingga donor amal. Dan meskipun perubahan itu membuat kode pajak lebih sederhana, hal ini tetap akan memicu tentangan keras dari kelompok-kelompok kepentingan yang kuat.

Faksi Republik tidak bergeming, dan tetap menjanjikan keuntungan besar.

“Kita akan menyaksikan terciptanya jutaan lapangan kerja dengan gaji besar. Kita menyaksikan kenaikan upah di seluruh negara ini. Saya kira inilah yang diinginkan dan diharapkan warga Amerika agar kita upayakan,” kata Ted Cruz.

Tetapi beberapa ekonom memperingatkan potensi bahaya dari kebijakan ini. Termasuk kepala ekonomi IMF Maurice Obstfeld.

“Kebijakan fiskal Amerika tampaknya masih bersifat ekspansionis dalam beberapa tahun ke depan. Akibatnya akan terjadi inflasi dan laju kenaikan tingkat suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan,” ulas Obstfeld.

Terakhir kali pajak Amerika dirombak adalah 30 tahun yang lalu, namun waktu itu perpecahan diantara partai-partai di Amerika tidak separah sekarang. [em/jm]