Tautan-tautan Akses

Yoshi dan Peter Sudarso, Dua Ranger Biru Asal Indonesia Yang Menembus Perfilman Amerika


Kakak beradik sekaligus aktor Yoshi dan Peter Sudarso di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso).

Kakak beradik Yoshi dan Peter Sudarso berhasil menembus perfilman Amerika. Keduanya adalah aktor Indonesia pertama yang pernah memerankan karakter Ranger biru dalam serial televisi Power Rangers. Adalah impian mereka untuk bisa lebih sering bekerja sama dalam penggarapan film. Bagaimana komentarmu?

Hijrah ke Amerika sebelum genap berusia 10 tahun, kakak beradik Yoshi dan Peter Sudarso kini menekuni dunia akting di kota Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Mereka dikenal sebagai pemeran karakter Power Ranger Biru untuk serial televisi Power Rangers Dino Charge dan Power Rangers Super Ninja Steel yang rilis di musim tayang yang berbeda di Amerika.

Yoshi Sudarso, pria asal Indonesia, yang memerankan tokoh dalam serial TV Power Rangers berwarna biru (foto: courtesy).
Yoshi Sudarso, pria asal Indonesia, yang memerankan tokoh dalam serial TV Power Rangers berwarna biru (foto: courtesy).

“Kita berdua biru, tapi beda ya, karakternya beda dan juga ceritanya beda,” kata Yoshi Sudarso kepada VOA Indonesia belum lama ini.

Sebagai Power Ranger Biru, keduanya berkesempatan untuk tampil dalam satu layar kaca, ketika karakter yang diperankan Yoshi bertemu dengan karakter yang diperankan oleh Peter.

“Keren banget. Sebelumnya aku tidak menyadarinya, tapi kami adalah dua Power Ranger pertama yang berasal dari Indonesia. Jadi kami senang banget bisa mewakili Indonesia, negara asal kami,” ujar Yoshi.

Tidak hanya jago akting dalam film yang banyak menuntut aksi laga, keduanya juga memiliki pengalaman sebagai stuntman alias pemeran pengganti. Yoshi bahkan pernah menjadi pemeran pengganti untuk Peter dalam film pendek yang diangkat dari kisah nyata, berjudul “Justice for Vincent.”

Film ini berkisah tentang seorang pria keturunan China-Amerika bernama Vincent Chin, yang dianiaya oleh dua pekerja otomotif di kota Detroit tahun 1982, karena dikira keturunan Jepang, Pada waktu itu industri mobil Jepang tengah meningkat pesat di Amerika. Film ini berhasil tembus ke beragam festival film di Amerika.

“Teman saya adalah koordinator pemeran pengganti dan dia tahu kalau adik aku, Peter, bakalan jadi Vincent. Dia bilang,’saya harus mengajak kakaknya untuk menjadi pemeran pengganti,’” kata Yoshi.

Aktor Yoshi Sudarso (kiri) dan Peter Sudarso (kanan) di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)
Aktor Yoshi Sudarso (kiri) dan Peter Sudarso (kanan) di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)

Merupakan sebuah tantangan baru bagi Yoshi ketika dirinya mendapat tawaran untuk bermain dalam dua film Indonesia, “Milly dan Mamet” dan “Buffalo Boys.”

“Sebelumnya aku nggak ada mikir mau pergi ke Indonesia untuk film. Aku mau, tapi kesempatannya nggak ada. Jadi ketika mendapat tawaran dari Indonesia untuk ngelakuin film yang keren kayak gini, terus ada eksyenya, ada koboinya, adegannya semuanya keren banget, ya jadi tentu saja aku harus (ambil kesempatannya),” cerita Yoshi.

Ditambah lagi Yoshi merasa karakter Suwo yang ia perankan dalam film “Buffalo Boys” mirip dengan dirinya yang lahir di Indonesia namun tumbuh besar di Amerika, dan harus kembali ke Indonesia dengan pengetahuan kebudayaan dan bahasa Indonesia yang kurang. Walaupun begitu, tawaran tersebut langsung diterimanya tanpa ragu-ragu dan dirinya langsung bertolak ke Indonesia satu minggu setelah tawaran itu datang.

Aktor Yoshi Sudarso di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)
Aktor Yoshi Sudarso di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)

Proses penggarapan “Buffalo Boys diawali dengan persiapan di Indonesia selama satu bulan, termasuk berlatih untuk adegan laga. Awalnya, pihak produksi tidak tahu kalau Yoshi sudah sering melakukan adegan laga.

“The action gampang. Tapi it’s the language,” jelas Yoshi.

Namun, kendala bahasa tidak membuat Yoshi kecil hati dan menyerah.

“Bahasanya susah banget. Jadi tiap hari mungkin lima sampai enam hari seminggu aku bertemu dengan pelatih bahasa. Latihan delapan sampai 12 jam,” tambahnya.

Menurut cerita Yoshi, awalnya karakter Suwo ini tidak akan banyak berbicara dalam bahasa Indonesia. Tetapi kemudian ada perubahan saat syuting berlangsung.

“Ini adalah pertama kalinya buat aku, jadi sangat susah untuk menangkap dan mengingat bahasanya dengan cepat. Saya sering mendengat bahasanya dari orang tua saya sewaktu beranjak dewasa, tapi saya nggak pernah menggunakannya. Jadi ketika kata-kata itu keluar dari mulut saya rasanya aneh,” kenang Yoshi.

Siapa yang menyangka jika kerja keras Yoshi kemudian membuahkan dua nominasi di ajang Indonesian Movie Actors Awards 2019 untuk kategori pendatang baru terbaik dan pendatang baru terfavorit.

Aktor Yoshi Sudarso (kiri) dan Peter Sudarso (kanan) di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)
Aktor Yoshi Sudarso (kiri) dan Peter Sudarso (kanan) di Los Angeles, California (dok: Yoshi Sudarso)

Bisa bermain film di Indonesia juga merupakan kesempatan bagi Yoshi untuk mempelajari kembali kebudayaan Indonesia. Itulah yang membuatnya ingin juga mengajak sang adik untuk kembali ke Indonesia dan menekuni akting di sana, sekaligus merekatkan kembali ikatan mereka dengan Indonesia.

Saat ini keduanya memang ingin fokus di dunia akting. Perjuangan mereka dalam mengejar mimpi tak pernah lepas dari dukungan kepada satu sama lain.

“Tadinya aku nggak percaya kalau aku bisa akting, tapi (Peter) yang mendorong, dia yang kasih coaching­-nya, jadi dapat Power Rangers,” kata Yoshi.

Harapan mereka adalah untuk bisa terus bekerja sama dalam penggarapan film.

“Sangat senang bisa bekerja di Hollywood, tapi kalau kerja sama Koko juga jadinya lebih bagus,” papar Peter yang belum lama ini tampil di serial televisi “Fam” di Amerika.

“It’s been our dream. Itu mimpinya kita kalau mau ngelakukan sesuatu kayak gini, berduaan. Jadi enak banget kalau misalnya kita bisa pergi ke kerja, terus (Peter) udah ada di situ juga,” tambah Yoshi.

Rencananya dalam beberapa bulan ini, keduanya akan pergi ke Indonesia untuk bisa menekuni akting di sana, sekaligus merekatkan kembali ikatan mereka dengan Indonesia.

“Saya ingin melihat suasana di (Indonesia). (Yoshi) kembali dari Indonesia dan aksennya sangat bagus, bisa ngomong pakai bahasa Indonesia sekarang. Saya masih nggak bisa terlalu bagus,” ujar Peter.

“Saya ingin kembali ke Indonesia untuk mempelajari hal yang sama (seperti Yoshi), mengenal Indonesia setelah dewasa, karena sangat berbeda ketika mengenalnya saat masih kecil,” pungkasnya. (di)

XS
SM
MD
LG