Tautan-tautan Akses

WHO Rekomendasikan Obat Artitris Untuk Kurangi Risiko Kematian COVID-19


Petugas medis membawa pasien yang diduga terinfeksi virus corona dengan tandu di sebuah rumah sakit di Kommunarka, luar Moskow, Rusia, Sabtu, 26 Juni 2021. (Foto: AP)
Petugas medis membawa pasien yang diduga terinfeksi virus corona dengan tandu di sebuah rumah sakit di Kommunarka, luar Moskow, Rusia, Sabtu, 26 Juni 2021. (Foto: AP)

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Selasa (6/7), merekomendasikan penggunaan obat radang sendi Actemra dari Roche dan Kevzara dari Sanofi yang mengandung kortikosteroid untuk pasien COVID-19. Rekomendasi itu diberikan setelah data dari sekitar 11.000 pasien menunjukkan obat itu mengurangi risiko kematian.

Sebuah kelompok WHO yang mengevaluasi pengobatan tersebut menyimpulkan merawat pasien COVID yang mengalami sakit parah dan kritis dengan yang disebut antagonis interleukin-6 yang menghalangi peradangan, bisa "mengurangi risiko kematian dan kebutuhan akan penggunaan ventilator."

Mengutip analisis WHO, Reuters melaporkan bahwa risiko kematian pasien yang mendapatkan salah satu obat radang sendi dengan kortikosteroid, seperti deksametason, dalam 28 hari adalah 21%, dibandingkan dengan asumsi risiko 25% di antara pasien yang mendapat perawatan standar. Untuk setiap 100 pasien seperti itu, kata WHO, empat lagi akan bertahan.

Selain itu, risiko kondisi pasien berkembang menjadi membutuhkan ventilator atau kematian adalah 26% bagi mereka yang mendapatkan obat-obatan dan kortikosteroid, dibandingkan dengan 33% pada mereka yang mendapatkan perawatan standar. WHO mengatakan bahwa hal itu menunjukkan setiap 100 pasien seperti itu, tujuh lagi akan bertahan hidup tanpa ventilator.

"Kami telah memperbarui panduan perawatan perawatan klinis kami untuk mencerminkan perkembangan terbaru ini," kata pejabat Darurat Kesehatan WHO, Janet Diaz.

Analisis ini mencakup 10.930 pasien, di antaranya 6.449 mendapat salah satu obat dan 4.481 mendapat perawatan standar atau plasebo. Studi tersebut dilakukan oleh King's College London, University of Bristol, University College London dan Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust. Hasil studi diterbitkan pada Selasa (6/7) di Journal of American Medical Association.

Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) pekan lalu mengeluarkan persetujuan penggunaan darurat untuk Actemra untuk COVID-19. Persetujuan diberikan setelah penggunaan obat-obatan itu di luar indikasi (off-label) saat pandemi mendorong penjualan sekitar sepertiga menjadi sekitar $3 miliar pada 2020.

Sanofi melaporkan penjualan Kevzara naik 30% tahun lalu. [ah/au/ft]

XS
SM
MD
LG