Tautan-tautan Akses

WHO Pertimbangkan Semua Hipotesis terkait Asal-Usul COVID-19


Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss (foto: dok).

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, meskipun ada bocoran laporan mengenai hasil penyelidikan yang disponsori badan tersebut terkait asal-usul virus penyebab COVID-19, semua teori tetap dibahas dan akan dipelajari lebih lanjut.

Kantor berita Associated Press hari Minggu (28/3) melaporkan bahwa draft salinan studi bersama WHO-China tentang asal-usul COVID-19 menyimpulkan bahwa "penularan virus dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain adalah skenario yang paling mungkin" menjadi penyebab munculnya virus, dan investigasi bersama menganggap kebocoran laboratorium dari virus ke publik "sangat tidak mungkin".

Selama konferensi pers dari Jenewa, pimpinan WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengakui telah menerima laporan tersebut pada akhir pekan dan akan secara resmi dipresentasikan, Selasa oleh para pakar pada misi itu. Ghebreyesus menambahkan, Semua hipotesis dipertimbangkan dan menjamin studi lengkap dan lebih lanjut.

WHO mengirim tim internasional ke China awal tahun ini untuk menyelidiki asal-usul virus. Tetapi para pengecam studi itu mengatakan studi itu terbatas hanya pada apa yang diizinkan China disaksikan tim.

Jumlah Korban Tewas

Laporan itu muncul sementara jumlah kasus virus corona global, Senin mencapai sekurangnya 127.289.043, menurut Pusat Sumber Daya Virus Corona Universitas Johns Hopkins. Lebih dari 2.785.682 orang telah meninggal akibat COVID-19 di seluruh dunia.

Meksiko telah merevisi angka kematian akibat virus korona, meningkatkan penghitungan sebesar 60%, yang menjadikannya salah satu dari tiga negara teratas dengan jumlah kematian tertinggi. Statistik baru ini mengejutkan karena populasi Meksiko yang berjumlah 126 juta jauh di bawah populasi AS dan Brazil.

Analis kesehatan masyarakat telah memperingatkan jumlah kematian di Meksiko kemungkinan lebih tinggi dari angka sebelumnya yang dilaporkan karena sistem layanan kesehatan negara itu kewalahan akibat pandemi.

Situasi itu mengakibatkan hanya sedikit tempat tidur perawatan intensif yang tersedia yang menyebabkan banyak orang meninggal di rumah yang kematiannya tidak tercatat dalam perhitungan COVID. Angka-angka baru itu menyusul peninjauan pemerintah pada sertifikat kematian.

Kementerian luar negeri Meksiko, Minggu malam mengatakan negara itu menerima 1,5 juta dosis vaksin COVID AstraZeneca. Vaksin itu adalah bagian dari 2,7 juta dosis yang dijanjikan AS kepada negara tetangganya itu dalam perjanjian yang dicapai awal bulan ini antara kedua negara. Vaksin AstraZeneca telah disetujui untuk digunakan di Meksiko tetapi belum disetujui untuk digunakan di A.S., yang menimbun vaksin.

Tingkat Infeksi Harian AS Masih Tinggi

Sementara kampanye vaksinasi Amerika melawan COVID-19 sedang berlangsung, tingkat infeksi harian tetap tinggi.

Anthony Fauci, penasihat utama Gedung Putih untuk pandemi, Minggu menyatakan keprihatinannya bahwa situasi ini bisa terjadi karena negara bagian terlalu dini mencabut beberapa pembatasan - terutama sekitar Libur Musim Semi.

"Saya kira ini terlalu dini," kata Fauci kepada CBS yang berbicara tentang beberapa negara bagian mencabut pembatasan ketika tingkat vaksinasi meningkat. Ia memperingatkan ada risiko terjadi gelombang epidemi ketiga.

Menjawab pertanyaan wartawan hari Minggu, Presiden AS Joe Biden mengatakan menduga tingkat infeksi covid sekarang konstan dan tidak beranjak, serta tidak menurun, karena orang-orang kurang mewaspadai dan mematuhi anjuran pencegahan. [my/jm]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG