Tautan-tautan Akses

Warga Taiwan Pertanyakan Rencana Pertemuan Bersejarah dengan Presiden China


Aktivis Taiwan mengangkat spanduk bergambar wajah yang Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang dikombinasikan dengan wajah Presiden China Xi Jinping, dalam aksi protes di Taipei, Taiwan (6/11).
Aktivis Taiwan mengangkat spanduk bergambar wajah yang Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang dikombinasikan dengan wajah Presiden China Xi Jinping, dalam aksi protes di Taipei, Taiwan (6/11).

Sebagian warga Taiwan mempertanyakan mengapa Presiden Ma Ying-jeou ingin bertemu dengan Presiden China hanya tujuh bulan sebelum dia mengakhiri masa jabatannya.

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou akan bertemu dengan presiden China Sabtu ini dalam pertemuan tingkat tertinggi yang pernah terjadi antara kedua negara yang lama bersaing itu. Tetapi banyak warga Taiwan telah menyatakan kebingungan mengenai pilihan waktu dan keprihatinan tentang hasil pertemuan itu.

Kantor kepresidenan Taiwan mengumumkan Selasa lalu bahwa setelah perencanaan secara diam-diam selama dua tahun, Presiden Ma Ying-jeou akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Sebagian warga Taiwan mengkhawatirkan hasil pertemuan itu karena pengumuman tersebut disampaikan terlalu terlambat untuk perdebatan publik. Mereka juga mempertanyakan mengapa Presiden Ma ingin bertemu dengan Presiden China hanya tujuh bulan sebelum dia mengakhiri masa jabatannya karena batasan waktu.

Chu Cheng-tai, 56 tahun, yang menonton demonstrasi kecil di sebuah jalan di Taipei hari Kamis, bertanya-tanya apakah kedua pemimpin itu akan menandatangani suatu kesepakatan rahasia.

Dia mengatakan pertemuan kedua presiden itu tanpa persetujuan warga Taiwan. Menurutnya, Presiden Ma akan bertemu Presiden Xi sesuai dengan keputusan mereka sendiri. Chu Cheng-tai juga khawatir bahwa presiden Taiwan itu mungkin akan menggunakan posisinya untuk menyetujui sesuatu secara pribadi atau membuat janji-janji dengan China, dan sebagian warga bahkan khawatir ia mungkin akan menjual Taiwan.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya sejak tahun 1940-an dan mengancam untuk merebut paksa pulau itu, jika perlu, sebuah langkah yang akan mengakhiri pemerintahan sendiri secara demokratis selama beberapa dekade. Presiden Ma dan para pejabat China mengesampingkan perbedaan politik mereka pada tahun 2008 untuk memulai kontak antar pejabat pemerintah tingkat rendah. Sejauh ini kedua negara telah menandatangani 23 perjanjian, sebagian besar mencakup perdagangan, transportasi lintas selat dan investasi.

Sebagian warga Taiwan merasa gembira dengan makna sejarah pertemuan puncak itu, yang sebelumnya belum pernah berhasil dilakukan oleh pemimpin dari kedua pihak karena hubungan yang dingin. Mereka menyambut pencabutan berbagai pembatasan oleh China pada hubungan luar negeri Taiwan atau tanda-tanda perdamaian abadi tanpa mengorbankan otonomi pulau itu.

Tetapi mereka juga bertanya-tanya mengapa Presiden Ma tidak bertemu dengan pemimpin China itu ketika ia masih memiliki masa jabatan lebih lama sehingga ia bisa menindaklanjuti iktikad baik apapun yang dilakukannya dengan China. Jajak pendapat menunjukkan Partai Nasionalis yang berkuasa kini berada di belakang kandidat oposisi yang anti-China menjelang pemilu Januari, dan kesenjangan itu telah memicu kekhawatiran bahwa kedua presiden akan berusaha mempengaruhi pemilih.

Para analis mengatakan pemilih akan membelok ke arah kandidat oposisi jika mereka melihat Presiden Ma terlalu dekat dengan China atau jika Presiden Xi menekan Taiwan agar bergerak maju menuju unifikasi. Sebagian aktivis merencanakan demonstrasi hari Sabtu ini di Taipei.

Presiden Ma mengatakan dalam konferensi pers hari Kamis ia tidak akan membuat kesepakatan atau janji, tapi berharap pertemuan puncak itu bisa menjaga hubungan yang stabil. Para pejabat Taiwan mengatakan kedua presiden itu akan memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat yang setara, yang merupakan hal yang peka karena selama ini China menganggap pemerintah Taiwan tidak sah dan mengekang hubungan luar negerinya. Presiden Ma juga menyarankan agar KTT China-Taiwan menjadi peristiwa yang diselenggarakan secara teratur. [lt/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG