Tautan-tautan Akses

AS

Warga Amerika Tidak Percaya, Frustrasi pada Pemerintah


Para aktivis imigrasi berunjuk rasa di depan kantor Mahkamah Agung AS, di Washington, Selasa, 23 April 2019, saat para hakim menggelar dengar pendapat terkait rencana pemerintahan Trump untuk memberikan pertanyaan soal kewarganegaraan pada sensus 2020. (Foto: dok).

Kebanyakan warga Amerika berpendapat bahwa tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap pemerintah dan orang lain menghambat upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah yang terus menerus muncul dan meluas, mulai dari imigrasi dan rasisme hingga layanan kesehatan, pajak dan hak pilih. Pusat Riset Pew merilis hasil jajak pendapat lembaga itu hari Senin (23/7). Jajak tersebut dilakukan mulai November hingga Desember 2018 dan melibatkan lebih dari 10 ribu orang dewasa.

“Banyak orang yang tidak lagi berpandangan bahwa pemerintah federal dapat benar-benar menjadi pembawa kebaikan atau mengubah kehidupan mereka,” sebut Pew mengutip seorang partisipan survei tersebut. “Apatisme dan sikap berlepas diri semacam ini akan menyebabkan pemerintah yang bahkan lebih buruk dan kurang mewakili rakyat.”

Hampir 70 persen warga Amerika menyatakan pemerintah federal sengaja menahan informasi yang seharusnya dapat disampaikan dengan aman, dan 64 persen menyatakan pada waktu para pejabat berbicara, sukar mengetahui mana yang sebenarnya dan mana yang bukan.

Kepercayaan publik terhadap pemerintah, yang merosot pada tahun 1960-an dan 1970-an, pulih pada tahun 1980-an dan awal 2000-an, sebut jajak pendapat Pew pada April lalu.

Sekarang ini, pada angka 17 persen, tingkat kepercayaan warga Amerika terhadap pemerintah hampir mencapai titik terendah dalam sejarah.

Hasil Jajak Pendapat Pusat Riset Pew: Tingkat Kepercayaan Warga AS Terhadap Pemerintah. (Photo courtesy: PEW)
Hasil Jajak Pendapat Pusat Riset Pew: Tingkat Kepercayaan Warga AS Terhadap Pemerintah. (Photo courtesy: PEW)

Mayoritas juga berpendapat bahwa ketidakpercayaan terhadap pemerintah dapat dibenarkan, dengan 75 persen responden menjawab bahwa pemerintah tidak bisa mendapatkan tingkat kepercayaan yang lebih besar daripada yang sekarang.

Responden dari partai Republik atau condong pada partai Republik lebih cenderung mengaitkan ketidakpercayaan itu pada korupsi dan kinerja buruk pemerintah, sedang rekan-rekan mereka dari partai Demokrat lebih banyak mengaitkannya dengan kinerja Presiden Donald Trump.

Tingkat kepercayaan terhadap orang lain juga merosot, tetapi paling menonjol sewaktu dikaitkan dengan masalah politik. Meskipun mayoritas partisipan percaya orang lain “melakukan hal yang benar,” seperti mematuhi hukum, ini berubah sewaktu menghadapi hasil pemilu, menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tepat, mempertimbangkan kembali pandangan sewaktu mengetahui informasi baru dan sejumlah situasi lainnya.

Kepercayaan pada pihak lain berbeda berdasarkan ras, usia, pendapatan dan pendidikan. Partisipan lebih tua, lebih kaya dan lebih berpendidikan memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap orang lain. Partisipan kulit putih memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap pihak lain, 27 persen, lebih dari dua kali lipat di kalangan responden kulit hitam dan Hispanik.

“Orang Amerika yang mungkin merasa kurang beruntung lebih kecil kemungkinannya untuk mengungkapkan rasa percayanya secara umum kepada orang lain,” catat Pew.

Secara menyolok, pendukung Republik dan Demokrat memiliki tingkat kepercayaan pada orang lain yang sama, tetapi memiliki pandangan yang berbeda dalam hal pemerintah, dengan pendukung Republik yang menyatakan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG