Tautan-tautan Akses

Wabah pes melanda negara pulau Madagaskar setiap tahun sekitar waktu ini. Tapi dokter mengatakan wabah kali ini sangat mengkhawatirkan, mengingat lokasinya yang terpencil dan tidak ada petugas medis untuk mengontrolnya.

Bahkan untuk Madagaskar, wabah pes kali ini luar biasa. Penyakit yang dibawa tikus dan kutu ini melanda negara pulau itu setiap tahun dari sekitar Desember hingga April.

Tapi Dr. Eric Bertherat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan wabah kali ini muncul di daerah baru.

Di daerah pegunungan Befotaka di tenggara Madagaskar terjadi 68 kasus dan 27 kematian sejak akhir tahun lalu, menurut perkiraan WHO. Bertherat mengatakan ada juga laporan yang belum dikonfirmasi dari daerah kedua di dekatnya, sekitar 30 kasus.

Berbicara kepada VOA dari Jenewa, setelah kembali dari kunjungan ke Madagaskar, Bertherat mengatakan wabah itu terjadi di tempat yang belum pernah terjangkit sejak tahun 1950.

"Dan kekhususan wabah kali ini, bukan penyakitnya sendiri, tetapi kenyataan bahwa hal itu terjadi di tempat yang sangat jauh dan tidak aman serta sangat sulit dijangkau. Dan itulah masalah utamanya, untuk sekarang ini tidak ada orang untuk mengontrol wabah ini," paparnya.

Menurut Bertherat, wabah itu tidak mungkin sepenuhnya diberantas, dan untuk melakukannya berarti kita harus membunuh setiap binatang liar pembawa wabah. Tentu ini tugas yang mustahil.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat juga pernah mengalami kasus pes. Sebanyak 16 kasus dilaporkan pada tahun 2015, empat di antaranya berakhir dengan kematian.

Tapi Bertherat mengatakan Madagaskar sangat rentan karena kemiskinan yang merajalela. Penyebaran pes dibantu oleh sanitasi yang buruk dan kurangnya perawatan kesehatan.

Kata Bertherat, penyakit ini juga menyebar di Madagaskar sementara petani yang mencari nafkah terus merambah habitat liar.

"Hipotesis kami adalah bahwa wabah pes ini sebenarnya kembali muncul karena perluasan fokus alami migrasi tikus lebih lanjut dan juga fakta telah terjadi lebih banyak kontak antara penduduk lokal dan kawasan hutan," tambahnya.

Pes dapat dengan cepat didiagnosa dan mudah diobati dengan antibiotik yang umum. Para pejabat kesehatan di Madagaskar mendesak warga untuk segera berobat jika mereka tinggal di daerah endemik pes dan mulai mengalami gejala seperti flu.

Korban juga dapat menderita pembengkakan kelenjar getah bening dan gangren pada kaki. Tanpa antibiotik yang menyelamatkan jiwa, sekitar dua-pertiga dari mereka yang terinfeksi akan mati, demikian menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. [as/lt]

XS
SM
MD
LG