Tautan-tautan Akses

Vaksinasi Ibu Hamil Kurangi Infeksi Batuk Rejan Pada Bayi


Seorang perawat sedang menyiapkan suntikan vaksinasi. (Foto:Dok)

Ibu-ibu yang menerima vaksinasi batuk rejan pada masa kehamilan, bisa mencegah 9 dari 10 kasus penularan penyakit pernafasan fatal pada bayi mereka, menurut sebuah penelitian di Amerika.

Secara keseluruhan, para peneliti memperkirakan bahwa pemberian booster vaksinasi DPaT pada saat kehamilan bisa mencegah 78 kasus batuk rejan pada bayi untuk setiap 100 ibu yang menerima vaksinasi. Vaksinasi DPaT diberikan untuk pencegahan penyakit tetanus, difteria dan batuk rejan. Tingkat keefektifan vaksinasi mencapai 90 persen, bila para peneliti hanya melihat kasus-kasus berat yang membutuhkan perawatan rumah sakit.

Bakteri Bordetella pertussis menyebabkan batuk rejan. Nama julukan batuk rejan diambil dari suara pasien yang terengah-engah karena serangan batuk berat itu. Batuk rejan atau pertusis sangat menular dan gampang menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Sekitar setengah dari jumlah bayi berumur dibawah 1 tahun yang terinfeksi batuk pertusis, harus menjalani perawatan rumah sakit untuk komplikasi serius seperti radang paru-paru (pnemonia) atau kelainan otak.

Untuk kajian ini, para peneliti meneliti data dari 251 bayi yang terinfeksi batuk rejan sebelum berusia 2 bulan dan 537 bayi baru lahir yang tidak terkena batuk rejan di kelompok lain sebagai pembanding.

Secara keseluruhan, para peneliti memperkirakan bahwa pemberian vaksinasi booster DPaT pada saat kehamilan bisa mencegah 78 kasus batuk rejan pada bayi untuk setiap 100 ibu yang menerima vaksinasi. Vaksinasi Tdap adalah untuk pencegahan penyakit tetanus, difteria dan batuk rejan. Tingkat keefektifan vaksinasi mencapai 90 persen, bila para peneliti hanya melihat kasus-kasus berat yang membutuhkan perawatan rumah sakit.

“Evaluasi kami memperkuat bukti bahwa pemberian vaksinasi di masa kehamilan terbukti efektif melindungi bayi dari infeksi batuk rejan di bulan-bulan awal kehidupan mereka, sebuah periode di mana bayi lebih rentan terkena infeksi batuk rejan berat atau bahkan bisa mematikan, kata Tami Skoff, penulis utama penelitian itu, dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika atau CDC di Atlanta.

Petugas Kesehatan di banyak negara merekomendasikan vaksinasi pada saat kehamilan, selain 3 kali pemberian suntikan vaksinasi untuk bayi baru lahir yang dimulai antara umur 6 minggu hingga 3 bulan. Beberapa negara merekomendasikan pemberian vaksinasi kepada ibu setiap kali masa kehamilan karena keefektifan vaksinasi berkurang seiring dengan waktu.

Pada awal 2013, CDC merekomendasikan semua ibu hamil mendapatkan vaksinasi DPaT,walaupun mereka sudah menerima vaksinasi yang sama sebelumnya.

Penelitian tersebut meneliti data yang dikumpulkan dari tahun 2011 hingga 2014 di California, Connecticut, Minnesota, New Mexico, New York and Oregon. Para peneliti membandingkan catatan bayi –bayi yang terkena batuk rejan dengan catatan bayi-bayi yang lahir di rumah sakit yang sama, tapi tidak terinfeksi batuk rejan.

Sebagian besar ibu hamil yang divaksinasi, menerima suntikan vaksin di trisemester ketiga kehamilannya dan vaksin yang diberikan 78 persen efektif mencegah batuk rejan pada bayi mereka, menurut laporan-laporan penelitian dari Penyakit Klinis Menular.

Bila vaksinasi dilakukan di trisemester kedua, tingkat keefektifan vaksin turun menjadi 64 persen.

Bila ibu hamil mendapatkan suntikan DPaT sebelum kehamilan, vaksinasi memiliki tingkat keefektifan hanya 51 persen untuk mencegan batuk rejan pada bayi baru lahir, menurut temuan penelitian tersebut.

Penelitian ini memiliki satu kekurangan yaitu sebagian besar pasien yang divaksinasi menerima suntikan pada saat yang bersamaan. Hal ini membuat tidak mungkin untuk menentukan perbedaan penting mengenai keefektikfan vaksin tersebut berdasarkan pada usia kehamilan berapa vaksinasi tersebut diberikan.

Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan vaksinasi pada trisemester ketiga sangat efektif mencegah infeksi-infeksi pada bayi-bayi yang masih terlalu kecil untuk menerima vaksinasi DpaT, kata Annette Regan, peneliti kesehatan masyarakat pada Universitas Curtin di Australia yang tidak terlibah dalam kajian tersebut.

“Kita tahu bahwa sebagian besar perempuan mengatakan bahwa mereka mau menerima suntikan vaksinasi batuk rejan, bila petugas kesehatan merekomendasikan kepada mereka. Namun sayangnya, kita tahu bahwa petugas kesehatan tidak selalu merekomendasikan vaksinasi kepada pasien mereka,” kata Regan melalui email.

“Hasil-hasil penelitian ini menekankan, mengapa penting bagi petugas-petugas kesehatan untuk merekomendasikan vaksinasi batuk rejan kepada ibu hamil,” kata Regan menambahkan. [fw]

XS
SM
MD
LG