Tautan-tautan Akses

AS

Vaksin Virus Corona Tidak akan Tersedia Sebelum Pemilu AS 


Seorang perawat mempersiapkan suntikan kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Institut Kesehatan Nasional dan Moderna Inc., di Binghamton, New York, 27 Juli 2020.

Prediksi Presiden Donald Trump bahwa vaksin virus corona akan siap sebelum Hari Pemilihan pada 3 November, tidak akan terpenuhi.

Pada Jumat (16/10), raksasa perusahaan farmasi Pfizer mengumumkan tidak akan meminta izin darurat untuk merilis vaksin virus corona hingga akhir November.

Dua calon vaksin lainnya yang diunggulkan masih dalam penangguhan. Yang keempat kemungkinan tidak akan membuahkan hasil sampai akhir tahun.

Trump berulang kali mengatakan vaksin akan tersedia bagi banyak orang sebelum pemilu, sebagai bagian dari "Operation Warp Speed" yang sangat dibanggakan pemerintah, untuk mempercepat pengembangan vaksin. Para ilmuwan terkemuka dari dalam dan luar pemerintahan sejak lama mengatakan tenggat itu tidak realistis.

Awal bulan ini, Trump mengakui hal tersebut dan menyalahkan politik, tanpa penjelasan lebih jauh.

"Saya kira seharusnya kita memperoleh vaksin sebelum pemilu," kata Trump dalam sebuah video di Twitter tak lama setelah di izinkan keluar dari rumah sakit setelah mendapat perawatan Covid-19.

"Namun sejujurnya, politik terlibat, dan tidak apa, mereka ingin memainkan permainan mereka. Akan ada setelah pemilu."

Dalam pernyataan pada Jumat (16/10), CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan perusahaan itu pada akhir Oktober mungkin sudah mengetahui apakah vaksinnya berhasil. Namun itu tidak akan mencapai tonggak keamanannya sampai akhir November.

"Keselamatan adalah, dan akan tetap, menjadi prioritas nomor satu kami," tulis Bourla.

Vaksin Pfizer adalah salah satu dari beberapa pendekatan terbaik dalam imunisasi. Daripada menyuntik pasien dengan virus mati atau yang sudah lemah atau bagian dari kuman, vaksin tersebut berisi instruksi genetik untuk sebagian virus corona. Tubuh pasien menerima instruksi itu, yang dikenal sebagai mRNA, dan menghasilkan fragmen virus. Sistem kekebalan merespons fragmen tersebut, mempersiapkan tubuh untuk melawan virus yang sesungguhnya.

Pfizer bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, yang menghasilkan instruksi genetik yang sedang diuji dalam vaksin itu. Hampir 40.000 pasien sejauh ini ikut dalam uji klinis.

Sebelum Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) mempertimbangkan otorisasi penggunaan darurat, perusahaan perlu memantau setidaknya separuh pasien selama dua bulan setelah dosis terakhir mereka untuk meengawasi apakah ada efek samping.

"Kami memperkirakan kami akan mencapai tonggak ini pada minggu ketiga November," tulis Bourla.

Vaksin perintis lain yang menggunakan teknologi mRNA, dari perusahaan biotek Moderna, juga mengharapkan hasilnya pada akhir November.

Sementara itu, dua uji coba vaksin lainnya ditangguhkan karena berpotensi menimbulkan masalah keamanan. AstraZeneca mengatakan pihaknya untuk sementara menunda uji coba setelah setidaknya satu peserta menderita "penyakit yang tidak bisa dijelaskan." [my/pp]

XS
SM
MD
LG