Tautan-tautan Akses

Uskup Pimpin Langsung Misa di Gereja St.Lidwina dan Bertemu Buya Syafii Maarif


Suasana di dalam gereja ST Lidwina Bedog di desa Trihanggo, Sleman menjelang Misi Syukur yang dipimpin Uskup Agung Semarang. (Foto: VOA/Munarsih)

Sekitar seminggu setelah peristiwa penyerangan di gereja St.Lidwina Bedog di desa Trihanggo, Sleman, Yogyakarta 11 Februari, Uskup Agung Semarang Mgr.Robertus Rubiyatmoko Senin malam (19/2) memimpin langsung Misa Syukur. Sebelumnya ia juga melakukan pertemuan dengan tokoh muslim Buya Syafii Maarif.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko Senin malam (19/2/18) memimpin langsung Misa Syukur di gereja St Lidwina, untuk menguatkan hati dan iman umat pasca peristiwa kekerasan sepekan sebelumnya.

“Misa ini kita adakan untuk menyikapi dalam arti meletakkan peristiwa yang tidak menyenangkan ini dalam konteks sebagai oranng beriman. Bagaimanapun kita masih bisa bersyukur kepada Tuhan dan kami ingin umat Katolik dan masyarakat yang mungkin masih mempunyai trauma bisa terbantu, tujuannya membantu iman umat agar diteguhkan,” kata Rubiyatmoko.

Sekitar seribu jemaat menghadiri misa itu, lebih dari tiga kali lipat dibanding misa yang biasanya diikuti sekitar 300 orang. Ada 15 konselebran yang mendampingi Uskup, termasuk Romo Kark Edmund Prier yang memberikan kesaksian atas insiden itu. Romo Prier adalah satu dari 6 korban luka di kepala pada penyerangan 11 Februari.

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyapa Romo Karl Edmund Prier (tengah) korban luka di kepala akibat penyerangan gereja St.Lidwina, Minggu 11/2 lalu. (Foto: VOA/Munarsih)
Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyapa Romo Karl Edmund Prier (tengah) korban luka di kepala akibat penyerangan gereja St.Lidwina, Minggu 11/2 lalu. (Foto: VOA/Munarsih)

“Saya tenang, dan saya tidak menunjukkan ketakutan, saya juga tidak marah kepada dia, saya merasa menang karena dia emosi, sedangkan saya tidak emosi,” ujar Prier.

Sebelum memimpin misa syukur, Mgr Robertus Rubiyatmoko mengadakan pertemuan dengan tokoh muslim Syafii Maarif di rumahnya yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari gereja.

“Kami berterima kasih karena justru kehadirannya (ke gereja setelah penyerangan) cepat tanggap ternyata sungguh menenangkan semuanya sehingga lalu masyarakat semuanya terkondisikan tidak menjadi emosional, tidak terprovokasi. Sebaliknya, masyarakat kita menjadi tenang, saling menopang satu sama lain sehingga akhirnya muncul ersaudaraan dan solidaritas yang semakin kuat,” tambah Rubiyatmoko.

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko Senin petang (19/2) bertemu tokoh Muslim Syafii Maarif yang mendatangi gereja segera setelah terjadi penyerangan Minggu 11/2 lalu. (Foto: VOA/Munarsih)
Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko Senin petang (19/2) bertemu tokoh Muslim Syafii Maarif yang mendatangi gereja segera setelah terjadi penyerangan Minggu 11/2 lalu. (Foto: VOA/Munarsih)

Sementara itu, Syafii Maarif yang menemui Suliono, pelaku serangan terhadap gereja itu, mengatakan laki-laki itu memiliki penafsiran atas agama berdasarkan agenda politik yang tidak jelas.

“Orang ini memang bagian dari kelompok yang menganut teologi kebenaran tunggal. Suliono ini kan banyak hafal ayat dan bacaannya (Al Quran) bagus. Tetapi dia tafsirkan sendiri berdasarkan agenda politik yang tidak jelas; benci sama satu golongan. Nah, menurut agama yang dia fahami, golongan lain ini akan menganggu tegaknya syariat Islam. Tetapi kalau sudah menganggu keamanan publik ya hukum harus ditegakkan. Tetapi pendekatan lunak perlu juga,” kata Maarif.

Yosephine Nurasih, salah seorang jemaat yang menyaksikan kekerasan 11 Februari dan ikut menghadiri Misa Syukur Senin malam mengatakan kini ia merasa lega dan lebih kuat.

“Rasanya sudah menjadi seakin lega. Kami juga bersyukur setelah melihat terutama mereka yang menjadi korban luka ternyata justru tegar. Justru itulah yang membangkitkan kita. Kalau saya sendiri ya bangkit, menjadi tenang dan iman kita menjadi lebih kuat,” tukas Nurasih.

Uskup Pimpin Langsung Misa di Gereja St.Lidwina dan Bertemu Buya Syafii Maarif
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:04 0:00

Suki Ratnasari, anggota tim kuasa hukum yang dibentuk Keuskupan Semarang untuk mengawal proses hukum terhadap pelaku kekerasan mengatakan telah berkoordinasi dengan Densus 88 lewat Polres Sleman.

“Kemarin yang disepakati adalah dari Densus 88 akan ke Polres SLeman, lalu Polres SLeman ke kami begitu juga sebaliknya. Untuk sata ini prosesnya masih berlangsung untuk penyelidikan kasus ini. Jadi kalau nanti prosesnya sudah meningkat statusnya ke penyidikan nanti kami akan koordinasi secara langsung,” tutur Suki.

Ditambahkannya, Tim Penyembuhan Trauma yang terdiri sejumlah psikolog telah memberikan layanan kepada 127 umat yang menjadi trauma akibat kekerasan yang terjadi 11 Februari lalu. [ms/em]

XS
SM
MD
LG