Tautan-tautan Akses

AS

Trump Ulangi Seruan untuk Persenjatai Sebagian Guru


Presiden Trump memberikan pidato pada pertemuan kelompok konservatif di dekat Washington DC hari Jumat (23/2).

Presiden Amerika Donald Trump mengulangi seruannya untuk mempersenjatai sebagian guru pasca penembakan di sebuah SMA di Parkland, Florida, baru-baru ini. Ini adalah seruan terbaru dalam serangkaian upaya Trump untuk mengatasi dampak penembakan massal di sekolah dan menjawab tuntutan warga bagi sebuah tindakan pencegahan agar insiden serupa tidak terulang lagi.

Presiden Trump disambut hangat dalam pertemuan kelompok konservatif di dekat Washington DC hari Jumat (23/2) dan berupaya membangun dukungan untuk gagasannya yang kontroversial, yakni mempersenjatai sebagian guru guna mencegah penembakan di sekolah pada masa depan.

“Saya berniat menghentikan tragedi seperti itu, dan saya tahu ini agak kontroversial, tetapi sejak saya memulai gagasan ini dua hari lalu, banyak orang yang semula menentangnya, kini menyetujuinya. Mereka mencintai para siswa di sekolah dan mereka tidak ingin siswa-siswa ini luka atau tewas dibunuh,” ujar Trump.

Pasca penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, 14 Februari lalu, Trump mendapat tekanan untuk segera bertindak, paling tidak seperti yang dilakukan para pendahulunya ketika menghadapi tragedi nasional serupa.

“Malam ini saya hanya bisa mengatakan, doa seluruh warga Amerika bersama Anda,” kata Bill Clinton.

Presiden Bill Clinton berbicara pasca penembakan massal di SMA Columbine, di Colorado, pada 20 April 1999, yang menewaskan 12 siswa dan 1 guru, serta melukai 21 orang lainnya ketika mereka berupaya menyelamatkan diri.

Sementara Presiden George Walker Bush mencoba menenangkan dan menyampaikan doa pasca pembantaian di Virginia Tech di Blacksburg, Virginia, pada 16 April 2007 yang menewaskan 32 orang dan melukai 17 lainnya.

Presiden Barack Obama secara emosional berbicara pada warga Amerika pasca penembakan massal di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, pada 14 Desember 2012, yang menewaskan 20 siswa berusia 5-10 tahun dan enam guru.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini kita telah mengalami terlalu banyak tragedi seperti ini. Sebagian besar yang meninggal hari ini adalah anak-anak… anak-anak kecil yang luar biasa yang berusia antara lima dan sepuluh tahun,” kata Obama.

Pekan ini pasca penembakan di Florida itu, Presiden Trump mengundang dan menyimak pernyataan para siswa dan orang tua, termasuk seorang siswa yang berhasil menyelamatkan diri – Samuel Zeif.

“Saya kehilangan seorang sahabat baik yang sebenarnya sudah seperti saudara saya sendiri, dan saya disini ingin menyampaikan hal-hal yang tidak bisa disampaikannya,” tutur Zeif.

Tim Malloy dari Quinnipiac Polling mengatakan beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan lonjakan dukungan bagi aturan tambahan pembatasan senjata api.

“Jika Anda menganggap warga Amerika tidak peduli atau tidak tergerak dengan penembakan-penembakan ini, Anda salah! Dalam dua tahun terakhir ini, kami melihat ada lonjakan 20% bagi pengendalian senjata api yang lebih ketat,” tukasnya.

Tetapi menurut analis dari American University Capri Cafaro, dukungan dalam jajak pendapat itu tidak senantiasa ditunjukkan dalam pemilu.

“Anggota-anggota Asosiasi Senjata Api Amerika NRA adalah pemilih yang sangat handal, jadi kalau sekedar jajak pendapat saja yang mengatakan orang ingin pemberlakuan pemeriksaan latar belakang terhadap mereka yang ingin memiliki senjata api, hal itu belum tentu berarti bahwa pemilih akan berbondong-bondong datang ke TPS,” ungkap Cafaro.

Namun menurut Tim Malloy, kalau para siswa kini turun ke jalan dan menuntut tindakan nyata pasca tragedi di Florida, ini bisa menimbulkan dampak yang langgeng terhadap politik.

“Suara anak-anak muda ini telah meningkat pesat dalam empat atau lima hari ini, dan tampaknya menjadi ujung tombak bagi sebuah gerakan baru. Jadi terasa bahwa gerakan yang berkembang ini memperoleh momentum dan percepatannya semakin besar, dan kemungkinan besar kita akan menyaksikan perubahan,” ulasnya.

Kesempatan pertama untuk memperagakan perubahan itu akan terjadi dalam pemilu sela November mendatang. [em/jm]

XS
SM
MD
LG