Tautan-tautan Akses

AS

Trump Sebut Jaksa Agung Sessions 'Memalukan'


Presiden AS Donald Trump dan Jaksa Agung Jeff Sessions (foto: dok).

Presiden Amerika Donald Trump hari Rabu (28/2) kembali menyerang Jaksa Agung Jeff Sessions, menyebut pejabat hukum tertinggi itu sebagai "memalukan", karena menyerukan penyelidikan internal mengenai bagaimana pejabat meminta persetujuan pemantauan rahasia atas mantan pembantu kampanye Trump.

Pemimpin Amerika itu memarahi Sessions yang ditunjuknya untuk memimpin Departemen Kehakiman, karena meminta inspektur jenderal departemen itu "menyelidiki penyalahgunaan yang berpotensi besar-besaran" dalam permohonan pemantauan kepada Pengadilan Pemantauan Intelijen Federal.

Trump dari Partai Republik mengklaim sebuah penyelidikan inspektur jenderal akan "membutuhkan waktu yang sangat lama," dan mengatakan Inspektur Jenderal Departemen Kehakiman, Michael Horowitz "tidak memiliki kekuatan penuntutan" dan ditunjuk oleh Presiden Barack Obama, seorang Demokrat.

Trump mengatakan Horowitz "sudah terlambat" dalam menyelesaikan laporan mengenai dugaan kesalahan yang dilakukan oleh Direktur FBI James Comey dalam menangani penyelidikan tahun 2016 terhadap praktek email Hillary Clinton dari Partai Demokrat, lawan Trump dalam pemilu 2016.

"Mengapa tidak menggunakan pengacara Departemen Kehakiman? MEMALUKAN!" kata Trump dalam sebuah komentar Twitter.

Serangan Trump terjadi setelah Sessions hari Selasa mengatakan Horowitz akan menyelidiki apakah agen-agen FBI menyalahgunakan proses untuk mendapatkan persetujuan pengadilan guna mengawasi pembantu Trump Carter Page dan kaitannya dengan Rusia.

Pemantauan Page adalah bagian dari investigasi kriminal yang sudah lama berjalan mengenai dugaan hubungan kampanye Trump dengan Rusia dalam upayanya memenangkan pemilu Presiden tahun 2016. Pemantauan Page menimbulkan kontroversi selama berminggu-minggu di Washington.

Mayoritas anggota Partai Republik dalam Komite Intelijen DPR, yang dipimpin anggota Kongres dari California, Devin Nunes, mengklaim agen FBI pada dasarnya mengandalkan dokumen kontroversial yang dibuat oleh seorang mantan perwira intelijen Inggris, Christopher Steele, mengenai hubungan Trump dengan Rusia untuk mendapatkan persetujuan pengadilan guna memantau Page.

Partai Demokrat, yang dipimpin anggota senior Partai di komite itu, anggota Kongres dari California, Adam Schiff, akhir pekan lalu menyampaikan bantahan. Partai Demokrat mengatakan bukti selain berkas Steele telah diajukan ke pengadilan untuk mendukung pemantauan terhadap Page dan penyelidikan terhadapnya dimulai tujuh minggu sebelum penyidik mengetahui keberadaan berkas Steele itu. [my/ii]

XS
SM
MD
LG