Tautan-tautan Akses

AS

Trump Sebut Iran Rezim yang 'Brutal dan Korup'


Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Ibu Negara AS Melania Trump dan putra mereka Barron Trump, melambaikan tangan setibanya di Gedung Putih, Washington DC, 1 Januari 2017, sekembalinya dari liburan akhir tahun di Mar-a-Lago estate, Palm Beach, Florida.

Presiden Amerika Donald Trump, Selasa (2/1) memuji demonstran Iran, dengan menyatakan rakyat Iran "akhirnya bertindak melawan rezim yang brutal dan korup", sementara pemimpin tertinggi Iran menuduh musuh pemerintah menyulut demonstrasi anti-pemerintah yang sarat kekerasan.

Dalam komentar di Twitter, Presiden Trump mengatakan, "semua uang" yang "dengan bodohnya diberikan" pendahulunya, mantan Presiden Barack Obama, kepada Iran sebagai bagian dari kesepakatan internasional 2015 untuk mengendalikan program pembuatan senjata nuklir, "jatuh ke tangan teroris dan masuk 'kantong mereka'. Orang-orang itu kekurangan makanan, inflasi tinggi dan tidak ada hak asasi. Amerika mengawasi!"

Setelah serangan Trump, kementerian luar negeri Iran mengatakan, "Daripada membuang waktu mengirim cuitan yang tidak berguna dan menghina negara lain, ia lebih baik mengurusi masalah dalam negerinya sendiri, seperti pembunuhan puluhan orang setiap hari dan adanya jutaan orang yang tidak punya tempat tinggal dan kelaparan."

Sebelumnya, dalam pernyataan yang ditayangkan di televisi pemerintah, pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan "Dalam beberapa hari ini, musuh-musuh Iran menggunakan cara berbeda, termasuk uang tunai, senjata, politik dan intelijen untuk menciptakan masalah bagi Republik Islam Iran." Khamenei mengatakan ia akan berbicara kepada bangsanya tentang demonstrasi anti-pemerintah itu "pada waktu yang tepat."

Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menuduh Amerika, Inggris dan Arab Saudi mengobarkan protes di Iran.

"Arab Saudi akan diberi tanggapan Iran yang tidak diduganya dan mereka akan tahu betapa seriusnya," ujar Shamkhani dalam wawancara di televisi.

Jumlah korban tewas dalam enam hari demonstrasi kini mencapai setidaknya 21 orang dan sembilan lainnya tewas tadi malam. Demonstrasi dilakukan karena ketidak-puasan terhadap kondisi ekonomi dan campur tangan militer Iran di Suriah, Irak dan Yaman. Pemerintah mengatakan enam orang tewas di kantor polisi di kota Qahdarijan dalam bentrokan yang dimulai saat perusuh mencoba mencuri senjata.

Presiden Iran Hassan Rouhani hari Senin (1/1) dengan tegas menyatakan, pasukan keamanan akan "menangani perusuh dan pelanggar hukum."

"Pemerintah tidak akan menoleransi mereka yang merusak properti publik, melanggar ketertiban umum dan membuat keresahan dalam masyarakat," ujarnya.

Deputi Menteri Dalam Negeri Hossein Zolfaghari mengatakan 90 persen mereka yang ditahan berusia kurang dari 25 tahun. Hal ini menunjukkan frustrasi generasi muda Iran atas kurangnya kebebasan sosial dan kondisi ekonomi yang buruk, termasuk tingginya angka pengangguran dan kenaikan harga pangan.

Dalam pidato kepada pimpinan parlemen, Rouhani mengecam negara-negara asing, termasuk Amerika, Israel dan Arab Saudi, yang diduga menyulut kerusuhan tersebut.

"Kemajuan dan kesuksesan kami di dunia politik dan melawan Amerika dan rezim Zionis tidak bisa diterima oleh mereka," ujarnya. Ia juga mengatakan Arab Saudi "akan membuat masalah di Teheran."

Rouhani mengecilkan demonstrasi itu dengan mengatakan, "Ini bukan apa-apa."

"Bangsa kita akan mampu mengatasi kelompok kecil yang meneriakkan slogan-slogan melawan hukum dan menentang keinginan rakyat, serta menghina kesucian dan nilai-nilai revolusi," ujar presiden Iran. "Rakyat betul-betul bebas menyampaikan kritik dan bahkan protes. Tetapi kritik tidak sama dengan kekerasan dan tidak menghancurkan properti publik."

Pemerintah Trump akhir pekan lalu menyatakan "sangat prihatin" atas upaya Iran menghalangi rakyatnya berkomunikasi melalui media sosial dalam upaya meredam demonstrasi itu. [ka/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG