Tautan-tautan Akses

AS

Trump: Potensi Kemajuan Isu Korea Utara Mungkin 'Harapan Palsu'


Presiden Amerika Donald Trump

Presiden Amerika Donald Trump mengatakan “potensi kemajuan” dilakukan Korea Utara, tetapi mengingatkan bahwa isyarat positif itu juga bisa merupakan “harapan palsu.”

Pernyataan Trump itu disampaikan setelah Korea Selatan hari Selasa (6/3) mengatakan Korea Utara siap memulai perundingan dengan Amerika untuk menyudahi ambisi senjata nuklirnya.

Dalam cuitan di Twitter Selasa pagi, Presiden Trump mengatakan “untuk pertama kali dalam beberapa tahun ini, ada upaya serius yang dilakukan semua pihak yang prihatin pada isu ini.” Ia juga menyampaikan kecurigaannya tentang niat Korea Utara itu dan menambahkan “Dunia mengamati dan menunggu! Mungkin harapan palsu, tetapi Amerika siap bersikap tegas dalam hal apapun.”

Penasihat senior keamanan Korea Selatan, Chung Eui-yong mengatakan kepada wartawan hari Selasa, Korea Utara memberi isyarat, tidak perlu mempertahankan program nuklir jika ancaman militer terhadap negara itu dienyahkan. Chung menambahkan, Korea Utara terbuka untuk membahas de-nuklirisasi dan menormalisasi hubungan dengan Amerika.

Chung adalah anggota delegasi Korea Selatan yang baru saja kembali dari kunjungan dua hari ke Korea Utara, di mana

kelompok itu melakukan pertemuan yang belum pernah terjadi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Pernyataan Korea Selatan itu belum dikukuhkan Korea Utara. Jika benar, sikap baru itu akan menandai pergeseran signifikan sikap Kim Jong Un. Pekan lalu, Korea Utara mengatakan bersedia memulai dialog dengan Amerika tetapi menolak prasyarat bagi perundingan semacam itu. Amerika menegaskan, Korea Utara harus terlebih dulu berkomitmen mengakhiri program nuklirnya sebelum melakukan pembicaraan.

Dalam dua tahun ini, Korea Utara telah meluncurkan beberapa rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh, dan melakukan dua uji coba nuklir, dalam usaha membangun kemampuan operasional menyasar kota-kota di daratan Amerika dengan rudal balistik antar benua bersenjata nuklir.

Pemerintah Trump memimpin upaya internasional untuk menekan Korea Utara agar menghentikan program nuklirnya dengan menjatuhkan sanksi keras yang melarang ekspor batubara, bijih besi, produk pakaian dan makanan laut Korea Utara yang bernilai miliaran dolar. Pemerintah Trump juga mengatakan, jika perlu, siap menggunakan kekuatan militer untuk mengenyahkan ancaman nuklir tersebut.

Direktur Badan Intelijen Pertahanan Amerika Letnan Jenderal Robert Ashley dalam sidang dengar pendapat dengan Komisi Angkatan Bersenjata Senat di Washington hari Selasa mengungkapkan rasa skeptis tentang niat Korea Utara. Kim Jong Un "tidak menunjukkan minat menghentikan program nuklir atau rudal balistiknya," ujarnya. Ia memperingatkan, "Peluncuran rudal dan uji coba nuklir hampir pasti akan dilakukan." [ka/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG