Tautan-tautan Akses

Trump: Iran Harus Ubah Tingkah Laku sebelum Berunding dengan AS


Presiden Amerika Donald Trump berbicara kepada media di New York, Selasa (25/9).
Presiden Amerika Donald Trump berbicara kepada media di New York, Selasa (25/9).

Presiden Amerika Donald Trump mengatakan para pemimpin Iran harus “mengubah tingkah laku mereka” sebelum Amerika setuju mengadakan pertemuan bilateral. Kendati begitu, Trump berharap hubungan dengan Iran bisa berlangsung baik di masa depan.

Trump mengatakan hal itu ketika tiba di markas PBB di New York hari Selasa (25/9), untuk menyampaikan pidato di depan sidang umum PBB.

Sebelum itu, Trump mengatakan lewat Twitter bahwa ia tidak punya rencana untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani di sela-sela sidang umum PBB minggu ini.

Komentar Trump tentang Iran itu lebih keras ketika ia berbicara dengan wartawan di PBB.

“Iran telah bertingkah laku sangat buruk. Kami sedang melakukan banyak untuk menghadapi hal itu, termasuk memberlakukan sanksi-sanksi yang sangat besar. Sanksi-sanksi ini adalah yang paling berat yang pernah kami lancarkan," tandas Trump.

Kemudian ia menambahkan, “Iran harus mengubah perilakunya sebelum saya mau bertemu dengan para pemimpinnya. Mereka ingin bertemu dengan saya, tapi saya tidak akan bertemu dengan mereka sampai mereka mengubah tingkah laku mereka."

Lebih lanjut ia mengatakan, “Ini akan terjadi, karena mereka tidak punya pilihan lain. Kami akan senang kalau punya hubungan yang hebat dengan Iran, tapi hal ini belum akan terjadi sekarang.”

Namun, dalam wawancara dengan jaringan televisi CNN hari Selasa, Presiden Iran Rouhani membantah bahwa ia telah minta bertemu dengan Presiden Trump. Katanya kepada CNN: “Tidak ada permintaan seperti itu. Tidak tahun ini dan juga tidak tahun lalu.”

Kata Rouhani lagi, pemerintahnya telah mendapat delapan permintaan dari Amerika untuk bertemu tahun lalu, tapi ia berpendapat perundingan antara kedua pihak “belum waktunya diadakan,” tahun lalu ataupun tahun ini.

Menteri LN Amerika Mike Pompeo mengatakan, pemerintahan Trump “sedang berusaha untuk mendorong Iran menjadi sebuah negara yang normal dan tidak lagi menjadi negara sponsor teror yang paling besar di dunia.

Sementara dalam pidato di depan Sidang Majelis Umum PBB hari Selasa (25/9), Presiden AS Donald Trump mengimbau para pemimpin dunia untuk "mengisolasi rezim Iran selama agresinya berlanjut," dan menuduh para pemimpin Iran menabur "kekacauan, kematian dan kehancuran."

"Mereka tidak menghormati negara-negara tetangga, perbatasan atau hak berdaulat negara. Sebaliknya, para pemimpin Iran menjarah sumber daya negara untuk memperkaya diri sendiri dan menyebarkan kekacauan di Timur Tengah dan lebih jauh lagi," kata Trump.

Trump berkeras perjanjian nuklir era-Obama tahun 2015 untuk mengakhiri program senjata nuklir Iran, yang ditariknya adalah "rejeki bagi para pemimpin Iran" dan meningkatkan anggaran militernya hampir 40 persen untuk "membiayai terorisme dan kekacauan serta pembantaian di Suriah dan Yaman. "

Presiden Trump mengatakan pemerintahannya bulan lalu mulai "memberlakukan kembali sanksi nuklir keras yang dicabut berdasarkan perjanjian Iran" dan lebih banyak sanksi akan dikenakan pada tanggal 5 November dan seterusnya.

"Kita tidak bisa membiarkan penyandang dana terorisme utama di dunia memiliki senjata paling berbahaya di planet ini. Kita tidak bisa membiarkan rezim yang meneriakkan kematian bagi Amerika dan mengancam akan memusnahkan Israel," kata Trump. (ii/my)

XS
SM
MD
LG