Tautan-tautan Akses

Trump Harus Siap Hadapi Perpecahan Politik

  • Jim Malone

Presiden terpilih Donald Trump menghadapi perpecahan politik yang masih ada di Amerika pasca kemenangannya (foto: dok).

Presiden terpilih Donald Trump yang akan dilantik hari Jumat (20/1) sebagai Presiden AS ke-45, menghadapi perpecahan politik yang masih ada di Amerika pasca kemenangannya dalam pemilu November lalu.

Donald Trump akan dilantik sebagai presiden ke-45 Amerika pada hari Jumat 20 Januari dan berjanji akan bertindak cepat untuk mewujudkan agenda eksekutif dan legislatifnya guna membawa perubahan di Washington DC. Tetapi Trump juga akan menghadapi perpecahan politik yang masih ada di Amerika pasca kemenangannya dalam pemilu November lalu.

Donald Trump telah memposisikan dirinya berbeda dibanding presiden-presiden sebelumnya dengan melakukan serangkaian perjalanan keliling Amerika untuk mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya. Trump juga berkeras ia ingin menyatukan negara ini setelah kampanye politik paling terpecah dalam sejarah Amerika.

“Kami akan memulihkan perpecahan dan menyatukan negara yang sangat terpecah belah ini. Jika Amerika bersatu, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Tidak ada tugas yang terlalu berat, tidak ada mimpi yang tidak mungkin terwujud,” ujar Trump.

Para demonstran anti-Trump melakukan unjuk rasa di Golden Gate Park, di San Francisco, California (foto: dok).
Para demonstran anti-Trump melakukan unjuk rasa di Golden Gate Park, di San Francisco, California (foto: dok).

Tetapi tentangan terhadap presiden terpilih ini masih sengit dan tampak dalam pemungutan suara electoral college (lembaga pemilih) di beberapa negara bagian baru-baru ini, termasuk di Florida.

“Pilih kewajaran dan stabilitas. Jangan Trump,” teriak para demonstran anti-Trump.

Dan di Wisconsin, dimana demonstran anti-Trump secara terang-terangan menunjukkan keberadaan mereka.

“Ini Amerika Saya.! Ini Amerika saya!,” ujar mereka.

Para pendukung Trump mendesak para penentang untuk memberi kesempatan pada presiden baru itu. Anggota Kongres dari Partai Republik di negara bagian Texas Kevin Brady mengatakan, “Saya kira Presiden Obama adalah pemecah belah. Saya berharap presiden terpilih Donald Trump akan berupaya merangkul Kongres dan berbagai kelompok di seluruh Amerika, mendengar dan memperhatikan apakah kita tidak bisa disatupadukan sebagai suatu negara. Ini harapan saya”.

Tetapi mantan kandidat presiden Bernie Sanders, mendesak anggota Partai Demokrat untuk berupaya sekuat tenaga menentang Trump.

“Jika kita bersatu, Donald Trump dan tidak seorang pun, tidak seorang pun dapat menghentikan kita. Mari maju bersama. Terima kasih,” ujar Sanders.

Menurut analis John Hudak di Brookings Institution, yang penting apa yang akan dilakukan Trump untuk mengatasi tentangan itu dan menyatukan negara.

Hudak mengatakan, “Adalah wajar bagi Trump untuk mulai membangun jembatan bagi hampir 70 juta warga Amerika yang mendukung calon presiden lain. Ini tantangan nyata, dan ini bukan tantangan yang dihadapi setiap presiden, dan akan menjadi tantangan penting untuk melihat bagaimana presiden baru melakukan hal itu pada bulan-bulan pertama pemerintahannya”.

Para pendukung Donald Trump melakukan unjuk rasa di gedung Trump Tower, New York pasca kemenangan Trump dalam pilpres AS (foto: dok).
Para pendukung Donald Trump melakukan unjuk rasa di gedung Trump Tower, New York pasca kemenangan Trump dalam pilpres AS (foto: dok).

Presiden George W. Bush menghadapi situasi sulit serupa pada tahun 2001 setelah memenangkan pemilu dengan selisih suara sangat tipis atas calon presiden Partai Demokrat Al Gore.

Dalam pidato pelantikannya, Bush berjanji akan menyatukan bangsa Amerika.

“Persatuan dan kesatuan merupakan tugas serius pemimpin dan warga, dan setiap generasi. Ini tekad serius saya : saya akan bekerja untuk membangun satu bangsa yang berkeadilan dan kesempatan bagi setiap orang,” kata Bush.

Pakar politik David Eagles mengatakan publik akan menyambut upaya apapun yang dilakukan Trump untuk membangun persatuan.

“Kita merupakan bangsa yang terpecah dan pemilu telah menunjukkan hal itu dengan nyata. Sebagaimana diperkirakan, perbedaan hasil pemilu sangat tipis. Tetapi saya sangat berharap, kalau melihat sejarah, warga Amerika umumnya akan menerima presiden baru untuk mewujudkan harapan mereka,” ulasnya.

Tetapi upaya apapun untuk meredam kepahitan pemilu bisa menjadi lebih rumit dengan janji Trump untuk mencabut dan mengganti salah satu pencapaian utama Presiden Barack Obama yaitu UU Layanan Kesehatan yang dikenal sebagai Obamacare. [em/al]

XS
SM
MD
LG