Tautan-tautan Akses

Trump Bantah dan Kecam Pertanyaan Baru Soal Pengaruh Rusia


Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato dalam pertemuan tahunan Federasi Petani AS di Ernest N. Morial Convention Center, New Orleans, Louisiana, 14 Januari 2019.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato dalam pertemuan tahunan Federasi Petani AS di Ernest N. Morial Convention Center, New Orleans, Louisiana, 14 Januari 2019.

Presiden Donald J. Trump telah menyatakan “tidak pernah bekerja untuk Rusia,” beberapa hari setelah muncul laporan berita yang menyatakan dia mungkin terikat dengan Rusia dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Bantahan Trump kepada para wartawan, Senin (14/1) itu, sekaligus merupakan tanggapan terhadap artikel di harian New York Times yang diterbitkan Jumat malam bahwa FBI telah membuka penyelidikan kontra-intelijen tentang apakah dia bertindak sebagai agen Rusia ketika dia memecat James Comey sebagai direktur FBI pada Mei 2017.

Presiden Donald J. Trump Senin (14/1) dengan tegas membantah bahwa dia pernah bekerja untuk Rusia, setelah tampaknya menghindari untuk menjawab pertanyaan dalam wawancara hari Minggu yang disiarkan lewat jaringan televisi Fox News.

“Saya tidak pernah bekerja untuk Rusia dan Anda tahu jawaban itu lebih baik daripada siapa pun. Bukan saja saya tidak pernah bekerja untuk Rusia, saya kira memalukan bahwa Anda bahkan mengajukan pertanyaan itu. Karena itu adalah seluruhnya berita bohong yang besar dan gemuk,” jelasnya.

Bantahan keras Presiden Trump itu disampaikan sebagai tanggapan terhadap laporan New York Times bahwa Biro Investigasi Federal (FBI) mulai menyelidiki apakah Presiden Trump telah bekerja atas nama Rusia melawan kepentingan Amerika setelah ia memecat Direktur FBI James Comey pada 2017.

Harian Washington Post juga melaporkan presiden diduga menyembunyikan rincian pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada beberapa pertemuan dan melakukannya dengan sengaja.

Keengganan presiden untuk mengkritik pemimpin Rusia itu dan investigasi atas tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilu 2016 untuk membantu Donald Trump memenangkan kursi kepresidenan mendapat perhatian baru setelah munculnya kembali laporan-laporan media tersebut.

“Anda tahu, ada begitu banyak pertanyaan yang patut diajukan. Kenapa dia begitu akrab dengan Vladimir Putin?,” kata Senator Demokrat Dick Durbin dari negara bagian Illinois.

Kalangan Partai Demokrat juga telah mempertanyakan alasan keputusan pemerintahan Trump baru-baru ini untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah yang merupakan sekutu Rusia dan mencabut sanksi yang dijatuhkan pada beberapa perusahaan Rusia.

Pada hari Senin (14/1), presiden mengecam James Comey dan kepemimpinan FBI pada masa lalu, dan menuduh mereka bekerja untuk merongrong kepresidenannya.

“Orang-orang yang melakukan penyelidikan itu adalah orang-orang yang telah diketahui, yang dikenal sebagai bandit. Saya kira Anda bisa mengatakan mereka itu polisi kotor,” kata Presiden Trump.

Gedung Putih mengatakan Presiden Trump selama ini lebih keras terhadap Rusia daripada presiden-presiden sebelumnya dan telah memberlakukan 272 sanksi “terkait Rusia.” Selanjutnya Gedung Putih mengecam sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya dalam komunitas intelijen yang membocorkan informasi kepada media. [lt/ab]

XS
SM
MD
LG