Tautan-tautan Akses

AS

Trump: AS Bersedia Bicara dengan Korea Utara dengan Syarat-Syarat yang Benar


Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Washington, 26 Februari 2018.

Presiden Amerika Donald Trump mengungkapkan kesediaan untuk berbicara dengan Korea Utara “hanya dengan syarat-syarat yang benar,” seraya memperingatkan bahwa jika Pyongyang tidak meninggalkan program senjata nuklir dan rudal balistiknya, mungkin akan ada potensi luar biasa kehilangan nyawa dalam jumlah yang tidak pernah terbayangkan.

Presiden Trump mengkritik para pendahulunya di Washington karena kemajuan yang lamban dalam menyelesaikan masalah dengan Korea, sementara memberikan isyarat Amerika kemungkinan bersedia berbicara dengan rezim itu.

“Mereka ingin bicara, dan kami juga ingin berbicara hanya dalam kondisi yang benar. Jadi kalau tidak, kita tidak akan berbicara. Kalian tahu mereka sudah berbicara selama 25 tahun. Presiden-presiden terdahulu seharusnya telah menyelesaikan ini jauh sebelum saya menjabat di Gedung Putih. Mereka sudah berbicara selama 25 tahun, dan Anda tahu apa yang terjadi? Tidak ada hasilnya,” kata Presiden Trump.

Dengan telah selesainya Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, semua mata kini kembali fokus pada ancaman nuklir Korea Utara.

Sanksi-sanksi baru yang diumumkan pada hari Jumat lalu menarget individu dan perusahaan, dalam upaya mencegah program pengembangan rudal jarak jauh oleh Korea Utara.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, yang baru saja kembali dari Upacara Penutupan Olimpiade di luar Korea Selatan, menegaskan prioritas pemerintahan Trump.

Juru bicara Gedung Putih, Sara Huckabee Sanders berbicara pada sebuah briefing reguler di Gedung Putih, Selasa (27/2).
Juru bicara Gedung Putih, Sara Huckabee Sanders berbicara pada sebuah briefing reguler di Gedung Putih, Selasa (27/2).

“Mari kita pahami - denuklirisasi harus menjadi hasil dialog dengan Korea Utara. Sebelum ini tercapai, Amerika Serikat dan dunia harus terus membuatnya jelas bahwa program nuklir dan rudal Korea Utara merupakan jalan buntu,” kata Sarah Huckabee Sanders.

Ketegangan meningkat akhir tahun lalu, ketika Presiden Trump menyebut pemimpin Korea Utara sebagai “manusia roket” dalam pidato di depan Majelis Umum PBB pada bulan September.

Kim Jong-un membalas dan menyebut lawatan Presiden Trump ke Asia November lalu sebagai “penghasut perang.”

Baca juga: Trump: AS Bersedia Bicara dengan Korut dalam Kondisi yang Tepat

Sejauh mana Korea Utara bisa berhasil meluncurkan serangan nuklir masih merupakan teka-teki terbuka, kata para analis.

Denny Roy, peneliti senior di pusat kajian East West Center di Honolulu, mengatakan, “Satu hal yang sedikit berbeda dari awal tahun ini adalah bahwa Korea Utara belum melakukan uji coba.” Jadi, ini adalah sesuatu yang harus diperhatikan secara ketat. Apakah mereka akan melanjutkan uji coba? Jika mereka kembali melakukan uji coba, maka saya kira kita akan kembali ke masalah seperti biasa.”

Meskipun ada peringatan dari Korea Utara, Korea Selatan dan Amerika Serikat tetap dijadwalkan akan mengadakan latihan militer gabungan pada musim semi mendatang. [lt/ab]

XS
SM
MD
LG