Tautan-tautan Akses

Tim O’Brien sudah 20 tahun menjalani bisnis memanfaatkan kayu bekas menjadi barang yang bernilai pakai tinggi dan mempunyai pangsa pasar.

Awalnya, Tim datang ke Indonesia sebagai turis dan menyaksikan banyak kayu dari bangunan yang dirobohkan, serta kayu bekas bencana alam seperti tanah dan banjir longsor yang tidak dimanfaatkan. Ia kemudian terinspirasi untuk memanfaatkan kayu bekas tersebut dan membangun perusahaan furnitur yang ia beri nama Tropical Salvage.

"Salah satu alasan saya memulai bisnis ini karena saya ingin memberikan pilihan alternatif pada pasar kayu yang diambil dari hutan," jelas Tim.

Dengan memakai kayu bekas, "Tropical Salvage" menawarkan produk furnitur yang berbeda dari produk konvensional. Produk Tropical Salvage mengutamakan sisi ramah lingkungan, kegunaan dan nilai yang bisa mereka berikan kepada pembeli mereka.

Tonton juga: Toko Furnitur di Portland, Oregon, Gunakan Kayu Bekas dari Indonesia

Tropical Salvage: Toko Furnitur di Portland, Oregon, Gunakan Kayu Bekas dari Indonesia
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:44 0:00


Tim sangat selektif dalam mengolah kayu yang dipakai "Tropical Salvage" untuk produk mereka. Karena berasal dari Indonesia yang merupakan daerah tropis, kayu yang mereka pakai memiliki masalah kelembaban yang mempengaruhi kekuatan kayu. Untuk mengatasi hal ini, mereka menerapkan sistem pengeringan yang terdiri dari 3 fase sistem pengeringan. Dalam prosesnya, kayu dikeringkan agar tidak mudah retak dan kadang diperbaiki.

Mereka seringkali mendapatkan jenis kayu yang bahkan sudah punah, misalnya kayu pendem. Mereka juga pernah mendapatkan kayu di Jawa Tengah yang sudah berumur 1100 tahun dan 1200 tahun. Meskipun dari kayu bekas Tim selalu memastikan kayu yang mereka gunakan tetap memiliki sisi artistik yang menarik sehingga tetap mempunyai daya jual. Selain itu, Tim juga meyakinkan bahwa setiap produk yang mereka produksi unik dan tidak sama dengan produk yang banyak dijual di pasaran.

Selain furnitur, "Tropical Salvage" juga membuat berbagai produk rumah tangga serta alat-alat dapur dari kayu pohon kelapa yang tak berbuah lagi.

Sekitar 95 persen produk "Tropical Salvage" dimanufaktur di Jepara. Furnitur yang diproduksi tak pernah sama karena kayu yang dipakai pun selalu berbeda, sehingga "Tropical Salvage" tak menjual produknya online melainkan didistribusikan di 40 toko di Amerika dengan sistem konsinyasi.

Tim O'Brian di tokonya Tropical Salvage, Portland, bersama tim VOA.
Tim O'Brian di tokonya Tropical Salvage, Portland, bersama tim VOA.

"Kami tidak ingin mereka membeli (produk) kami, kami ingin mempermudah mereka menjualnya. Banyak (pemilik toko) mengatakan 'Saya suka dengan produk ini, tapi sangat berbeda dari yang biasa kami temukan karena warnanya tidak seragam,' tapi mereka bilang semakin banyak orang yang suka dengan produk ramah lingkungan dan suka dengan produk yang alami, dan mereka mau menjualnya," papar Tim.

Keunikan furniture ini diakui Jamie, desainer interior, pelanggan setia yang selalu memakai produk "Tropical Salvage" dalam setiap proyek desainnya yang modern kontemporer.

"Saya mendesain interior modern dan kontemporer, produk mereka sangat halus dan kelihatan modern, sehingga cocok dengan desain saya," kata Jamie ketika ditanya mengapa ia memilih produk dari “Tropical Salvage”.

Jamie menambahkan, "Produk mereka dari kayu organik dengan bentuk yang tidak terduga, dan sesuai dengan desain yang apik, saya suka bagaimana dua hal yang berbeda menjadi satu."

Keragaman hayati bumi Indonesia juga mendorong Tim untuk melestarikannya dengan menanam kembali pohon dari spesies yang memang hanya tumbuh di Indonesia. Tim membeli lahan untuk menanam kayu-kayu lokal dan bukan yang banyak ditemukan di pasaran. Tim memprioritaskan kayu yang menyerap karbon untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Tim juga berharap langkah ini akan membantu mengatasi isu lingkungan di Jawa yang semakin padat penduduk. Tim berharap lahan yang mereka tanami nantinya akan menjadi hutan kecil yang kaya akan keanekaragaman tumbuhan dan hewan.

Produk-produk furnitur dan lainnya dari kayu bekas daur ulang di toko Tropical Salvage, Porland.
Produk-produk furnitur dan lainnya dari kayu bekas daur ulang di toko Tropical Salvage, Porland.

Bagi Tim, lewat "Tropical Salvage", ia ingin menciptakan pasar yang berorientasi pada konservasi hutan.

"Sebagai manusia, kita menentukan nilai suatu benda, kenapa kita tidak memberikan nilai kepada lingkungan yang sehat. Itu pesan saya, pesan utama saya adalah mari kita orientasikan aspirasi kita sebagai manusia untuk menciptakan masa depan yang layak ditinggali oleh anak cucu kita," kata Tim menutup wawancara dengan tim VOA.

XS
SM
MD
LG