Tautan-tautan Akses

Tingkat Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru Lebih Rendah dari Yang Diperkirakan


Para peserta mempraktekkan Resusitasi Jantung dan Paru dalam sebuah latihan yang diorganisir anggota Palang Merah Meksiko di Monumen Revolusi di Mexico City, Mexico, 7 Mei 2017 (foto: REUTERS/Henry Romero)

Sebagaian besar orang percaya tingkat keberhasilan resusitasi jantung paru lebih banyak dari kecendrungan dalam kenyataan, menurut sebuah studi kecil di AS.

Pandangan yang terlalu optimis ini, yang sebagian mungkin timbul dari acara drama kedokteran di televisi dengan hasil akhir yang menggembirakan, dapat menghalangi pengambilan keputusan dan percakapan yang jujur tentang perawaatan oleh dokter terhadap pasien menjelang akhir hidupnya, demikian tulis sebuah tim peneliti di American Journal of Emergency Medicine.

CPR dimaksudkan untuk mengembalikan jantung yang telah berhenti berdetak, yang dikenal sebagai henti jantung, yang pada umumnya disebabkan oleh gangguan arus listrik di otot jantung. Meskipun serangan jantung bukan hal yang sama – hal ini terjadi saat aliran darah ke jantung sebagian atau secara keseluruhannya terhambat, acap kali oleh gumpalan – serangan jantung juga dapat menyebabkan jantung berhenti berdetak.

Peluang untuk bertahan hidup

Apapun sebab dari henti jantung ini, mengembalikan detak jantung sesegera mungkin untuk memungkinkan darah mengalir ke otak sangat penting untuk mencegah kerusakan otak permanen. Lebih sering dibanding tidak, henti jantung berakhir dengan kematian atau kerusakan syaraf yang parah.

Tingkat keberhasilan bertahan hidup secara keseluruhan menyebabkan rumah sakit mengirimkan orang dengan pengalaman menghadapi kasus henti jantung sekitar 10,6 persen, tulis penyusun studi. Namun kebanyakan peserta dari studi itu memperkirakan peluangnya lebih dari 75 persen.

“Sebagian besar pasien dan mereka dengan latar belakang non-medis memiliki ekspektasi yang sangat tidak realistis terkait keberhasilan Resusitasi Jantung Paru selain kualitas hidup setelah pasien berhasil diselamatkan,” ujar penulis utama dari studi itu, Lindsey Ouelette, seorang asisten peneliti di Michigan State University’s College of Human Medicine di Grand Rapids.

Pasien dan anggota keluarga harus tahu tentang angka keberhasilan yang realistis dan angka keberhasilan bertahan hidup saat merencanakan kehendak kehidupan dan mempertimbangkan perintah “Jangan Lakukan Resusitasi,” ujar Ouellette.

“Kami pikir paling baik untuk mendapatkan informasi terakhir dan paling akurat menyangkut keputusan yang dapat berdampak pada kehidupan, apakah melaukuan atau melanjutkan Resusitasi Jantung Paru atau tidak,” ujarnya kepada Reuters Health lewat email.

Acara TV yang bagus, namun bukan informasi yang bagus

Untu mengukur persepsi tentang Resusitasi Jantung dan Paru, para peneliti melakukan survei terhadap 1.000 orang dewasa di empat pusat kedokteran akademis di Michigan, Illinois, dan California. Para peserta termasuk mereka yang tidak menderita penyakit kritis dan keluarga pasien, yang diwawancara selama shift acak di rumah sakit.

Selain menanyakan tentang pengetahuan umum mereka tentang Resusitasi Jantung dan Paru dan pengalaman pribadi dengan Resusitasi Jantung dan Paru, para peneliti menyajikan kepada para peserta beberapa skenario dan bertanya kepada mereka untuk memperkirakan peluang keberhasilan Resusitasi Jantung dan Paru dan peluang pasien bertahan hidup untuk masing-masing kasus.

Satu skenario melibatkan seseorang bersuia 54 tahun yang menderita serangan jantung di rumah dan memerlukan Resusitasi Jantung dan Paru oleh paramedis. Sekitar 72 persen dari peserta survei memperkirakan keberhasilan untuk bertahan hidup dan 65 persen memperkirakan kepulihan sistem syaraf secara menyeluruh.

Dalam sebuah skenario yang menjelaskan tentang kasus henti jantung terkait trauma dari seorang anak berusia 8 tahun, 71 persen mempekirakan tingkat keberhasilan Resusitasi Jantung dan Paru dan 64 persen memperkirakan tingkat keberhasilan hidup jangka panjang untuk anak tersebut.

“Banyak orang merasa apabila seseorang berhasil dipulihkan, mereka akan kembali ‘normal’ ketimbang kemungkinan adanya kebutuhan perawatan seumur hidup,” ujar Ouellette.

Di saat yang sama, lebih dari 70 persen responden mengatakan mereka menonton drama kedokteran di TV secara reguler, dan 12 persen mengatakan acara tersebut adalah sumber terpercaya untuk informasi kesehatan.

“Memperkecil ekspektasi yang tidak realistis mungkin tidak akan menghasilkan ‘acara TV yang bagus,’ namun mungkin kita akan dapat mendapatkan pemahaman yang lebih baik bagaimana drama di televisi ini berdampak pada pandangan orang tentang Resusitasi Jantung dan Paru dan aspek-aspek kedokteran lainnya,” ujarnya.

Tindakan medis, bukan mukjizat

“Orang-orang berpikir bahwa Resusitasi Jantung dan Paru adalah sebuah mukjizat, namun kenyataannya itu hanyalah tindakan medis,” ujar Dr. Juan Ruiz-Garcia dari Hospital Universitario de Torrejon di Madrid yang tidak terlibat dalam studi. “Saya tidak terlalu yakin apa yang akan dipilih orang seandainya mereka tahu tentang prakiraan nyata dari tindakan tersebut,” ujarnya kepada Reuters Health lewat telepon.

Resusitasi Jantung dan Paru harus menjadi bagian dari percakapan tentang perawatan akhir menjelang kematian dan petunjuk awal di antara para keluarga, ujar Carolyn Bradley dari Yale-New Haven Hospital di Connecticut.

“Saat melakukan Resusitasi Jantung dan Paru di rumah sakit, kami cendrung menyingkirkan anggota keluarga, namun kami telah menciptakan situasi dimana anggota keluarga tidak di sana pada saat-saat akhir,” ujarnya dalam sebuah wawancara lewat telepon.

“Mulailah sebuah percakapan kritis dengan penyedia layanan kesehatan anda dan tanyakan pertanyaan tentang apa yang terjadi selama proses Resusitasi Jantung dan Paru,” ujarnya. “Seperti apakah itu? Apa yang terjadi dengan tubuh saya? Siapa yang akan berada di sekeliling saya? Bisa jadi itu adalah akhir sebuah kehidupan. Dilihat dari segi statistik, iya.” [ww]

XS
SM
MD
LG