Tautan-tautan Akses

AS

Tiga Saksi dalam Dengar Pendapat Penyelidikan Pemakzulan Trump 


DPR AS melakukan pemungutan suara tentang resolusi untuk penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump, di Capitol Hill, Washington, 31 Oktober 2019.

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika akan melangsungkan dengar pendapat terbuka tentang penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump pekan ini, dengan mendengar kesaksian tiga diplomat berpengaruh pada Rabu (13/11) dan Jumat (15/11) ini.

William Taylor, diplomat tertinggi Amerika di Ukraina, dan George Kent, pejabat senior Departemen Luar Negeri yang bertanggung jawab pada kebijakan Amerika tentang Ukraina, dijadwalkan hadir pada Rabu. Sementara mantan duta besar Amerika untuk Ukraina Marie Yovanovitch akan hadir pada Jumat.

Sebelumnya ketiga diplomat berpengaruh ini telah memberikan kesaksian tertutup tentang upaya-upaya Trump menekan Ukraina untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden, dan menyelidiki satu teori konspirasi mengenai pemilu presiden Amerika pada 2016 lalu.

Partai Demokrat mengatakan dengar pendapat terbuka itu memungkinkan warga menilai kredibilitas saksi dan kesaksian mereka. Sementara Partai Republik kemungkinan akan berupaya mendiskreditkan proses pemakzulan dan kesaksian para saksi.

Berikut profil dan peran ketiga saksi dalam isu Ukraina ini:

William Taylor

- Taylor menjabat sebagai kuasa usaha Kedutaan Besar Amerika di Kiev sejak Juni 2019 lalu setelah Presiden Donald Trump secara tiba-tiba memanggil pulang Duta Besar Amerika Untuk Ukraina Marie Yovanovich. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo meminta Taylor untuk menggantikannya.

- Mantan pejabat militer lulusan West Point dan Harvard, yang juga seorang diplomat karier ini, sebelumnya menjabat sebagai Duta Besar Amerika Untuk Ukraina dari 2006-2009.

Dubes William Taylor saat tiba di Capitol untuk memberi kesaksian di hadapan Komite DPR dalam penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump di Washington, 22 Oktober 2019.
Dubes William Taylor saat tiba di Capitol untuk memberi kesaksian di hadapan Komite DPR dalam penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump di Washington, 22 Oktober 2019.

- Dalam apa yang digambarkan anggota faksi Demokrat dari negara bagian Florida Debbie Wasserman Schultz, sebagai “kesaksian paling memberatkan yang pernah saya dengar,” Taylor mengatakan kepada penyelidik DPR bahwa Trump secara eksplisit menuntut agar Ukraina menyelidiki Joe Biden, putranya Hunter, dan beberapa tokoh Partai Demokrat lainnya; dan sebagai imbalannya Trump akan meloloskan bantuan militer Amerika bagi Ukraina.

- Dalam kesaksian yang didasarkan atas pembicaraan antara Taylor dan Gordon Sondland, Utusan Khusus Amerika Untuk Uni Eropa yang juga donatur tim kampanye Trump, bertolak belakang dengan pernyataan Trump bahwa tidak ada “quid pro quo” dengan Ukraina.

- Gedung Putih menolak kesaksian itu sebagai desas-desus. Beberapa pesan teks Taylor kepada Sondland, di mana ia mengatakan “gila” jika pemerintah membekukan bantuan untuk Ukraina agar negara itu mau melangsungkan penyelidikan terhadap pesaing Trump, merupakan sebagian bukti pemakzulan Trump.

George Kent

- Sebagai Wakil Asisten Menteri Luar Negeri Untuk Urusan Eropa dan Eurasia, Kent mengawasi kebijakan-kebijakan Amerika atas Ukraina, Moldova, Belarusia, Georgia, Armenia, dan Azerbaijan.

George Kent, wakil asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Eropa dan Eurasian, di Capitol Hill, Washington, 15 Oktober 2019.
George Kent, wakil asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Eropa dan Eurasian, di Capitol Hill, Washington, 15 Oktober 2019.

- Sebagaimana Taylor, Kent adalah veteran dinas layanan luar negeri selama 27 tahun. Ia dikesampingkan oleh apa yang digambarkannya sebagai “saluran yang tidak biasa”, yaitu pengacara pribadi Trump Rudy Giuliani, Menteri Urusan Energi Rick Perry, Utusan Khusus Amerika Untuk Uni Eropa Gordon Sondland, dan mantan Utusan Khusus Amerika Untuk Ukraina Kurt Volker.

- Dalam kesaksian tertutup bulan lalu Kent mengatakan kepada tim penyelidik DPR bahwa Giuliani telah menekan sejumlah orang Ukraina untuk melakukan “penuntutan bermotif politik yang menimbulkan dampak pada aturan hukum di Ukraina dan Amerika.’’ Ia juga mengatakan bahwa Sondland “telah berbicara dengan Presiden Trump dan POTUS tidak menghendaki hal lain selain bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy bicara secara terbuka dan mengatakan tiga hal – penyelidikan, Biden dan Clinton."

Marie Yovanovitch

- Diplomat karier ini menjadi Duta Besar Amerika Untuk Ukraina sejak Juli 2016 hingga Mei 2019, ketika ia dipanggil pulang ke Washington DC setelah Rudy Giuliani dan beberapa mitranya menggambarkan apa yang oleh Partai Demokrat dan mitra Yovanovitch sebagai kampanye kotor terhadapnya.

- Dua rekan Giuliani baru-baru ini ditangkap karena pelanggaran dana kampanye, di mana mereka dituduh telah melobby mantan anggota faksi Republik di DPR dari negara bagian Texas, Pete Sessions, untuk memecatnya.

Mantan dubes AS untuk Ukraina Marie Yovanovitch (tengah) dikawal polisi Capito, ajudan dan pengacaranya, di Capitol, Washington D.C, 11 Oktober 2019.
Mantan dubes AS untuk Ukraina Marie Yovanovitch (tengah) dikawal polisi Capito, ajudan dan pengacaranya, di Capitol, Washington D.C, 11 Oktober 2019.

- Pemecatan Yovanovitch mengejutkan layanan dinas di luar negeri, di mana lebih dari 50 mantan duta besar perempuan Amerika menulis surat kepada Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyerukan perlindungan bagi pejabat urusan luar negeri dari pembalasan politik.

- Yovanovitch bulan lalu bersaksi bahwa ia merasa diancam dan khawatir tentang keselamatannya setelah Trump mengatakan “ia akan melewati beberapa hal.” Ia juga mengatakan kepada para anggota DPR bahwa Sondland telah merekomendasikan kepadanya untuk memuji Trump lewat Twitter jika ingin tetap mempertahankan pekerjaannya. [em/ft]

XS
SM
MD
LG