Tautan-tautan Akses

Tiga Penemu Asal Uganda Menciptakan Cara yang Lebih Baik untuk Diagnosa Pneumonia


Alumni Makerere University Telecom, Brian Turyabagye (kiri) dan Besufekad Shifferaw (kanan) menunjukkan jaket pintar yang akan digunakan untuk mendiagnosa pneumonia pada anak-anak, Kampala, Uganda, 5 April 2017 (foto: H. Althumani/VOA)

Tiga mahasiswa teknik di Uganda menyatakan purwarupa dari ciptaan mereka, sebuah “jaket pintar” yang mereka namakan Mama’s Hope, dapat mendiagnosa penyakit lebih cepat dan lebih akurat ketimbang protokol pengobatan yang ada saat ini.

Tiga mahasiswa teknik di Uganda berusaha untuk mengatasi penyebab utama kematian anak-anak di Afrika – pneumonia (paru-paru basah). Mereka mengatakan purwarupa dari ciptaan mereka, sebuah “jaket pintar” yang mereka namakan Mama’s Hope, dapat mendiagnosa penyakit lebih cepat dan lebih akurat ketimbang protokol pengobatan yang ada saat ini.

Nakato Christine yang berusia empat bulan menggeliat di ranjang rumah sakit dengan napas terengah-engah. Di satu sisi ranjang lain, saudara kembarnya juga berada dalam kondisi yang sama.

Nakato batuk saat Perawat Senior Kyebatala Loy menyesuaikan selang nasogastrik.

“Tubuh mereka telah dihubungkan dengan selang oksigen akibat kesulitan bernafas sehingga mereka juga kesulitan makan karena nafas mereka yang terengah-engah,” ujar Keybatala.

Sejak bulan Januari, 352 bayi telah dirawat di rumah sakit akibat pneumonia (paru-paru basah) di bangsal 16 kedokteran anak di Rumah Sakit Rujukan Nasional Mulago di Kampala.

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian utama anak balita di Afrika dan Asia Selatan, menurut World Health Organization. Pada tahun 2015, pneumonia menyebabkan kematian hampir satu juta anak di seluruh dunia.

Permasalahan utama adalah kesulitan yang dihadapi dalam mendiagnosa penyakit ini. Semakin cepat anak-anak yang sakit mendapatkan antibiotik, semakin besar peluang mereka untuk bertahan hidup. Namun para pekerja kesehatan yang dibekali dengan stetoskop dan thermometer berpeluang untuk luput dalam mendiagnosa infeksi di tahap awal. Dr. Flavia Mpanga dari UNICEF di Kampala mengatakan metode-metode lainnya, seperti penanda waktu pernafasan, dapat menyebabkan kesalahan diagnosa.

“Apabila anda mengamati penanda waktu pernafasan, alat tersebut memilik mekanisme yang berdetik yang dapat menyebabkan kerancuan di antara para pekerja kesehatan. Ketika mereka mencatat frekuensi pernafasan, mereka dapat mengalami kerancuan antara suara detak peralatan dan frekuensi pernafasan dan setiap anak hampir pasti akan selalu diagnosa dengan pneumonia,” ujar Dr. Mpanga.

Ia mengatakan diagnosa yang kurang tepat artinya anak-anak mendapatkan obat antibiotik yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, yang juga menjadi permasalahan kesehatan masyarakat.

Trio mahasiswa lulusan jurusan teknik yang baru lulus di Uganda berpikir bahwa mereka memiliki jawabannya. Mereka telah bekerja sama dengan Sekolah Kesehatan Masyarakat Mulago untuk menguji purwarupa hasil temuannya, jaket pintar, yang disebut Mama’s Hope.

Dua dari penemu tersebut, Beseufekad Shifferaw (26 tahun) dan Brian Turyabagye (25 tahun) mendemonstrasikannya kepada VOA.

“Ahh begitu … [suara retsleting] … jaketnya … dikenakan pada sang anak … pertama, dikenakan pada sang anak dan kemudian dikencangkan , setelah itu kelopaknya dipasang … [suara melemah]”

“Jaket ini akan mengukur tanda-tanda vital pneumonia. Yaitu frekuensi pernafasan, kondisi paru-paru dan suhu tubuh,” ujar Turyabagye. “Setelah itu tanda-tanda vitalnya didistribusikan ke unit kami di sini, dimana seorang pekerja kesehatan dapat membaca hasil diagnosanya, termasuk batuk, nyeri di dada, mual atau kesulitan bernafas. Dengan tanda-tanda dan gejala-gejala ekstra tersebut, mereka dikombinasikan dengan hasil pengukuran yang dibuat oleh jaket tersebut sehingga hasil diagnosa lebih akurat.”

Untuk saat ini, jaket itu masih dalam tahap purwarupa. Namun para penemu mengatakan hasil uji toba menunjukkan bahwa jaket pintar ini dapat mendiagnosa pneumonia tiga kali lebih cepat dibandingkan uji coba tradisional.

UNICEF telah menghubungkan tim ini dengan kantornya di Kopenhagen yang bertanggungjawab untuk inovasi untuk membantu mereka melangkah lebih maju lagi ke tahap pra-percobaan. Dr. Mpanga melihat adanya potensi dari jaket pintar ini.

“Satu-satunya harapan saya adalah jaket ini dapat mencapai nilai komersial dan disetujui oleh badan yang berwenang untuk membuat peraturan sehingga dapat bermanfaat bagi seluruh dunia,” ujar Dr. Mpanga.

Dr. Mpanga menyatakan dengan menghilangkan diagnosa pneumonia dengan cara mereka-reka dapat menyelamatkan nyawa dalam jumlah yang terkira di negara berkembang. [ww]

XS
SM
MD
LG