Tautan-tautan Akses

Tiga Ekonom Menangkan Hadiah Nobel Ekonomi dalam Mengatasi Kemiskinan Global


Potret Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kreme, yang telah diumumkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi 2019. (Foto: via Reuters)

Tiga ekonom telah memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi dalam upaya mereka untuk membantu mengatasi kemiskinan global.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan pada hari Senin (14/10), pihaknya memberikan hadiah bergengsi itu kepada warga Amerika kelahiran India Abhijit Banerjee, warga Amerika keturunan Prancis Esther Duflo, dan warga Amerika Michael Kremer.

Duflo adalah wanita kedua yang pernah memenangkan hadiah ekonomi.

Akademi itu mengatakan para ekonom tersebut memperkenalkan pendekatan baru untuk mencari cara terbaik guna memerangi kemiskinan, dengan fokus pada pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti bagaimana meningkatkan kesehatan anak atau pendidikan.

“Sebagai hasil langsung dari salah satu studi mereka, lebih dari lima juta anak di India telah mendapat manfaat dari program bimbingan belajar yang efektif di sekolah. Contoh lain adalah subsidi besar untuk perawatan kesehatan preventif yang telah diperkenalkan di banyak negara,” kata akademi itu.

Ketiga penerima penghargaan itu akan membagi rata hadiah uang sebesar AS$915.300.

Temuan Penting tentang Ekonomi Pembangunan

Kajian mereka di pedalaman Kenya dan India, misalnya, mendapati bahwa menyediakan lebih banyak buku-buku teks, makanan di sekolah dan guru tidak banyak membantu untuk mendorong siswa lebih rajin belajar.

Menjadikan pekerjaan sekolah lebih relevan bagi siswa, bekerja sama dengan siswa yang paling membutuhkan dan meminta pertanggungjawaban guru dengan membuat kontrak jangka pendek, misalnya, jauh lebih efektif di negara-negara di mana guru sering tidak hadir di sekolah. Program bimbingan yang direkomendasikan ketiga pemenang Nobel itu telah memberi manfaat pada lima juta anak di India saja, demikian petikan pernyataan akademi Nobel itu.

Kremer dan dua mitranya mendapati bahwa dengan menyediakan layanan kesehatan gratis dapat membuat perbedaan besar. Dalam kasus obat cacing, misalnya. Hanya 18 persen orang tua yang memberi anak-anak mereka obat cacing untuk mengatasi infeksi parasit ketika mereka harus membayar obat itu, meski harganya sudah disubsidi, atau kurang dari satu dolar saja. Tetapi jumlah orang tua yang memberi obat cacing kepada anak-anak naik menjadi 75% ketika obat itu ketika dibagikan secara gratis. Badan Kesehatan Dunia WHO kini merekomendasikan agar obat cacing didistribusikan secara gratis di daerah dengan tingkat infeksi cacing parasit yang tinggi.

Banerjeen, Duflo dan Kremer mendapati bahwa vaksinasi bergerak (mobile-vaccination-clinics) di India meningkatkan secara dramatis imunisasi dibanding pusat kesehatan tradisional yang sering tidak kekurangan karyawan. Tingkat imunisasi semakin meningkat ketika orang tua menerima sekantung lentil (sejenis kacang-kacangan.red) sebagai bonus karena memvaksinasi anak-anak mereka.

Banerjee dan Duflo, yang menikah sejak 2015, juga mendapati bahwa program kredit mikro, yang memberikan pinjaman kecil untuk mendorong orang miskin memulai bisnis, tidak banyak membantu orang miskin di Hyderabad, India. Kajian di Bosnia-Herzegovina, Ethiopia, Maroko, Meksiko dan Mongolia menghasilkan temuan serupa.

Kemiskinan Ekstrem

Meskipun ada kemajuan besar, kemiskinan global masih menjadi tantangan besar. Lebih dari 700 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Lima juta anak meninggal sebelum usia lima tahun, seringkali akibat penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah atau disembuhkan dengan mudah dan murah. Separuh dari anak-anak di dunia meninggalkan bangku sekolah tanpa keterampilan baca tulis dan matematika dasar. (uh/lt/em/pp)

[lt/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG