Tautan-tautan Akses

AS

The Art of the Deal: Buku yang Antar Trump Sukses Jadi Pengusaha dan Presiden


Mantan pemain basketball NBA, Dennis Rodman, mempersembahkan buku berjudul “Trump The Art of the Deal” kepada Menteri Olahraga Korea Utara, Kim Il Guk, Kamis, 15 Juni 2017, di Pyongyang, Korea Utara (foto: AP Photo/Kim Kwang Hyon)

Saat berkampanye dalam tahun 2016, Trump sering menyebut buku berjudul The Art of The Deal atau Seni Berunding yang telah membuatnya sukses menjadi pengusaha dan akhirnya menjadi presiden Amerika.

Buku Art of The Deal itu ditulis oleh wartawan Tony Schwartz berdasarkan wawancara langsung selama setahun lebih dengan Trump dan dengan sumber-sumber lain dalam tahun 1986.

Donald Trump, The Art of the Deal
Donald Trump, The Art of the Deal

Ketika diterbitkan tahun 1987 buku itu naik ke tangga nomor satu dalam daftar buku laris yang dihimpun oleh harian New York Times, dan berada di tempat itu selama 13 minggu.

Trump sendiri menyebut buku itu sebagai “salah satu pencapaiannya yang paling membanggakan, dan buku favoritnya yang kedua setelah Kitab Suci.

Tapi bulan Juli tahun lalu, Schwartz menyatakan penyesalannya sebagai penulis bayaran, atau ghost writer bagi Trump. Untuk jerih payahnya, Schwartz mendapat separuh dari uang muka yang dibayarkan penerbit, yaitu seperempat juta dollar, ditambah separuh dari semua royalties penjualan buku itu.

Bulan Oktober tahun 2018, harian New York Times menulis laporan investigatif yang membantah berbagai klaim dalam buku itu yang mengatakan bahwa Trump adalah seorang “self-made billionaire.” Kata New York times, Trump mendapat sedikitnya 413 juta dollar dari perusahaan real estate milik ayahnya dan bukan hanya satu juta dollar seperti ditulis dalam buku itu.

Tony Schwartz mengatakan dalam ceramah dimuka mahasiswa Universitas Oxford di Inggris tahun lalu:

“Tidak lama sebelum Donald Trump memenangkan pencalonan dari Partai Republik, pada bulan Juli, saya membuat keputusan untuk secara terbuka melepaskan diri saya dari tanggung jawab menulis buku itu, dan dari orang yang saya lukiskan dalam buku itu,” ujar Schwartz.

Kata Tony Schwartz lagi, sebelum menulis buku biografi Trump itu, ia pernah menulis artikel yang mengecam Trump karena taktik yang digunakannya untuk mengusir para penyewa bangunan yang akan diubahnya menjadi kompleks apartemen mahal. Penyewa bangunan itu hanya membayar sewa rendah sesuai dengan peraturan kota New York karena penghasilan mereka juga rendah.

“Saya sudah tahu bahwa Trump adalah seorang pebisnis yang buruk. Saya baru saja menulis artikel itu, dan menulis buku atas permintaan Trump kemungkinan besar akan merusak kredibilitas saya sebagai wartawan,” imbuh Schwartz

Tony Schwartz mengatakan filsafat dasar Trump adalah: “pokoknya saya menang, dan orang lain boleh mengatakan apapun yang mereka suka.” Keputusan saya menulis buku itu untuk Trump telah menghantui saya selama 30 tahun terakhir ini.

Kata Schwartz, ia tiba-tiba merasa sakit perut ketika Trump mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden sambil memegang buku Art of the Deal itu.

“…dan dia mengatakan, Amerika membutuhkan orang yang menulis buku The Art of The Deal untuk menjadi presiden. Kalau ia bisa berbohong tentang hal itu, maka kemungkinan ia akan berbohong tentang apapun.”

“Saya praktis tinggal bersama Trump selama setahun setengah, dan saya tidak ragu lagi bahwa pernilaian saya tentang sifat-sifatnya itu akurat,” ujar Schwartz. [ii]

XS
SM
MD
LG