Tautan-tautan Akses

Tepis Perbedaan Agama, Warga Israel dan Warga Palestina Donorkan Ginjal 


Idit Harel Segal, warga Eshhar, Israel utara, mendonorkan ginjalnya untuk seorang anak Palestina dari Jalur Gaza, 13 Juli 2021. (AP Photo/Maya Alleruzzo).
Idit Harel Segal, warga Eshhar, Israel utara, mendonorkan ginjalnya untuk seorang anak Palestina dari Jalur Gaza, 13 Juli 2021. (AP Photo/Maya Alleruzzo).

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pertikaian Palestina-Israel bukan konflik agama. Namun, banyak Muslim termasuk sebagian di Indonesia, memandangnya seperti itu. Sebuah keluarga Israel dan sebuah keluarga Palestina mendobrak pemahaman keliru ini melalui sebuah upaya kemanusiaan yang mencerminkan toleransi beragama.

Idit Harel Segal baru saja menginjak usia 50 tahun, ketika sebuah gagasan muncul dibenaknya. Ia tidak menginginkan hadiah tapi justru memberi hadiah. Hadiahnya adalah menyumbangkan salah satu ginjalnya kepada seseorang yang tidak dikenalnya, dan bahkan bila orang itu adalah warga Palestina.

Guru taman kanak-kanak di Israel Utara ini mengaku bangga sebagai warga negara Israel. Namun, ia juga mengaku tak sungkan menawarkan bantuan ke keluarga Palestina. Baginya perbedaan agama bukanlah persoalan yang menghalanginya untuk berbuat kebajikan,

Idit Harel Segal, yang mendonorkan ginjalnya kepada seorang anak Palestina dari Jalur Gaza, memegang surat yang dia tulis dalam bahasa Ibrani untuk calon penerima ginjalnya, di rumahnya di Eshhar, Israel utara, (AP)
Idit Harel Segal, yang mendonorkan ginjalnya kepada seorang anak Palestina dari Jalur Gaza, memegang surat yang dia tulis dalam bahasa Ibrani untuk calon penerima ginjalnya, di rumahnya di Eshhar, Israel utara, (AP)

Niatnya ini didorong oleh kenangan mendiang kakeknya, seorang penyintas holokos, yang mengingatkannya untuk menjalani hidup yang bermakna, dan oleh tradisi Yahudi, yang menyatakan bahwa tidak ada tugas yang lebih mulia daripada menyelamatkan nyawa.

Singkat kata, Segal menghubungi sebuah organisasi yang menghubungkan donor dan penerima. Setelah proses yang memakan waktu hampir sembilan bulan, organisasi itu menemukan calon penerima, yakni seorang bocah laki-laki Palestina berusia tiga tahun yang bermukim di Jalur Gaza.

Sebelum memberikan ginjalnya, Idit menyempatkan diri untuk menulis sebuah surat untuk bocah tersebut dalam bahasa Ibrani, yang kemudian diterjemahkan temannya ke bahasa Arab sehingga dapat dimengerti anak dan keluarga bocah itu. Isi surat itu dibacakan Idit dalam bahasa Inggris ke kantor berita Associated Press.

“Sayang, nama saya Idit, kamu tidak mengenal saya, kamu tidak mengerti bahasa saya, dan saya tidak mengerti bahasamu. Kamu tidak mengenal saya, tetapi kita akan segera menjadi sangat dekat karena ginjal saya akan berada di tubuh kamu. Saya benar-benar berharap bahwa operasi ini akan berhasil dan kamu akan hidup lama dan menjalani hidup yang sehat dan bermakna,“ jelasnya.

Idit merahasiakan nama keluarga bocah itu, karena sensitifnya isu yang melibatkan interaksi keluarga Israel dan keluarga Palestina. Ia bahkan merahasiakan asal usul bocah itu dari keluarganya selama berbulan-bulan.

Idit Harel Segal, berpose di depan rumahnya di Eshhar, Israel, 13 Juli 2021. (AP Photo/Maya Alleruzzo)
Idit Harel Segal, berpose di depan rumahnya di Eshhar, Israel, 13 Juli 2021. (AP Photo/Maya Alleruzzo)

Setelah identitas bocah itu terungkap, keputusan Idit ini mendapat tentangan dari keluarganya. Suaminya dan anak tertua dari tiga anaknya, seorang pria berusia awal 20-an, menentang rencana tersebut. Ayah Idit bahkan berhenti berbicara dengannya. Bagi mereka, kata Idit, ia tidak perlu mempertaruhkan nyawanya untuk seorang Palestina.

Apalagi rencana Idit untuk menjalani operasi ginjal itu berlangsung Juni 2021, hanya sebulan setelah terjadinya perang selama 11 hari antara Israel dan kelompok militan Palestina. Tiga kerabat Idit, termasuk kedua orang tua ayahnya, tewas akibat serangan pihak Palestina dalam perang itu.

"Keputusan untuk mendonorkan ginjal benar-benar keputusan saya sendiri. Ketika saya diberitahu kepada siapa saya akan mendonorkan ginjal, saya merahasiakan informasi itu. Terutama karena fakta bahwa kedua orang tua ayah saya tewas dalam serangan teror Palestina, dan pamannya ayah juga terbunuh dalam serangan teror itu. Jadi, ini adalah masalah yang sangat sensitif yang bisa menimbulkan krisis, jadi saya memutuskan untuk tidak memberitahu," lanjutnya.

Namun, tekad Idit sudah bulat. Ia bahkan berharap, apa yang dilakukannya bisa menunjukkan kepada keluarga Israel dan keluarga Palestina mengenai pentingnya toleransi. Ia berharap bahwa akan ada lebih banyak orang mengambil tindakan serupa sehingga tidak akan ada lagi pertikaian.

"Jauh di lubuk hati, saya tahu saya melakukan sesuatu yang baik. Dan memang benar itu tidak akan menyelesaikan konfik Israel-Palestina, tetapi ini bermakna. Dan jika dunia mengerti bahwa kita pada dasarnya adalah orang baik, dan bahwa ada orang baik di Israel yang menginginkan perdamaian, mungkin sesuatu dalam kepemimpinan di Gaza akan berubah, yang akan membuat mereka mengerti bahwa kita sangat menginginkan perdamaian,” imbuh Idit.

Etika donasi organ didasarkan pada prinsip bahwa donor harus menyumbangkannnya atas kehendak sendiri dan tidak mendapatkan imbalan apa pun. (Foto: ilustrasi)
Etika donasi organ didasarkan pada prinsip bahwa donor harus menyumbangkannnya atas kehendak sendiri dan tidak mendapatkan imbalan apa pun. (Foto: ilustrasi)

Matnat Chaim, sebuah organisasi nonpemerintah di Yerusalem, adalah lembaga yang mengoordinasikan niat Idit. Pemimpin eksekutif organisasi itu, Sharona Sherman, mengaku sulit merealisasikannya namun bukan mustahil. Apalagi, bocah itu tidak masuk daftar prioritas penerima ginjal.

Bocah Palestina itu dapat menjalani transplantasi ginjal dari Idit setelah ayah bocah itu sepakat mendonorkan salah satu ginjalnya ke orang Israel, atau, tepatnya, perempuan berusia 25 tahun yang memiliki dua anak. Pengorbanan ayah bocah itu, mendorong bocah itu masuk daftar prioritas.

Pada hari yang sama putranya menerima ginjal baru, sang ayah menyumbangkan salah satu ginjalnya sendiri ke perempuan Israel itu.

Di beberapa negara, kesepakatan donor organ timbal balik tidak diperbolehkan karena menimbulkan pertanyaan apakah donor telah dipaksa. Etika donasi organ didasarkan pada prinsip bahwa donor harus menyumbangkannnya atas kehendak sendiri dan tidak mendapatkan imbalan apa pun. Namun di Israel, sumbangan organ dari keluarga penerima organ donor dipandang sebagai insentif untuk meningkatkan jumlah pendonor.

Idit sendiri sulit melupakan interaksinya dengan keluarga Palestina itu. "Ada momen yang sangat spesial. Sang ibu mencoba menidurkan bocah itu, saya bertanya apakah mereka membolehkan saya tinggal bersama bocah itu, dan sang ibu setuju. Ada situasi yang sangat mengharukan. Sang ibu berada di tempat tidur, dan bocah laki-laki kecil itu di sebelahnya. Sang ibu membelai telinganya dan saya menyanyikan lagu untuknya, dalam bahasa Ibrani. Ia tertidur, lalu saya pergi. Saya menangis. Benar-benar mengharukan," jelasnya.

"Setelah itu saya mengundang sang ayah untuk minum kopi di kafetaria rumah sakit. Kami minum kopi. Melalui pembicaraan video WhatsApp, ia menunjukkan kepada teman-temannya di Gaza siapa perempuan yang mendonorkan ginjalnya untuk putranya. Seluruh prosesnya terasa aneh tapi menyenangkan," imbuh Idit. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG