Tautan-tautan Akses

Taliban Remehkan Rencana Penambahan Pasukan AS ke Afghanistan


Pasikan Khusus Afghanistan dan polisi bersiap untuk berperang melawan Taliban di pinggiran kota Lashkar Gah, ibukota Helmand, Afghanistan, 10 Oktober 2016. (Foto: dok).

Taliban meremehkan rencana Amerika mengirim 300 tentara tambahan ke provinsi Helmand, Afghanistan Selatan dengan mengatakan, tidak ada artinya dan “semata-mata hanya untuk memberi semangat” kepada pasukan “dengan harapan mereka dapat bertahan sampai musim semi”.

Pemberontak telah merebut sebagian besar daerah-daerah di Helmand sejak NATO mengakhiri misi tempurnya dan sebagian besar pasukan Amerika ditarik tahun 2014 dari provinsi penghasil candu terbesar di Afghanistan itu.

Dengan bantuan kekuatan udara dan penasehat militer Amerika di darat, pemerintah Afghanistan dalam beberapa bulan ini telah mampu mengendalikan kekuasaan di ibukota provinsi, Lashkar Gah, yang telah menjadi sasaran serangan Taliban.

Pemberontakan kelompok Islamis telah mencapai kemajuan meskipun adanya kehadiran pasukan asing yang dipimpin Amerika dan “kedatangan ratusan tentara lagi, tidak akan mencegah kemajuan mereka,” kata pernyataan Taliban hari Minggu.

Pernyataan itu seterusnya menegaskan, “tindakan itu adalah upaya sia-sia terakhir Presiden Barack Obama.”

Korps Marinir Amerika mengumumkan pekan lalu, akan mengerahkan satuan tugas berkekuatan 300 marinir ke provinsi yang gawat itu tahun ini, sebagai bagian dari misi penasehat NATO di negara itu.

“Korps marinir mempunyai sejarah operasi di Afghanistan, khususnya di provinsi Helmand” dan “akan membantu mempertahankan kemajuan yang dicapai bersama dengan pasukan Afghanistan,” katanya.

Pengumuman itu datang di tengah kekhawatiran bahwa kemajuan medan tempur tahun 2016 telah memungkinkan Taliban meningkatkan operasi besar pada pertempuran musim panas mendatang.

AS mempertahankan sekitar 8.500 pasukan di Afghanistan di bawah pelatihan dan penasihat misi NATO. Pasukan itu juga bertugas melakukan operasi anti-teroris independen terhadap militan yang terkait dengan Al-Qaeda dan ISIS.

Tetapi masa depan misi militer AS tidak jelas, karena Presiden terpilih Donald Trump tidak mengatakan apapun tentangoperasi di Afghanistan, yang telah menjadi perang terlama Amerika.

Namun, seorang diplomat senior Amerika meyakinkan para pemimpin Afghanistan dalam kunjungannya ke Kabul hari Sabtu, bahwa Amerika bertekad untuk membantu perdamaian, kemakmuran dan keamanan negara mereka.

"Tekad kami untuk Afghanistan tidak berakhir pada 20 Januari (ketika Trump mengambil sumpah jabatan), justru sebaliknya akan bertambah kuat dankepentingan strategis dari hubungan ini jelas bagi semua," kata Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Politik, Thomas Shannon. (ps/Isa)

XS
SM
MD
LG