Tautan-tautan Akses

Suriah, Rusia Tingkatkan Serangan Udara Menjelang Pembicaraan Perdamaian Baru di Jenewa


Asap hitam mengepul pasca serangan udara oleh pasukan Suriah, di Jobar, Damaskus, Suriah, 7 Februari 2017. (Foto: dok).
Asap hitam mengepul pasca serangan udara oleh pasukan Suriah, di Jobar, Damaskus, Suriah, 7 Februari 2017. (Foto: dok).

Pembicaraan antara pemerintah Suriah dan pasukan oposisi yang bertujuan untuk mengakhiri perang enam tahun, dimulai kembali hari Selasa (28/11) di Jenewa. Hampir setengah juta orang tewas sejak Presiden Bashar al-Assad melakukan penindakan keras terhadap pemberontakan yang berlangsung pada Musim Semi Arab 2011.

Seperti yang dilaporkan wartawan VOA Henry Ridgwell dari London, beberapa kekuatan regional dan global telah turun tangan dalam konflik dan merekalah yang kemungkinan besar akan mengarahkan persyaratan dalam perjanjian perdamaian.

Meskipun berlangsung pembicaraan, bom-bom terus berjatuhan. Organisasi Syrian Observatory for Human Rights menyatakan lebih dari 50 orang tewas akibat serangan udara Rusia hari Minggu terhadap daerah yang dikuasai ISIS di Suriah Timur.

Moskow mengukuhkan bahwa pesawat-pesawat pengebomnya melancarkan serangan tersebut, tetapi hanya militanlah yang tewas.

Sejak memasuki perang di Suriah pada tahun 2015, Rusia telah mengatasi kehilangan territorial besar-besaran yang semula dialami pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Jane Kinninmont dari lembaga kajian kebijakan internasional Chatham House di London mengatakan, "Jadi meskipun Rusia sekarang berperan sebagai juru damai, intervensi militernyalah yang benar-benar mulai menciptakan apa yang dianggap sebagai bangkitnya kemenangan bagi Bashar al-Assad."

Assad dibantu oleh oposisi yang terpecah-pecah. Tetapi untuk pertama kalinya dalam pembicaraan di Jenewa, faksi-faksi yang terpecah itu akan diwakili oleh delegasi tunggal yang bersatu. Mereka menuntut agar Assad tidak memainkan peran apapun di dalam masa depan Suriah.

Nasr al Hariri, ketua tim perunding oposisi mengatakan, semua yang ada di meja perundingan siap untuk didiskusikan.

Negara-negara Barat menuduh pemerintah Assad melakukan pelanggaran berat HAM, termasuk di antaranya pengeboman terhadap warga sipil serta penganiayaan dan pembunuhan yang meluas. Tetapi tuntutan mereka agar Assad disingkirkan dari kekuasaan telah mereda.

Sementara Rusia dan Iran mendukung Assad, negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, mendukung kelompok-kelompok oposisi moderat yang bertempur melawan ISIS. Pasukan Kurdi menguasai daerah-daerah di utara, ini membuat berang Turki, yang telah mengirim pasukan ke Suriah. Sementara itu menurut Kinninmont, semua pihak telah letih akan perang.

"Konflik di Suriah diawali oleh penyebab lokal, tetapi membesar antara lain karena intervensi internasional. Jadi ada kemungkinan untuk meredakan konflik antara lain karena kekuatan internasional tidak benar-benar ingin memperbesar perang ini lagi. Namun, tujuan pemberontakan semula untuk melawan kediktatoran, untuk memiliki kehidupan yang lebih bermartabat di Suriah, belum ada satupun yang tercapai," kata Jane Kinninmont.

Sementara berkenaan dengan konflik, kekuatan-kekuatan yang saling bersaing kini berupaya untuk mempengaruhi tercapainya perdamaian. Rusia melancarkan babak pembicaraan baru pekan lalu yang terpisah dari proses Jenewa, di kota peristirahatan Sochi di Laut Hitam. Kelompok-kelompok oposisi Suriah berselisih pendapat mengenai apakah akan terlibat dalam pembicaraan itu.

Sementara itu Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan pentingnya pembicaraan Jenewa dalam percakapan telepon pekan lalu. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG