Tautan-tautan Akses

Studi: Perang, Konflik Picu Impor Senjata ke Timur Tengah, Asia


Anggota pasukan keamanan Saudi Arabia dalam sebuah parade militer untuk mempersiapkan keamanan menjelang musim ibadah haji di Mekkah, 17 September 2015.
Anggota pasukan keamanan Saudi Arabia dalam sebuah parade militer untuk mempersiapkan keamanan menjelang musim ibadah haji di Mekkah, 17 September 2015.

Impor senjata ke Timur Tengah dan Asia makin marak selama lima tahun terakhir, didorong oleh perang dan ketegangan di kawasan-kawasan tersebut, menurut sebuah studi yang dirilis Senin (12/3), AFP melaporkan.

Pada periode 2013-2017, impor senjata ke negara-negara berkonflik di Timur Tengah meningkat lebih dari dua kali lipat, sebanyak 103 persen dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya, menurut kalkulasi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Dan penjualan ke Timur Tengah menyumbang 32 persen dari seluruh impor senjata di seluruh dunia.

SIPRI adalah lembaga independen yang memonitor pengiriman senjata berdasarkan volume selama periode lima tahun untuk menghilangkan fluktuasi jangka pendek.

Arab Saudi adalah negara pengimpor senjata kedua terbesar di dunia setelah India, menurut laporan SIPRI. Arab Saudi sedang berperang melawan pemberontak Houthi Syiah yang didukung oleh Iran, pesaing di kawasan itu.

Amerika Serikat dan Inggris memasok masing-masing 61 persen dan 23 persen impor senjata ke Arab Saudi.

Baca: Senator AS akan Izinkan Penjualan Senjata ke Teluk Persia

Pada Jumat (9/3), Inggris menandatangani pemesanan awal 48 pesawat tempur Eurofighter Typhoon senilai miliaran pound dari Arab Saudi, produsen peralatan militer, BAE Systems mengumumkan. Kesepakatan ini menuai protes dan perdebatan di Inggris, termasuk dari lembaga swadaya masyarakat, Save The Children, yang menempatkan patung anak dekat gedung parlemen, karena dianggap berkontribusi pada kekerasan di kawasan itu.

.“Meluasnya konflik kekerasan di Timur Tengah dan keprihatinan mengenai hak-hak asasi manusia telah memunculkan perdebatan politik di Eropa Barat dan Amerika Utara mengenai pembatasan penjualan senjata,” kata Peter Wezeman, peneliti senior SIPRI.

“Namun AS dan negara-negara Eropa tetap menjadi pengekspor utama senjata ke kawasan tersebut dan memasok lebih dari 98 persen senjata yang diimpor oleh Arab Saudi.”

Tentara India bersiap di dekat lokasi baku tembak di pinggiran Srinagar, 22 Februari 2016.
Tentara India bersiap di dekat lokasi baku tembak di pinggiran Srinagar, 22 Februari 2016.

Pertumbuhan permintaan India

Meski demikian, Asia dan Oceania adalah kawasan terbesar untuk impor senjata, mencapai 42 persen dari total impor senjata global pada 2013-2017, menurut SIPRI.

India adalah importir senjata terbesar di dunia dengan membeli 62 persen dari total impor senjata dari Rusia.

Pada waktu yang sama, pengiriman senjata ke India, dari AS sebagai pengekspor senjata terbesar di dunia naik lebih dari enam kali lipat dalam periode lima tahun, berdasarkan kalkulasi SIPRI.

“Ketegangan antara India, di satu sisi, dan Pakistan dan China di sisi lain, mendorong kebutuhan India untuk senjata-senjata utama yang masih belum bisa diproduksi sendiri,” kata peneliti SIPRI yang lain, Siemon Wezeman.

Beijing adalah pemasok utama senjata untuk Myanmar dengan menyuplai 68 persen kebutuhan impor senjata Myanmar. Impor senjata China sendiri naik sebanyak 38 persen dalam periode lima tahun.

China juga memasok 70 persen senjata impor untuk Bangladesh dan 70 persen impor senjata untuk Pakistan, pesaing persenjataan nuklir India. [ft]

XS
SM
MD
LG