Tautan-tautan Akses

Studi Kaitkan Media Sosial dan Depresi


Logo beberapa sosial media yang diunduh pada sebuah smartphone di Chennai, 22 Maret 2018. (Foto: dok).

Para peneliti di Universitas Pennsylvania mengatakan untuk pertama kalinya mereka mengaitkan penggunaan sosial media dengan meningkatnya depresi dan kesepian.

Gagasan adanya hubungan antara media sosial dan kesehatan mental telah menjadi pembicaraan selama beberapa tahun, tetapi belum banyak kajian yang berhasil menghubungkan keduanya.

Untuk itu Universitas Pennsylvania, dipimpin psikolog Melissa Hunt, merancang sebuah studi yang memusatkan perhatian pada Facebook, Snapchat dan Instagram. Hasilnya diterbitkan di Jurnal Psikologi Sosial dan Klinis, edisi November ini.

Penelitian yang dilakukan atas 143 orang, yang sebelum mulai dikaji telah menyelesaikan survei tentang suasana hati mereka dan mengirim foto batere di layar yang menunjukkan seberapa sering mereka menggunakan telpon untuk mengakses media sosial.

‘’Kami ingin melakukan studi yang lebih komprehensif dan ketat, yang secara ekologis juga lebih valid,’’ ujar Hunt. Terminologi ‘’ekologi’’ itu berarti kajian dimaksudkan untuk meniru kehidupan di dunia nyata.

Penelitian itu membagi peserta ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diijinkan untuk mempertahankan kebiasaan mereka menggunakan media sosial. Sementara kelompok kedua dibatasi hanya boleh menggunakan waktu selama 10 menit setiap hari untuk mengakses tiga platform media sosial utama: Facebook, Snapchat dan Instagram.

Pembatasan itu dilakukan selama tiga minggu dan kemudian para peserta kembali untuk diuji dengan beberapa hal, termasuk soal kekhawatiran akan rasa kehilangan, kecemasan, depresi dan kesepian.

Hasil Penelitian Tunjukkan Hubungan Kuat Media Sosial dan Depresi-Kesepian

Hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang sangat jelas antara penggunaan media sosial dan peningkatan tingkat depresi dan kesepian.

‘’Menggunakan lebih sedikit media sosial dibanding biasanya, akan menyebabkan penurunan depresi dan kesepian,’’ ujar Hunt. “Dampak ini terutama sangat terasa pada peserta yang merasa lebih tertekan.”

Hunt menyebut temuan itu sebagai “ironi besar’’ dalam media sosial.

Apa yang membuat media sosial justru menimbulkan rasa depresi?

Hunt mengatakan ada dua hal utama : pertama, media sosial menunjukkan apa yang oleh Hunt disebut sebagai “perbandingan sosial ke bawah.” Ketika Anda menggunakan media sosial, kadang-kadang kelihatan bahwa “setiap orang lebih keren, lebih sering bersenang-senang dan ini membuat Anda merasa ditinggalkan atau terkucil,” ujarnya. Ini merupakan demoralisasi.

Faktor kedua lebih besar nuansanya. “Setiap menit yang Anda habiskan di dunia maya adalah menit-menit di mana Anda tidak bekerja, tidak bertemu teman untuk makan malam atau bicara panjang lebar dengan teman,” ujar Hunt. Padahal kegiatan-kegiatan di dunia nyata ini adalah kegiatan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan bagaimana Anda memandang diri sendiri.

Jadi Apa Artinya?

Orang-orang akan tetap menggunakan piranti mereka dan ini tidak akan berubah. Tetapi sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan, perlu sedikit perubahan. “Secara umum saya ingin mengatakan, lupakan telpon Anda dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang,” ujar Hunt.

Penelitian ini pertama-tama dilakukan secara eksklusif hanya pada orang berusia 18-22 tahun, dan belum jelas apakah dampak media sosial pada depresi akan terjadi pada generasi lain, pada orang yang berusia lebih tua atau lebih muda. Tetapi Hunt memperkirakan hasilnya akan sama, setidaknya pada orang yang berusia hingga 30 tahun.

Hunt kini memulai studi untuk mengkaji dampak emosional aplikasi kencan. [em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG