Tautan-tautan Akses

Spanyol Selidiki Misteri Ledakan dan Imam yang Hilang


Masyarakat berkumpul di lokasi penghormatan di mana sebuah mobil van menabrak para pejalan kaki di Las Ramblas di Barcelona, Spanyol, 19 Agustus, 2017.

Seorang imam yang hilang dan ledakan di sebuah rumah beberapa hari lalu menjadi pusat perhatian aparat keamanan di Spanyol hari Sabtu (19/8) ketika menyelidiki sel ekstremis yang bertanggungjawab terhadap dua serangan berdarah di Barcelona dan di resor dekat kota itu.

Tim penyelidik menggeledah rumah Abdelbaki Es Satty, seorang imam yang pada Juni lalu secara tiba-tiba berhenti bekerja di sebuah mesjid di kota Ripoll, dimana beberapa orang radikal yang melancarkan serangan di Barcelona tinggal. Serangan pada hari Kamis (17/8) itu menewaskan 14 orang dan melukai lebih dari 120 orang. Polisi masih berupaya menentukan apakah Es Satty tewas ketika sedang membuat bom rakitan hari Rabu (16/8), sehari sebelum serangan di Barcelona itu.

Pengelola mesjid dimana Es Satty pernah bekerja telah mengutuk serangan berdarah itu dan ikut serta dalam pawai mengenang para korban di lapangan Ripoll hari Sabtu, bahkan dengan air mata berlinang mereka menyangkal tahu tentang rencana orang-orang radikal yang tinggal di kota itu. Sedikitnya satu tersangka masih buron, adik tersangka itu hilang dan satu dari lima penyerang lainnya tewas di tangan polisi.

Kepolisian Catalan mengatakan upaya pencarian kini dipusatkan pada Younes Abouyaaquoub, seorang warga Maroko berusia 22 tahun yang diduga mengendarai mobil van dan kemudian menabrakkannya ke kerumunan pejalan kaki di Barcelona hari Kamis (17/8). Serangan lain yang terjadi Jum’at pagi (18/8) di resor Cambrils menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya.

Kelompok ISIS mengklaim bertanggungjawab terhadap kedua serangan itu.

Associated Press melaporkan aparat kini mengetahui adanya sel kelompok radikal yang berkembang di Ripoll, sebuah kota di kaki bukit Catalan, di dekat perbatasan Perancis, atau 100 kilometer dari Barcelona. Kepolisian Spanyol telah menggeledah sembilan rumah di Ripoll, termasuk rumah Es Satty, dan juga dua bis penumpang. Aparat juga telah memasang penghalang jalan dan memeriksa setiap mobil yang memasuki kota itu. Di seberang Pyrenees, aparat Perancis melakukan pemeriksaan keamanan lebih ketat terhadap setiap orang yang datang dari Spanyol.

Para tetangga, keluarga dan bahkan walikota Ripoll mengatakan mereka semua terkejut dengan berita keterlibatan beberapa laki-laki yang tinggal di kota itu, yang semuanya digambarkan sebagai warga yang sudah sangat terintegrasi dengan Spanyol meskipun memiliki latar belakang yang beranekaragam. [em]

XS
SM
MD
LG