Tautan-tautan Akses

Sosialisasi Tuberkulosis Lewat 7 Film Pendek Karya Pelajar Sekolah


Peserta film pendek dari siswa-siswi pelajar SMA di Indonesia tentang Tuberkulosis berfoto bersama penyelenggara acara di antaranya dari USAID TB Challenge di @america Jakarta Jum’at 23 Maret 2018.

Pemerintah Amerika Serikat, melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), menyelenggarakan pemutaran tujuh film pendek karya pelajar sekolah menengah atas di Indonesia tentang Tuberkulosis atau TBC.

Pemutaran film yang dilangsungkan di @america, Pusat Kebudayaan Amerika yang dinaungi Kedutaan Besar Amerika di Jakarta pada hari Jum’at (23/5) ini merupakan bagian dari kampanye memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 24 Maret.

Bey Sonata, salah seorang direktur di Challenge TB Indonesia kepada VOA menjelaskan target kegiatan ini adalah anak-anak muda, lewat media film pendek. Tema besar dari film yang dibuat adalah seputar Tuberkulosis.

"Salah satu target utama itu memang kalangan usia muda. Media yang sangat pas untuk mereka itu kan sosial media yang coveragenya sangat luas. Sehingga dengan mudah dapat disebarkan. Tentunya untuk mudah bisa memasukkan ide-ide tentang tuberkulosis ke teman-teman sekolah sebaya mereka. Kalau hanya penyuluhan itu kan ya sangat konservatif ya," jelasnya.

Bey menambahkan para pelajar ini mendapatkan manfaat lebih dari kegiatan tersebut karena selain mendapat informasi seputar tuberkulosis, mereka sekaligus juga belajar membuat film pendek.

Sosialisasi Tuberkulosis Lewat Tujuh Film Pendek Karya Pelajar Sekolah
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:00 0:00

"Tidak hanya kita memberikan penyuluhan kepada teman-teman ini, tetapi lebih mengarah mengajak mereka untuk mengerti lebih jauh (soal Tuberkulosis) dan (sekaligus) berkarya lebih untuk ke kalangan mereka sendiri. Syutingnya juga tidak terlalu sulit. Kita punya potensi dari teman-teman. Walaupun belum pengalaman syuting, tapi mereka dengan potensi yang ada mereka bisa keluarkan. Dan itu terlihat mereka bisa kasih keluar karakter orang Papua aslinya di film ini," ujar Bey.

Nikita de Fretes, siswi SMA YPPk Teruna Bhakti Jayapura Papua yang merupakan salah seorang peserta mengatakan senang sekali dengan kegiatan ini meski awalnya harus bersusah payah dalam membuat naskah film.

"Saya menulis naskah ini sampai 4 kali.. soalnya ada banyak pertimbangan untuk menambahkan unsur komedi. Dibantu oleh guru saya," kata Nikita.

Nikita berharap pesan himbauan mengatasi tuberkulosis ini dapat di tangkap masyarakat yang menonton film ini.

"Yang pertama kita mau sampaikan apa itu tuberkolosis. Kita di sini juga mau mengangkat program pemerintah yang bisa membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah tuberkulosis ini," jelasnya.

Peserta lain dari SMA Negeri 2 Jakarta yang juga bertindak sebagai sutradara, Aileen, mengatakan kepada VOA tentang kendala-kendala yang ditemuinya selama membuat film pendek ini. Mulai urunan dana pembuatan film yang sangat terbatas hingga syuting film yang berulang-ulang karena masalah tekhnis.

"Terbatas banget dana sama perlengkapannya. Dananya itu kita sendiri yang kolekan (urunan) gitu. Trus pas pembuatan film itu sempet file nya hilang. Lalu suaranya ga kedengaran. Akhirnya harus syuting ulang. Trus kameranya sempat pecah LCD nya gitu," kata Aileen.

Fia Agustina yang juga dari SMA Negeri 2 Jakarta selaku produser film, berharap masayarakat menjadi paham bahwa tuberkulosis bisa disembuhkan.

Fia mengatakan, "Harapan kita sih jadinya orang-orang tau bahwa tuberkulosis itu bisa disembuhkan. Terus gejala-gejalanya itu orang jadi lebih aware kalau batuk-batuk yang berdarah itu harus diperiksa ke dokter karena bisa aja itu gejala tuberkulosis.

Sementara itu Froza peserta dari SMA Negeri 5 Medan Sumatera Utara bersama rekan-rekannya mencari informasi dari berbagai sumber sebelum membuat film pendek.

"Kami ikut penyuluhan dan pelatihan seputar tuberkolosis ini. lalu kami juga cari informasi dari internet. Dari kita dapat informasinya dari berbagai sumber," ujar Froza.

Pertiwi, rekan dari Froza, yang bertugas selaku penulis naskah mengaku tidak mendapat kesulitan berarti selama pembuatan film pendek bertemakan tuberkulosis.

"Nda ada yang sulit ya. Semua (kawan-kawan) sama-sama semangat mau bikin film. Dan mereka terima-terima aja mau berperan sebagai apa," katanya.

Pembuat film independen Lexy Rambadeta berbicara soal film pendek dalam sosialisasi tuberkulosis di @america Jakarta Jum’at 23 Maret 2018.
Pembuat film independen Lexy Rambadeta berbicara soal film pendek dalam sosialisasi tuberkulosis di @america Jakarta Jum’at 23 Maret 2018.

Pembuat film Lexy Rambadeta sangat mengapresiasi pesan-pesan pendidikan dan informasi seputar tuberkulosis melalui film yang dibuat oleh para pelajar ini. Meski ada kendala yang ditemui para peserta, Lexy melihat ada potensi besar dari para peserta menjadi seorang sineas muda.

Ia mengatakan, "Cukup berhasil ya inisiatif ini. Antara pihak pemerintah Indonesia, @america, USAID tentu saja. Filmnya itu secara tekhnis bagus, secara pesan juga edukatif. Walaupun masih banyak kekurangan, karena pembuatnya masih remaja. Tetapi menarik sekali keberhasilan itu bagi saya. Karena anak-anak SMA itu mau dan sangat semangat untuk memproduksi konten berupa audio visual berupa film."

Dalam kegiatan ini, Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Pusat Pengembangan Film Kementeriandan Kebudayaan, Yayasan KNCV Indonesia, BRI (Bank Rakyat Indonesia), dan UOB Indonesia.

Setelah mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh USAID TB Challenge tentang pembuatan film dengan tujuan pendidikan di tiga lokasi selama tahun 2017 dan 2018, para siswa/i sekolah menengah atas dari tiga provinsi (DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Papua) telah menghasilkan 21 film pendek untuk mengubah perilaku bagaimana memperlakukan mereka yang terkena TBC.

Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati setiap 24 Maret setiap tahunnya, ditujukan untuk membangun kesadaran umum tentang wabah tuberkulosis serta usaha-usaha untuk mengurangi penyebaran wabah tersebut.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia PBB WHO tahun 2015, diperkirakan ada satu juta kasus TBC baru per tahun (391 per 100.000 penduduk) dengan angka kematian (42 per 100.000 penduduk). TBC dapat dicegah dan dihindari, bila timbul gejala batuk berdahak, nyeri dada, sesak nafas, berat badan turun, sering berkeringat di malam hari tanpa sebab yang jelas, dan dapat pula timbul batuk disertai darah bila kondisi sudah parah. Jika muncul gejala itu Kementerian Kesehatan meminta agar masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Obat TBC berkualitas disediakan oleh pemerintah secara gratis di puskesmas atau rumah sakit pemerintah. [al/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG