Tautan-tautan Akses

Skylands Sanctuary: “Suaka Bagi Hewan Terlantar”


Para pekerja dari sebuah tempat penampungan hewan menggendong anak anjing bernama Apple setibanya di New York, dari Mississippi, 4 April 2019.

Dari kejauhan, Skylands terlihat seperti peternakan biasa. Namun hewan-hewan yang ada di peternakan itu tidak untuk dijual ke rumah jagal. Berkat Mike Stura, pendiri suaka Skylands, mereka menjalani kehidupan terbaiknya.

“Saya dulu adalah seorang supir dan montir truk,” kata Stura.

Sekitar lima tahun lalu Stura tidak membayangkan akan memiliki semua lahan ini, dan juga sapi serta domba yang berlari-lari menyambutnya.

“Evelyn! Spencer! Ayolah Adam! Kalian anak baik,” ujar Stura memanggil hewan-hewannya.

Kini lebih dari 250 hewan tinggal di suaka ini.

Semuanya diawali dengan seekor anak sapi bernama Jimmy. Mantan pemiliknya menempatkan Jimmy di jendela toko, dikelilingi oleh labu sebagai cara menarik pelanggan. Selama beberapa hari Jimmy dibiarkan tanpa makan dan minum, hampir sekarat dan akan mati jika Sutra tidak membawanya ke dokter hewan yang jauh dari tempat tinggalnya.

“Jimmy terlihat mengenaskan! Saya mengemudi selama empat jam setiap kali ke dokter dan duduk bersamanya. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan saya dan saya membacakan buku-buku untuknya.Ketika saya kembali pulang ke rumah, saya merasa sedih,” kenang Stura.

Kesehatan Jimmy membaik, tetapi Stura tidak dapat beristirahat karena ada banyak hewan yang ditelantarkan atau diperlakukan secara tidak layak seperti Jimmy. Ia kemudian mendapat banyak permintaan untuk membantu hewan-hewan yang membutuhkan pertolongan.

Seorang petugas kepolisian dari Kepolisian New York menggendong kambing pygmy yang ditemukan di pekarangan. Kambing itu akan dibawa ke tempat penampungan hewan, Skylands Sanctuary and Rescue di Wantage, N.J, 24 April 2019. (Foto: NYPD via AP)
Seorang petugas kepolisian dari Kepolisian New York menggendong kambing pygmy yang ditemukan di pekarangan. Kambing itu akan dibawa ke tempat penampungan hewan, Skylands Sanctuary and Rescue di Wantage, N.J, 24 April 2019. (Foto: NYPD via AP)

“Tidak ada alasan mengapa saya mengambil hewan-hewan ini. Saya hanya merasa bahwa tidak ada orang lain yang akan merawat mereka,” tutur Stura.

Seekor sapi bernama Red berasal dari Florida. Stura menyelamatkannya setelah badai Florence menghantam negara bagian itu.

“Pukul 2.15 pagi, bayi kecil ini ada di sini,” kata Stura.

Setiap hewan punya kisah tersendiri.

Seekor sapi bernama Briana, melompat dari truk berkecepatan tinggi. Setelah Stura membawanya ke Skylands, ia meminta dokter hewan memeriksa Briana.“Dokter hewan yang memeriksanya mengatakan sapi itu sedang bunting, dan akan melahirkan dalam satu-dua minggu. Anak sapi itu kini berusia delapan bulan dan sangat sehat. Keduanya selalu bersama-sama setiap hari,” kata Stura.

Stura tidak memelihara sapi untuk menghasilkan susu atau menternakannya. Ia memelihara hewan-hewan ini karena mereka layak mendapatkan hidup yang baik. Meskipun ada bantuan dari para sukarelawan, Stura harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan hewan yang mencapai AS$750 atau sekitar Rp 10.5 juta per hari. Biaya medis malah lebih tinggi lagi.

“Tidak ada satu ekor sapi pun yang merasa mereka dilahirkan untuk dimakan oleh manusia. Mereka tidak berpikir demikian, karena ini benar-benar konsep manusia, bahwa sebagian dari mereka adalah hewan peliharaan, sebagian teman, sebagian merupakan anggota keluarga dan sebagian lainnya untuk dimakan,” katanya.

Stura yakin sama seperti kita, hewan dilahirkan untuk memiliki kehidupan yang bahagia, jadi itulah yang akan diberikannya. [em/ii]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG