Tautan-tautan Akses

Sistem 'Checks and Balances' AS pada Era Trump


Presiden terpilih AS, Donald Trump di gedung Trump Tower, Manhattan, New York (11/1).

Ketika Donald Trump menjabat tanggal 20 Januari nanti, ia harus berhadapan dengan sistem rumit 'checks and balances' yang dirancang untuk mencegah presiden menggunakan kekuasaan secara berlebihan.

Pada debat presiden bulan Maret lalu, Donald Trump ditanya mengenai janji kampanyenya untuk menggunakan kembali teknik interogasi waterboarding dan bentuk-bentuk penyiksaan lain terhadap tersangka teroris.

Moderator khususnya ingin mengetahui bagaimana Trump akan menanggapi jika para pemimpin militer menolak perintahnya untuk menggunakan metode-metode interogasi keras semacam itu yang tidak diperbolehkan hukum internasional.

Trump meyakinkan moderator itu “mereka tidak akan menolak” sambil dengan yakin menggelengkan kepalanya dan mengarahkan telunjukknya di dadanya. “Mereka tidak akan menolak perintah saya,” katanya.

Pengusaha real estate itu yang berkampanye dengan janji untuk menjalankan negara seperti bisnis dan tidak punya pengalaman di pemerintahan lagi-lagi merujuk pada kemampuan bisnisnya.

“Saya selalu menjadi pemimpin. Saya tidak pernah punya masalah memimpin orang,” kata Trump.

“Jika saya mengatakannya, mereka akan melakukannya. Itulah pemimpin,” tambahnya.

Masalahnya adalah ketika Trump menjabat tanggal 20 Januari ia akan berhadapan dengan sistem rumit pengawasan dan keseimbangan (checks and balances) yang dirancang untuk mencegah presiden atau lembaga pemerintah menggunakan kekuasaan secara berlebihan.

Tidak seorangpun yang mengetahui dengan pasti apakah Presiden Trump akan berusaha memerintah seperti calon presiden Trump. Tapi jika Trump benar menjalankan beberapa janji-janji kampanyenya yang lebih kontroversial, lembaga-lembaga mana yang akan menahannya?.

Lembaga-lembaga itu adalah Kongres, Pengadilan, masyarakat madani, kebebasan pers, sistem pemerintahan federal, pegawai negeri yang dilindungi UU dan pemilu. [my/al]

XS
SM
MD
LG