Tautan-tautan Akses

Setahun Kematian Floyd, Kulit Hitam AS Masih Alami Trauma 


Jerlano Bell dari North Carolina menunjukkan poster George Floyd dalam pawai mengenang satu tahun kematiannya, di luar Pusat Pemerintah Hennepin County di Minneapolis, Minnesota, 23 Mei 2021. (Foto: Reuters)
Jerlano Bell dari North Carolina menunjukkan poster George Floyd dalam pawai mengenang satu tahun kematiannya, di luar Pusat Pemerintah Hennepin County di Minneapolis, Minnesota, 23 Mei 2021. (Foto: Reuters)

Sudah setahun sejak video kematian orang kulit hitam Amerika, George Floyd, beredar ke seluruh dunia hingga memicu kemarahan berbulan-bulan, protes keadilan ras, dan tuntutan diakhirinya kebrutalan polisi di Amerika dan sekitarnya.

Video polisi kulit putih Minneapolis, Derek Chauvin, yang selama lebih dari 9 menit secara fatal menekan leher Floyd yang diborgol di jalan dengan lutut, masih terbayang dalam benak jutaan orang, terutama komunitas Kulit Hitam.

Selama tiga minggu persidangan yang disiarkan televisi secara nasional, video itu menjadi bukti kunci dalam tuntutan pidana terhadap Chauvin. Ia dinyatakan bersalah bulan lalu atas pembunuhan dan pembunuhan tingkat dua. Video itu, yang direkam Darnella Frazier, usia 17 tahun, dengan kamera ponsel, mengguncang bangsa yang sedang dilanda pandemi. Dalam persidangan, Frazier bersaksi bagaimana dia masih dihantui oleh apa yang terjadi.

“Saat saya melihat George Floyd, saya melihat ayah saya, saya melihat saudara laki-laki saya karena mereka semua berkulit hitam,” kenang Frazier.

Presiden Joe Biden menilai putusan itu sebagai "langkah maju" sambil mengakui ketidakadilan yang dialami komunitas Kulit Hitam.

“Itu adalah pembunuhan pada siang hari, dan itu membuka mata seluruh dunia akan rasisme sistemik yang menodai jiwa bangsa kita,” kata Biden.

“Itu adalah lutut di leher keadilan bagi orang kulit hitam Amerika. Rasa sakit, kelelahan yang dialami orang kulit hitam dan coklat Amerika setiap hari."[ka/jm]

XS
SM
MD
LG