Tautan-tautan Akses

Serangan Terhadap Masjid di Selandia Baru Timbulkan Gelombang Kejutan di Dunia Muslim


Seorang polisi berdiri di depan masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, (17/3) pasca insiden penembakan massal, Jumat, 15 Maret 2019. (Foto: dok).

Serangan Jumat lalu terhadap dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, telah mengejutkan dunia Muslim. Wartawan VOA mengunjungi sejumlah Muslim di kawasan Washington DC dan melaporkan bahwa reaksi mereka beragam, mulai dari takut, sedih, hingga tekad untuk bangkit melawan teror. Masjid-masjid di Amerika Serikat meningkatkan keamanan selama sholat Jumat.

Diyanet Center of America di Lanham, Maryland, didirikan pada tahun 1990-an oleh warga Amerika keturunan Turki. Tujuannya adalah untuk memberikan layanan sosial dan keagamaan bagi para imigran Turki. Sekarang ini, Diyanet Center menjadi organisasi besar dengan afiliasi di berbagai penjuru Amerika. Kompleksnya yang baru di Lanham menjadi pusat kebudayaan yang penting bagi Muslim di daerah itu dan para pengunjung. Keamanan ditingkatkan di sana setelah serangan hari Jumat di Selandia Baru, kata Ahmet Aydilek, salah seorang pengurus Diyanet Center.

Kepala Polisi PG County melakukan kunjungan solidaritas ke masjid Diyanet Center of America di Maryland. (15/3)
Kepala Polisi PG County melakukan kunjungan solidaritas ke masjid Diyanet Center of America di Maryland. (15/3)

"Kami meminta orang-orang agar waspada, di luar itu kami melakukan apapun yang kami bisa untuk meningkatkan keselamatan orang-orang kami,” jelasnya.

Aydilek mengatakan kepada VOAbahwa Diyanet menerima pesan dukungan dari tetangga-tetangganya yang non-Muslim, termasuk dari kepala kepolisian setempat, yang berbicara kepada para jemaah pada hari Jumat. Dalam kesempatan itu, Henry Stawinsky, kepala kepolisian Kabupaten Prince George, menyebut para jemaah sebagai keluarga. "Ketahuilah bahwa saya, kami, akan membela rumah dan keluarga kita, dan melindungi rumah dan keluarga kita,” kata Henry.

Kelompok-kelompok kebencian mulai bangkit di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, memicu Islamofobia, anti-Yahudi dan xenofobia, kata Imam Naeem Mohammad Baig dari Falls Church, Virginia. Ia mengemukakan, "Tetapi kita harus siap. Kami mendidik komunitas kami. Kami membantu komunitas kami memahami bahwa inilah realitas Amerika yang baru. Tetapi kita harus mematuhi keyakinan kita. Kita tidak boleh menghindar dari mempraktikkan keyakinan kita. Kita tidak boleh takut.”

Tokoh-tokoh agama juga mendesak Muslim agar berbaur dengan komunitas yang lebih luas, termasuk dengan mereka yang berbeda agama. "Biarlah mereka bekerjasama dan juga berkumpul bersama demi kemajuan umat manusia pada umumnya, Muslim maupun non-Muslim. Jangan mengasingkan diri. Jika menghadapi masalah, berbagilah dengan yang lain,” kata Hamud Al Silwi dari Sheepshead Bay Muslim Center di New York.

Muslim Amerika sebagian besar mengecam media berita dan sejumlah tokoh politik karena menyebarkan pesan-pesan yang memecah belah.

Serangan Terhadap Masjid di Selandia Baru Timbulkan Gelombang Kejutan di Dunia Muslim
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:26 0:00

Ahmet Aydilek dari Diyanet Center menambahkan, "Sebagian pesan tersebut berusaha mengubah struktur dasar negara ini, sesuatu yang tidak akan terjadi. Mengapa? Karena Muslim benar-benar unsur yang kuat, bagian yang kuat dari struktur ini. Ada Muslim yang lahir dan dibesarkan di negara ini selama beberapa dekade. Ada Muslim yang berdinas di Angkatan Darat. Ada yang menjadi dokter, pengacara, dinas pemadam kebakaran. Ada juga Muslim di departemen kepolisian.”

Presiden Amerika Donald Trump telah mengecam serangan-serangan di Selandia Baru itu. Melalui cuitan di Twitter, ia mengirim pesan belasungkawa kepada rakyat Selandia Baru. Para pejabat Amerika juga menawarkan bantuan dalam menyelidiki serangan-serangan tersebut. [uh]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG