Tautan-tautan Akses

Senjata Api Polri: Antara Aksi Polisi Koboi VS Polisi Korban Terorisme


Kapolda Jateng, Irjen Condro Kirono (tengah) didampingi Kapolresta solo AKBP Ribut Hari (kiri) dan Wakapolresta Solo AKBP Andi Rifa'i (paling kanan) di Mapolresta Solo, Jawa Tengah. (Foto: VOA/Yudha)

Seorang warga tewas dan satu lainnya luka akibat aksi penembakan yang dilakukan anggota polisi dari Polresta Solo yang sedang cuti di kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah. Polda Jawa Tengah meminta maaf kepada keluarga korban dan memastikan kasus ini diproses secara hukum.

Aksi penembakan di Solo menjadi sorotan saat Polri memesan ribuan senjata api jenis pistol, bukan senapan serbu, untuk mengantisipasi aksi terorisme.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Condro Kirono meminta maaf kepada korban penembakan dan keluarga korban yang dilakukan anggotanya di Tegal, Jawa Tengah. Saat ditemui usai menerima gelar dari Mangkunegaran Solo, Jumat (29/9), Condro Kirono memastikan pelaku yang juga anggota polisi di Polresta Solo tersebut sudah ditahan dan sedang ditangani kepolisian. Menurut Condro, pelaku akan menjalani hukuman sesuai hukum pidana umum dan kode etik kepolisian.

“Ya, sedang kita tangani. Pelaku sudah ditahan di Polresta Tegal, kasusnya sedang kita proses. Saya atas nama Kapolda Jawa Tengah meminta maaf dan bela sungkawa pada keluarga korban. Pelaku kita jerat dengan dua lapis, secara pidana diproses Polresta Tegal, sedangkan kode etik dilakukan Propam Polda Jawa Tengah.”

Aksi penembakan menewaskan satu orang dan melukai satu orang lainnya di Tegal yang dilakukan oleh seorang polisi, Kamis (28/9) dini hari kemarin di halaman parkir sebuah hotel. Diketahui pelaku adalah anggota polisi dari Polresta Solo dan sedang cuti atau libur menjenguk orang tuanya di Tegal.

Pelaku penembakan, berinisial RE, sebelumnya bertugas di Polresta Tegal. Aparat berpangkat brigadir itu baru pindah ke Polresta Solo sekitar dua bulan yang lalu. Sebelum penembakan terjadi, sempat terdengar cekcok di sebuah tempat karaoke yang berada di kompleks hotel tersebut.

Kasus ini menambah daftar panjang kasus penembakan pada warga yang dilakukan polisi. April lalu, polisi memberondong tembakan pada sebuah mobil berisi satu keluarga di Lubuk Linggau yang nekat akan menabrak atau tidak berhenti saat dirazia, menewaskan satu orang dan melukai enam penumpang berusia balita hingga orang dewasa.

Kemudian anggota polisi di Bengkulu menembak mati anaknya sendiri pelajar SMP yang dikira pencuri saat kondisi rumah gelap. Kasus berikutnya seorang polisi menembak mati warga saat melakukan penggerebekan perjudian di Lewa, Sumba Timur, Juli 2017. Belum lagi kasus bunuh diri yang dilakukan polisi memakai senjata api.

Sementara itu, salah seorang warga di Solo, Ichsan berharap Polri lebih selektif melakukan pengawasan dan pemakaian senjata api pada anggotanya.

“Ya menurut saya, polisi masih butuh senjata api. Kita tidak tahu kapan dan di mana kejahatan akan terjadi. Cuma memang kalau beberapa waktu ini terjadi aksi penembakan yang dilakukan polisi karena penyalahgunaan senjata api, ya itu kan personal saja, orang per orang, bukan institusi. Mungkin ke depan, institusi perlu memperketat lagi aturan, lebih selektif, pada anggotanya yang berhak menggunakan senjata api, siapa yang secara psikologis maupun kemampuan siap menggunakan senjata api,” kata Ichsan.

Kasus penembakan di Tegal, Jawa Tengah, tak mempengaruhi Polda Jateng mempersenjatai anggotanya di lapangan. Kapolda Jawa Tengah, Irjen Condro Kirono, mengungkapkan polisi masih menjadi target atau sasaran aksi terorisme.


“Ijin cuti dan kepemilikan senjata api dari polisi pelaku penembakan sudah sesuai prosedur. Tidak perlu dipermasalahkan. Itu faktor kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Boleh kok polisi cuti bawa senjata api. Senjata api itu memang ada pada dia. Senjata api 'kan dilarang dipakai ketika mau naik pesawat, harus dititipkan ke petugas aviasi. Kalau perjalanan cuti tidak apa-apa, apalagi sekarang kan ancaman teror pada anggota Polri kan cukup tinggi. Jadi perlu membawa senjata api," kata Irjen Condro Kirono.

Data menunjukkan polisi menjadi sasaran aksi terorisme menjelang perayaan Ulang Tahun Korps Bhayangkara ini Juli lalu di dekat Mabes Polri. Dua polisi luka diserang sejumlah orang, pelaku tewas ditembak. Berikutnya 25 Juni lalu, seorang polisi tewas ditikam senjata tajam sekelompok orang yang juga melakukan pembakaran pos polisi di Mapolda Sumatera Utara.

Bulan sebelumnya, aksi bom di Kampung Melayu Jakarta, menewaskan tiga polisi, enam polisi lainnya dan lima warga sipil luka-luka.

Sementara itu, tahun ini Polri memesan senjata api jenis pistol semi otomatis sebanyak 15 ribu unit, 5 ribu diantaranya dibuat PT Pindad, untuk mempersenjatai anggotanya di lapangan. [ys/gp]

XS
SM
MD
LG