Tautan-tautan Akses

SekJen NATO: Konvensi PBB Tak akan Musnahkan Senjata Nuklir


Sekjen NATO, Jens Stoltenberg

NATO mendukung gagasan dunia tanpa senjata nuklir, namun tidak yakin hal itu dapat dicapai dengan memberlakukan larangan melalui konvensi PBB mengenai senjata nuklir, kata pejabat tertinggi aliansi militer tersebut hari Minggu (14/1).

Dalam pidato di sebuah konferensi keamanan di Sälen, Swedia, Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengatakan membersihkan dunia dari senjata nuklir memerlukan periode "perlucutan senjata yang menyakitkan" yang tidak dapat dijamin oleh Perjanjian Larangan Senjata Nuklir.

Stoltenberg menekankan bahwa strategi militer NATO bergantung pada kombinasi senjata konvensional dan senjata nuklir. Jika anggota NATO menghapus persenjataan nuklir mereka, namun negara-negara seperti China dan Rusia mempertahankannya, dunia tidak akan lebih aman, katanya.

Sementara itu, bocoran draf tinjauan senjata nuklir Pentagon yang akan datang menunjukkan bahwa pejabat pertahanan senior tidak hanya ingin memodernisasi persenjataan AS yang menua, namun menambahkan cara baru untuk melakukan perang nuklir karena Rusia, China dan musuh-musuh lainnya memperkuat persenjataan mereka sendiri.

Di antara senjata baru yang diajukan adalah hulu ledak dengan kapasitas kecil yang bisa dipasang pada rudal Trident yang sudah ada dan diluncurkan dari kapal selam. Meskipun dijuluki low-yield atau "daya rendah," hulu ledak ini masih mungkin menimbulkan dampak yang lebih besar daripada ledakan yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada perang dunia kedua, dan menewaskan puluhan ribu orang.

Draf tersebut, menurut laporan harian Washington Post, mengatakan bahwa senjata nuklir yang lebih kecil diperlukan karena "mengecilnya ruang strategis". Teori Pentagon: jika satu musuh memiliki persenjataan nuklir yang tidak dikendalikan oleh perjanjian yang ada, Amerika Serikat harus memiliki senjata yang setara dan membalas jika diperlukan.

Konsep tersebut tampaknya terfokus pada Rusia, yang oleh Pentagon dituduh telah melanggar perjanjian nuklir AS-Rusia, NEW START Treaty, tahun lalu dengan menggelar rudal jelajah baru yang dipandang sebagai ancaman bagi Eropa. Pentagon mengklaim Rusia berpikir bahwa meluncurkan serangan nuklir terbatas lebih dahulu mungkin memberi posisi yang lebih unggul.

"Memperbaiki persepsi Rusia yang salah ini adalah strategi mutlak," kata draf tersebut.

Pentagon juga menyarankan rudal jelajah baru yang bisa diluncurkan dari kapal selam nuklir.

Pemerintahan Obama berusaha mengurangi rudal jelajah serupa dalam tinjauan nuklir yang dirilis pada tahun 2010, namun pejabat pertahanan sekarang berpendapat bahwa rudal itu dibutuhkan..

Presiden AS Donald Trump mengarahkan Menteri Pertahanan Jim Mattis awal tahun lalu agar memulai kajian untuk menaksir keadaan, fleksibilitas dan ketahanan persenjataan yang ada untuk menghadang musuh modern.

Pentagon diduga akan meliris kajian nuklir tersebut setelah Pidato Kenegaraan yang akan disampaikan Trump pada tanggal 30 Januari. [as/al]

XS
SM
MD
LG