Tautan-tautan Akses

Sebagian Negara Ingin Evakuasi Mahasiswa dari Wuhan


Tim medis militer yang dikerahkan ke Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, Provinsi Hubei, untuk membantu penanganan pasien yang terjangkit virus Corona, 26 Januari 2020. (Cheng Min/Xinhua via AP)

Sebagian negara mengevakuasi mahasiswa dan warga mereka dari China, yang sedang dilanda wabah virus corona. Namun, sebagian lagi memilih membiarkan warga mereka tetap berada di Wuhan, kota kampus di mana virus itu dilaporkan bermula.

Sekitar 500 mahasiswa Bangladesh termasuk yang terperangkap di Wuhan. Mereka telah meminta pertolongan di media sosial, sementara pemerintah China dan Bangladesh merundingkan strategi.

“Lewat media sosial WeChat, para mahasiswa mendapat informasi bahwa virus menular yang misterius itu menyebar dengan cepat,” ujar Mazharul Islam, seorang mahasiswa baru di School of Electrical Engineering di Universitas Wuhan kepada VOA.

“Namun kami diberitahu untuk tidak khawatir tentang hal itu dan bahwa virus itu terkendali. Lewat WeChat kami disarankan untuk menggunakan masker atau penutup mulut jika keluar dari asrama,” tambahnya.

Islam mengatakan ada sekitar 30 mahasiswa Bangladesh di kampsunya. Lewat WeChat, Islam dan mahasiswa lainnya mengetahui bahwa ada 500 mahasiswa Bangladesh di Wuhan. Ia mengatakan Kedutaan Besar Bangladesh di Beijing “akan memberitahu kami jika ada evakuasi darurat.” Ditambahkannya, mereka telah diberi masker dan obat pencegah penyakit dari pihak universitas.

Mahasiswa kedokteran asal Thailand, Badeephak Kaosala, dalam percakapan via online mengungkapkan pengalaman terisolasi di Wuhan karena wabah virus corona, di Wuhan, China, 27 Januari 2020. (Foto: Badeephak Kaosala via Reuters)
Mahasiswa kedokteran asal Thailand, Badeephak Kaosala, dalam percakapan via online mengungkapkan pengalaman terisolasi di Wuhan karena wabah virus corona, di Wuhan, China, 27 Januari 2020. (Foto: Badeephak Kaosala via Reuters)

Wakil Kepala Misi Bangladesh di Beijing, Masudur Rahman, mengatakan ada 3.000 warga Bangladesh di China, sebagian besar berstatus mahasiswa dan guru.

“Kami dari Kedutaan Besar Bangladesh di Beijing, melakukan kontak dengan otoritas China dan berupaya mendapatkan solusi yang paling mungkin dalam situasi sekarang ini,” ujarnya. Evakuasi “harus berlangsung lewat pengaturan bilateral.”

Perancis Siap Pulangkan Warganya

Sementara itu beberapa negara lain berupaya mengatur penerbangan untuk membawa warganya keluar dari China.

Kantor berita AFP melaporkan, Perancis mengatakan akan mengoperasikan beberapa penerbangan langsung di bawah pengawasan para ahli medis di luar China pada pertengahan pekan ini bagi warga Perangis yang ingin meninggalkan China. Sejauh ini, Perancis sudah melaporkan tiga kasus infeksi virus corona.

Menteri Kesehatan Agnes Buzyn mengatakan jumlahnya dapat “berkisar dari puluhan hingga ratusan,” merujuk pada 800 warga Perancis di China. Begitu tiba di Perancis, mereka yang dievakuasi “harus berada di sebuah lokasi penampungan selama 14 hari” – masa inkubasi virus tersebut, demikian laporan AFP.

Maroko Repatriasi 100 Warganya

Sementara Reuters melaporkan pemerintah Maroko juga memerintahkan repatriasi 100 warganya, yang sebagian besar mahasiswa, dari Wuhan.

Negara-negara lain yang juga sedang mengatur penerbangan bagi warga mereka untuk keluar dari wilayah itu, antara lain: Jepang, Spanyol, Inggris dan Belanda.

Suasana kawasan permukiman dan gedung-gedung perkantoran di Wuhan, di Provinsi Hubei yang terpantau melalui udara di tengah merebaknya wabah virus corona, Wuhan, China, 27 Januari 2020.
Suasana kawasan permukiman dan gedung-gedung perkantoran di Wuhan, di Provinsi Hubei yang terpantau melalui udara di tengah merebaknya wabah virus corona, Wuhan, China, 27 Januari 2020.

Kanada Belum Berencana Pulangkan Warga

Menteri Luar Negeri Kanada Francois-Philippe Champagne, Senin (27/1/2020), mengatakan belum berencana melakukan evakuasi warganya di Wuhan, tetapi tidak mengesampingkan opsi itu. Ada sekitar 167 warga negara Kanada di Wuhan.

"Setiap permintaan konsuler akan dievakuasi “kasus per kasus,” ujarnya.

Wabah yang berawal di kota Wuhan itu hingga Senin (27/1/2020) telah menewaskan 81 orang di China dan lebih dari 2.800 orang di seluruh dunia terinfeksi.

Pemerintah China telah melarang warga keluar masuk kota Wuhan dan kota-kota di sekitarnya untuk mencegah meluasnya virus itu. Jutaan orang, termasuk warga asing dan mahasiswa, termasuk diantara warga yang dilarang keluar dari kota-kota itu. Banyak mahasiswa yang meninggalkan Wuhan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan libur musim dingin, tetapi sebagian besar masih berada di kota itu.

Afghanistan Minta China Tak Pulangkan Mahasiswanya

Lebih dari 60 warga Afghanistan termasuk diantara warga asing yang terperangkap di Wuhan. Pemerintah Afghanistan telah meminta China untuk tetap membiarkan mahasiswa mereka berada di kota itu dan tidak memulangkannya ke Afghanistan, keputusan yang menimbulkan kekecewaan bagi keluarga mereka.

“Kampus-kampus ditutup, para mahasiswa terperangkap di ruang-ruang asrama, tidak diizinkan keluar kampus,” ujar Ahmad Jawed Beheshti, seorang mahasiswa Afghanistan di Universitas Sichuan di China. “Baru kemarin mereka menutup universitas kami,” tambahnya.

Pen Barang, mahasiwa program master berusia 30 tahun asal Provinsi Svay Rieng di Kamboja, adalah satu dari 19 pelajar Kamboja yang tidak bisa meninggalkan Wuhan. (Foto: Pen Barang/Dokumentasi Pribadi)
Pen Barang, mahasiwa program master berusia 30 tahun asal Provinsi Svay Rieng di Kamboja, adalah satu dari 19 pelajar Kamboja yang tidak bisa meninggalkan Wuhan. (Foto: Pen Barang/Dokumentasi Pribadi)

Namun Duta Besar Afghanistan untuk China Javed Ahmad Qaem mengatakan kepada VOA, mereka tidak melupakan para mahasiswa itu. “Mereka gelisah, tetapi pihak berwenang di China bertanggungjawab,” ujarnya.

“mereka menetapkan lokasi tertentu sebagai tempat pertemuan di setiap kedutaan. Jika dan ketika relokasi di dalam atau di luar China diizinkan, kami akan ke garis depan. Sejauh ini tidak boleh ada relokasi. Mereka diisolasi dan kami memantau situasi ini dengan seksama,” tambahnya.

Banyak WNI Ingin Keluar dari Wuhan

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Chinape cabang Wuhan, Nur Musyafak, mengatakan banyak WNI ingin keluar dari kota itu.

Data ke Kementerian Luar Negeri menunjukkan ada 428 warga Indonesia yang belajar di Wuhan. Sebagian besar telah kembali ke Indonesia untuk libur musim dingin. Namun mereka yang masih berada di China membutuhkan surat dari Kedutaan Besar Indonesia di Beijing jika ingin meninggalkan negara itu.

"Jadi 98 orang itu kami data semua nomor paspornya. Setelah kami data, baru kita coba untuk minta surat ke KBRI,” ujarnya Nur.

Asrama mahasiswa Indonesia itu berjarak sekitar 20 kilometer dari Huanan Seafood Market, dimana virus corona itu diduga berasal. Kampus-kampus di Wuhan telah mendistribusikan masker atau penutup wajah, sabun cair dan termometer gratis kepada para mahasiswa. Pihak kampus juga memerintahkan para mahasiswa untuk tidak terlalu sering keluar kampus.

Para penumpang menggunakan masker untuk melindung dari virus corona saat tiba di Bandara Internasional Los Angeles, California, 22 Januari 2020.
Para penumpang menggunakan masker untuk melindung dari virus corona saat tiba di Bandara Internasional Los Angeles, California, 22 Januari 2020.

Myanmar Batal Evakuasi 60 Mahasiswa

Pihak berwenang di Myanmar mengatakan telah membatalkan rencana evakuasi 60 mahasiswa dari Mandalay, yang sedang belajar di Wuhan. Juru bicara pemerintah kota Mandalay, Kyaw Yin Myint, mengatakan kepada Reuters, “keputusan final” telah dibuat, yaitu mengirim mereka kembali setelah 14 hari, ketika masa inkubasi virus itu berlalu.

Rusia Tangguhkan Penerbangan, AS Evakuasi Personel

Pekan lalu, Rusia menangguhkan sejumlah penerbangan langsung dari Wuhan ke Moskow. Kedutaan Besar Rusia di China, Senin (27/1/2020) mengatakan sedikitnya 140 warga Rusia, di mana 75 diantaranya mahasiswa, diketahui berada di Wuhan dan Hubei.

Sementara beberapa kantor berita melaporkan pemerintah Amerika Serikat akan mengevakuasi personel dan warganya di China.

Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan akan mengevakuasi personel dari kantor konsulat AS di Wuhan dan menawarkan sejumlah kursi pesawat dalam jumlah terbatas kepada warga sipil Amerika. Sebagian warga dapat terbang dari Wuhan ke San Fransisco pada 28 Januari. [em/ft]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG