Tautan-tautan Akses

Satu Tahun Setelah Lion Air, Bagaimana Nasib Boeing 737 MAX?


Pesawat Boeing 737 MAX terparkir di fasilitas Boeing di Bandara International Grant County di Moses Lake, Washington, 16 September 2019.

Pada 12 Maret 2019 lalu, Dennis Muilenburg menelepon Presiden AS Donald Trump untuk meminta bantuan setelah otoritas Eropa dan China melarang terbang pesawat Boeing 737 MAX. Pelarangan dikeluarkan setelah jatuhnya pesawat Ethiopia Airlines yang menewaskan 157 orang.

Saat Muilenburg menutup teleponnya, Direktur Utama Boeing tersebut berpikir bahwa orang nomor satu AS berpihak padanya. Namun keesokannya, Trump justru mengumumkan bahwa pesawat terlaris Boeing tersebut dilarang terbang, efektif sesegera mungkin.

Semua armada MAX milik Boeing di seluruh dunia yang jumlahnya hampir mencapai 400 unit pun tak lagi dioperasikan sejak saat itu, menceburkan raksasa dirgantara berusia 103 tahun itu ke dalam krisis terbesarnya sepanjang sejarah.

Situasi yang terjadi menimbulkan pertanyaan akan komitmen Boeing pada keselamatan dan budaya perusahaan, yang juga menodai citra perusahaan tersebut di tengah kompetisi dengan rivalnya, Airbus.

Krisis ini telah menghabiskan dana miliaran dolar Boeing dan memunculkan banyak penyelidikan oleh otoritas AS. Tak hanya itu, Boeing juga harus menghadapi gugatan hukum dari keluarga korban.

Menyalahkan Pilot

Krisis sebenarnya dimulai berbulan-bulan sebelumnya, saat pesawat tipe MAX yang dioperasikan maskapai Lion Air jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018.

“Boeing langsung menyalahkan pilot dalam (kasus) Lion Air, dan malah bungkam setelahnya,” ujar Scott Hamilton dari Leeham News, sebuah penerbitan penerbangan.

“Sikap Boeing yang menolak keras untuk mengakui kesalahannya – bahkan kesalahan tersebut telah menunda pengoperasian kembali pesawat 737 MAX – telah membawa bencana bagi perusahaan dan pelanggannya,” kata Jim Hall, mantan Ketua Badan Nasional Keselamatan Transportasi (NTSB).

John Hamilton, Wakil Presiden Boeing Commercial Airplanes, dan CEO Boeing Dennis Muilenburg melihat ke arah anggota keluarga korban kecelakaan Boeing 737 MAX yang memegang foto anggota keluarga, di Senat AS, 30 Oktober 2019.
John Hamilton, Wakil Presiden Boeing Commercial Airplanes, dan CEO Boeing Dennis Muilenburg melihat ke arah anggota keluarga korban kecelakaan Boeing 737 MAX yang memegang foto anggota keluarga, di Senat AS, 30 Oktober 2019.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) minggu lalu menghubungkan kecelakaan tersebut pada sembilan faktor, termasuk pelatihan pilot yang tidak memadai dan sebuah sistem penanganan penerbangan yang dirancang dengan buruk. Sistem tersebut dikenal sebagai Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang disebut-sebut tidak tersertifikasi dengan baik oleh otoritas AS.

“Faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain. Jika salah satunya tak terjadi pada hari itu, kecelakaan mungkin tak terjadi,” terang penyelidik KNKT Nurcahyo Utomo.

Fokus pada MCAS

Hasil investigasi tak hanya menunjukkan pilot Lion Air masih muda dan belum teruji, tetapi juga kebingungan dengan MCAS, yang tak disebutkan dalam petunjuk penerbangan Boeing.

Sistem tersebut juga turut berkontribusi dalam kecelakaan Ethiopia Airlines.

Sistem MCAS dikembangkan khusus untuk tipe MAX agar dapat mencegah stalling yang bisa jadi disebabkan oleh mesin pesawat yang lebih berat.

Sistem diaktifkan tak lama setelah lepas landas dalam dua penerbangan tersebut berdasarkan bacaan sensor yang salah. Kesalahan berasal dari sensor Angle of Attack (AOA), yang disetujui laik terbang oleh Xtra Aerospace, sebuah perusahaan di Florida, AS. Lembaga Penerbangan Federal AS (FAA) minggu lalu mencabut sertifikasi bengkel pesawat milik Xtra Aerospace.

Para pilot di dua penerbangan tersebut tak dapat mengendalikan pesawat dari sistem MCAS.

Sebuah laporan yang dirilis NTSB bulan lalu menyatakan bahwa Boeing dan FAA keliru dalam menilai bagaimana pilot seharusnya merespons beberapa peringatan dan alarm saat menghadapi masalah di penerbangan 737 MAX.

Laporan lain yang dikeluarkan sebuah panel regulator penerbangan dunia menyebutkan bahwa FAA kekurangan sumber daya manusia dan pakar dalam mengevaluasi MCAS.

Bersaing dengan Airbus

Pada musim semi 2011, American Airlines, yang sebelumnya membeli armada secara eksklusif dari Boeing, memperingatkan perusahaan AS tersebut bahwa dirinya mempertimbangkan pembelian besar-besaran dari Airbus untuk tipe A320 Neo, versi lebih irit bahan bakar dari model setipe yang menandingi seri 737

Seorang sumber menyatakan kepada kantor berita AFP bahwa Boeing diminta untuk segera membuat tandingan A320 Neo untuk menghindari penurunan pembelian.

Menyadari bahwa meluncurkan model yang benar-benar baru akan memakan waktu bertahun-tahun, Boeing lalu memilih untuk memperbarui 737.

Siswa penerbangan Lion Air sedang berlatih di simulator didampingi oleh pelatih, di Jakarta, November 2018.
Siswa penerbangan Lion Air sedang berlatih di simulator didampingi oleh pelatih, di Jakarta, November 2018.

Untuk mempercepat proses, Boeing menginginkan “perubahan yang minim untuk mengurangi biaya dan menyelesaikannya segera,” mantan teknisi Boeing Rick Ludtke, yang berkontribusi pada kokpit tipe MAX, kepada New York Times.

Namun, satu dari tiga pegawai Boeing melaporkan bahwa mereka merasa adanya “potensi tekanan yang tidak semestinya” dari para manajer selama masa pengembangan MAX, menurut sebuah survei internal yang diulas AFP.

Boeing: Tak Perlu Pelatihan

Dalam materi promosinya, Boeing meyakinkan maskapai bahwa pilot yang telah terbiasa menerbangkan model 737 tak perlu lagi menerima pelatihan tambahan untuk menerbangkan seri MAX, menurut materi yang dideskripsikan staf kongres Kepada AFP.

Kesamaan fitur dalam pesawat seri MAX dengan versi-versi sebelumnya juga mempercepat proses-proses terkait peraturan.

Boeing sangat percaya diri dengan hal itu hingga setuju untuk memberi diskon AS$1 juta per pesawat kepada maskapai penerbangan Southwest Airline, jika pelatihan simulator diperlukan.

Setelah melaksanakan serangkaian uji simulator, pilot Boeing Mark Forkner meluruskan kepada otoritas penerbangan bahwa sistem MCAS hanya akan aktif pada kasus yang jarang terjadi dan tak memerlukan pelatihan tambahan.

Namun, tak lama sebelum sertifikasi, Forkner mengabarkan rekannya bahwa sistem MCAS aktif secara tak terduga saat uji simulator, berdasarkan pesan teks yang dirilis oleh sebuah komite kongres.

“Jadi saya pada dasarnya berbohong kepada para otoritas (secara tanpa sadar),” kata Forkner dalam pesan teks tersebut.

FAA, yang mengizinkan Boeing untuk tak mencantumkan MCAS pada petunjuk penerbangan, telah mendapat kritik tajam atas sertifikasi yang dikeluarkannya untuk tipe MAX.

Krisis ini telah menghabiskan dana miliaran dolar Boeing dan memunculkan banyak penyelidikan oleh otoritas AS. Tak hanya itu, Boeing juga harus menghadapi gugatan hukum dari keluarga korban.

Puluhan pesawat Boeing 737 MAX yang dilarang terbang memenuhi parkiran di Boeing Field, Seattle, AS, 27 Juni 2019.
Puluhan pesawat Boeing 737 MAX yang dilarang terbang memenuhi parkiran di Boeing Field, Seattle, AS, 27 Juni 2019.

Masa Depan Suram

Meski Boeing sudah mengakui kesalahan dalam komunikasinya dengan otoritas penerbangan, perusahaan itu tetap membantah sejumlah temuan yang menyebut tipe MAX memiliki cacat desain.

Perusahaan tersebut telah mengurangi produksi tipe MAX sebanyak 20 persen sembari berusaha untuk mendapatkan sertifikasi kembali untuk tipe tersebut.

Boeing sendiri telah mengajukan dokumentasi peningkatan MCAS kepada FAA, termasuk pembacaan dua sudut serangan dan fitur yang memungkinkan pilot untuk mematikan sistem MCAS jika terjadi perbedaan antarsensor.

Namun, ketidakpastian tetap menghantui MAX, termasuk apakah Boeing akan mencapai target waktunya untuk mendapatkan persetujuan otoritas tahun ini.

Satu pertanyaan terbesarnya adalah apakah pilot akan diharuskan untuk menjalani percobaan simulator untuk sistem baru tersebut. Otoritas Eropa dan Kanada menginginkan percobaan tersebut, sedangkan FAA sendiri mempercayai para pilot tak perlu melakukannya. [aa/ft]

XS
SM
MD
LG