Tautan-tautan Akses

Santri, Pesantren, dan Tantangan Zaman

  • Nurhadi Sucahyo

Santri belajar di PP Al Mumtaz, Gunungkidul, Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi)

Tanggal 22 Oktober ditetapkan Presiden Jokowi sebagai Hari Santri Nasional. Bagaimana para santri menghadapi tantangan dunia yang semakin besar?

Jika mendengar kata santri, apa yang muncul di benak Anda. Mungkin, mayoritas akan membayangkan figur anak muda mengenakan sarung, kemeja dan peci di kepala yang ditarik sedikit ke belakang hingga sebagian terlihat di atas jidat. Anda tidak sepenuhnya keliru. Memang mayoritas santri tampil seperti itu. Terutama di pondok-pondok pesantren tradisional.

Sebenarnya, sebutan santri tidak hanya dikenakan kepada mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren. Santri lebih bermakna sebagai siapapun yang belajar dan mengikuti pemikiran seorang kyai atau pemimpin keagamaan.

Santri, seperti Muhammad Habib Ghulam Alrasyid, hidup dalam banyak batasan. Sejak bangun pagi, harus beribadah hingga waktu sekolah tiba. Sore hari, mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan pondok, lalu mengaji dan belajar di malam hari. Waktu tidur relatif singkat, menu makanan terbatas, dan tinggal dalam ruangan besar berisi belasan santri.

Santri belajar di PP Al Mumtaz, Gunungkidul, Yogyakarta (Foto: VOA/Nurhadi)
Santri belajar di PP Al Mumtaz, Gunungkidul, Yogyakarta (Foto: VOA/Nurhadi)

“Tapi ini kan proses. Saya ingin belajar memaknai proses kehidupan ini sesuai dengan ajaran agama dan menjadi pribadi yang mandiri,” kata Habib yang belajar di Pesantren Ikhsanul Fikri, Magelang, Jawa Tengah.

Tapi, banyak santri tidak lagi bersarung dan hanya pandai ilmu agama. Zaki Mubarok Busro, salah satunya. Pria yang pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta ini bisa mewakili identitas santri yang lebih modern. Sekali-kali ia mengenakan sarung dan membaca kitab. Tetapi ia terlihat meyakinkan ketika tampil dengan jas dan berbicara di forum-forum internasional.

Zaki adalah calon doktor yang kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Wollongong, Australia. Ahli hukum, yang bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan ini juga aktif menulis di media massa dengan artikel berbahasa Inggris.

“Pesantren adalah tempat membangun karakter. Saya mendapatkan banyak nilai humanis disamping ilmu agama. Juga belajar egaliter, persamaan nilai setiap orang di depan Tuhan dan persamaan derajat antara sesama manusia. Kami terbiasa makan bersama dalam satu nampan dan tidur beralasan tikar di ruangan yang sempit tanpa memandang status sosial,” kata Zaki.

Bagi Zaki, pendidikan santri sangat berarti dalam karir. Dia mengatakan, dalam birokrasi,komunikasi sering dipengaruhi jabatan atau posisi. Pada kegiatan berskala international, dia juga sering menghadapi delegasi negara lain yang berbeda sudut pandang.

Menurut Zaki, egalitarianisme yang dia peroleh selama di pesantren membuatnya memandang seseorang berdasarkan tanggung jawab, tidak berdasarkan strata sosial atau posisi.

“Kita tidak memandang rendah rekan kerja yang di bawah. Sebaliknya, dalam level internasional, egalitarianism membuat saya percaya diri untuk berkomunikasi atau bernegosiasi dengan pihak lain karena saya memegang prinsip bahwa semua manusia pada prinsipnya sama,” tambah Zaki.

Kyai Mohamad Khoeron Marzuki, pendiri Pondok Pesantren Al Mumtaz di Gunungkidul, Yogyakarta menyadari besarnya tantangan santri dan pesantren saat ini. Pesantren sudah lama berperan dalam mengurangi kemiskinan ilmu di masyarakat. Saat ini, tantangannya adalah berperan lebih besar dalam mengurangi kemiskinan ekonomi. Santri tidak cukup belajar ilmu agama, tetapi juga harus memupuk jiwa wirausaha. Tidak mengherankan, jika di pondok pesantren ini mencangkul adalah salah satu pelajaran wajib.

“Kami konsisten, sejak masuk ke pesantren, pelajaran dasarnya adalah mencangkul. Itu dalam rangka menumbuhkan etos kerja. Nanti setelah etos kerjanya terbentuk, kami akan memberikan keterampilan. Di Al Mumtaz keterampilan yang diberikan itu bermacam-macam. Anak-anak kita latih,kita siapkan, keluar dari pesantren menjadi pengusaha walaupun kecil-kecilan. Tidak peduli anak orang kaya, orang miskin, ada juga anak kyai atau dosen, ke sini kita beritahu bahwa pelajaran awalnya adalah mencangkul. Kalau tidak boleh mencangkul yang tidak usah masuk ke sini,” kata Mohamad Khoeron Marzuki.

Bagi santri Al Mumtaz, mencangkul tidak bisa diartikan hanya sebagai kegiatan mengolah tanah. Menurut Kyai Khoeron, ini adalah proses pembentukan etos kerja. Dia berharap santri yang sudah selesai belajar nanti memiliki keahlian wirausaha yang diminati. Karena itu, selama di pondok selain belajar agama, mereka juga membuka usaha pembuatan roti, minuman kemasan, membatik, makanan ringan hingga pembuatan deterjen.

Santri kadang juga predikat yang diwariskan, misalnya bagi Sudaryono yang sejak tiga bulan lalu mengirim anaknya ke pesantren. Dia aktivis di Nahdlatul Ulama dan percaya bahwa pesantren penting dalam pembentukan karakter. Tanpa paksaan, anaknya yang memperoleh nilai tinggi dalam ujian akhir sekolah dasar, memilih menjadi santri. Padahal dia berkesempatan memilih sekolah berkualitas.

“Saya santri, itu yang pertama. Kedua, anak saya sejak kelas 1 SD memang sudah ingin mondok. Dari sisi akademik dia juara dalam ujian nasional. Nilainya termasuk yang tertinggi. Jadi, bukan memilih masuk pesantren karena afkiran, anak saya mau masuk SMP favorit mana saja memungkinkan karena nilainya memang bisa. Tetapi dia ingin masuk pesantren memang karena pilihannya sendiri,” kata Sudaryono.

Pesantren memang kuat dalam pembentukan karakter. Pantauan selama 24 jam oleh para guru diyakini menjadi salah satu jawaban untuk dampak negatif dunia modern. Orang tua mencari kawasan tanpa telepon selular, minim media sosial, namun kaya dengan nilai-nilai kebersamaan, dan menemukan pesantren sebagai jawabannya.

Alvin Setiawan, ketika kanak-kanak pernah menimba ilmu di sebuahpesantren di Magelang, Jawa Tengah. Kehidupan pesantren memberinya kemampuan bersosialisasi sehingga menunjang karirnya sebagai manajer di sebuah perusahaan suku cadang di Cikampek, Jawa Barat.

“Pesantren membuat saya lebih bisa mandiri. Karena hidup sebagai santri ibaratnya kan mengurus semua sendirian. Kita juga cenderung memandang semua orang sama, tidak takut pada jabatan dan sebagainya. Pembentukan karakter ini yang penting, dan karena itu saya juga ingin anak saya jadi santri,” kata Alvin.

Zaki Mubarok, meyakini pesantren menghadapi tantangan ke depan karena itu santri perlu membekali diri dengan kemampuan non-agama. Menurutnya, pesantren perlu menerapkan kurikulum yang menghasilkan santri kultur hibrida. Konsep ini mendorong santri berperan lebih besar dalam pemerintahan ataupun sektor formal lain. [ns/ab]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG