Tautan-tautan Akses

Sampah Plastik Sepi di Debat, Giat di Masyarakat


Muslim Mahardika dan mesin pencacah kantong plastik yang dikembangkan FT UGM. (Foto: VOA/Nurhadi)
Muslim Mahardika dan mesin pencacah kantong plastik yang dikembangkan FT UGM. (Foto: VOA/Nurhadi)

Meski lingkungan menjadi salah satu tema debat kedua Minggu (17/2) malam, namun porsi perbincangannya sangat sedikit. Jokowi bahkan hanya menyinggungnya dalam satu kalimat. Sebaliknya, masyarakat sebenarnya sudah bergerak lebih jauh terkait ini.

Sebuah paragraf pendek mengakhiri paparan Jokowi soal keberhasilan pemerintahannya dalam empat tahun terakhir. “Di bidang lingkungan hidup, kita ingin kebakaran hutan, kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi. Dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut, dan itu adalah kerja keras kita semuanya. Dan kita juga ingin mengurangi sampah plastik di sungai maupun di laut. Saya kira itu, dedikasi yang ingin kita berikan pada bangsa ini, untuk Indonesia maju,” papar Jokowi.

Sampah plastik adalah masalah besar yang hilang dari debat calon presiden. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap tahun konsumsi kantong plastik Indonesia 9,8 miliar lembar. Sekitar 95 persennya berakhir di tempat sampah.

Sejumlah pemerintah daerah sebenarnya telah memulai pengurangan konsumsi kantong plastik lewat aturan lokal. Banjarmasin, Balikpapan, Bali, Jambi dan Bogor sudah bergerak, Jakarta dan Bandung akan menyusul. Tahun lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjanjikan insentif khusus bagi daerah yang mampu mengurangi penggunaan kantong plastik dan berlaku mulai 2019.

Sampah Plastik: Sepi di Debat, Giat di Masyarakat
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:07 0:00

Tahun lalu, kematian seekor paus dengan sampah plastik di perutnya, menggerakkan masyarakat. Kampanye pengurangan kantong plastik, botol minuman dan sedotan makin masif digelar.

Benar, soal sampah plastik ini sepi di debat, tetapi giat dilakukan masyarakat.

Kantong Plastik untuk Jalan

Ada banyak kelompok masyarakat tergerak dalam isu ini. Sekelompok peneliti di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta membuat mesin pencacah kantong plastik. Keistimewaan mesin ini adalah ukuran cacahan plastik hanya empat milimeter dan listrik yang digunakan hanya tiga PK, nyaris sepertiga dari mesin lain sejenis. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyambut baik dan memesan 500 unit.

Skema pemakaian mesin ini juga menarik. Mesin pencacah yang sudah jadi akan diserahkan kepada kelompok masyarakat. Kelompok ini, yang mayoritas berupa bank sampah, akan mengumpulkan sampah kantong plastik untuk dicacah. Hasilnya kemudian dibeli oleh Kemen PUPR sebagai campuran aspal. Dr Muslim Mahardika, salah satu anggota tim riset mengatakan, karena dipakai dalam skala kecil itulah, riset menetapkan listrik yang dibutuhkan harus bisa dipenuhi dari daya listrik rumahan.

“Yang kami patenkan pisaunya. Ada dua pisau, yaitu pisau statis dan dinamis. Kemiringan pisaunya juga kami patenkan. Karena setelah kami desain, kami ujicoba kemiringan ini yang optimal untuk ukuran itu, sehingga power-nya rendah,” kata Muslim Mahardika.

Selain Muslim, tim peneliti terdiri dari Prof. Nizam, Dr. Rachmat Sriwijaya, Sigiet Haryo Pranoto, dan Fajar Yulianto Prabowo. Riset dilakukan sejak awal tahun 2018, dan sejumlah mesin telah diserahkan kepada kelompok masyarakat.

Menurut PUPR, teknologi aspal plastik dapat meningkatkan ketahanan campuran beraspal terhadap deformasi dan meningkatkan ketahanan terhadap retak. Selain itu, tentu saja langkah ini mengurangi limbah plastik. Satu kilometer jalan dua lajur selebar tujuh meter, dengan aspal setebal empat sentimeter, membutuhkan sekitar tiga ton sampah kantong plastik.

Daur Ulang Untuk Kerajinan

Selain sebagai bahan campuran aspal, kantong plastik bekas juga dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Ibu-ibu di Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Yogyakarta menjadikan lembaran plastik warna-warna itu untuk membuat bunga, hiasan dinding, hingga tas.

Hiasan dinding berbahan sampah kantong plastik buatan Griya Sapu Lidi. (Foto courtesy: Erwan W)
Hiasan dinding berbahan sampah kantong plastik buatan Griya Sapu Lidi. (Foto courtesy: Erwan W)

Erwan Widyarto, pegiat di bank sampah ini mengaku, langkah pertama adalah mendidik masyarakat memilah sampah. “Barang pilahan yang dikumpulkan bisa dijual langsung ke pengepul. Atau bisa juga diolah, didaur ulang untuk kerajinan. Banyak sekali jenis kerajinan yang dibuat dari kantong plastik kresek,” kata Erwan.

Kantong plastik menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak dikumpulkan. Karena itulah, meski bisa digunakan kembali sebagai bahan kerajinan, yang paling penting menurut Erwan tetap mengurangi penggunaan kantong kresek.

“Intinya di pengelolaan sampah ada 3R, reduce, reuse, recycle. Kalau kita, 3R itu tidak cukup, tapi 5 R. Reduce, reduce, reduce, reuse, recycle. Kita tetap merekomendasikan pengurangan penggunaan plastik kresek. Pengurangan pemakaiannya yang penting. Kalau kemudian reuse dan recycleitu upaya berikutnya setelah ada sampah yang terkumpul,” kata Erwan Widyarto.

Pelatihan pembuatan ecobrick oleh Bank Sampah Griya Sapu Lidi. (Foto courtesy: Erwan W)
Pelatihan pembuatan ecobrick oleh Bank Sampah Griya Sapu Lidi. (Foto courtesy: Erwan W)

Pemanfaatan lain dari kantong plastik yang kini populer adalah Ecobrick atau bata ramah lingkungan. Prinsipnya, lembaran plastik dimasukkan satu persatu dan dipadatkan ke dalam botol bekas air mineral. Setelah padat, botol menjadi cukup kuat dan dapat dipakai sebagai bahan pembuatan kursi, meja, gapura, atau asesoris lingkungan lain. Dalam pengembangannya, ecobrickbahkan benar-benar dapat berfungsi sebagai batu bata, yang disusun untuk membuat bangunan.

“Semua ini didasari oleh minat, memakai barang-barang dari daur ulang sampah harus didasari pada kepedulian,” tambah Erwan yang juga Sekretaris Umum perkumpulan Yogyakarta Green and Clean.

Prototipe Aplikasi Jual-Beli

Kepedulian soal sampah plastik juga bisa dilakukan dengan membangun sistem. Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian UGM, Yusroni, Junita Solin, dan Novia Adistri Putri kini sedang mengembangkan sebuah aplikasi bernama PLASTIC. Aplikasi berbasis android ini kelak akan menjadi platform bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan transaksi jual beli produk daur ulang limbah. Prototipe ini sudah memperoleh medali perunggu dari National Research Council of Thailand dan penghargaan khusus dari World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA). Penghargaan diserahkan dalam Thailand Inventors Day 2019 awal Februari lalu.

Prototipe aplikasi jual-beli produk daur ulang sampah yang dikembangkan mahasiswa UGM. (Foto courtesy: Humas UGM)
Prototipe aplikasi jual-beli produk daur ulang sampah yang dikembangkan mahasiswa UGM. (Foto courtesy: Humas UGM)

Dengan aplikasi ini, masyarakat dapat menjadi penggerak daur ulang secara mandiri, sekaligus memperoleh manfaat ekonomis. “Kami mengembangkan gagasan ini melihat persoalan sampah plastik yang semakin banyak dan belum juga terselesaikan. Dengan aplikasi ini, masyarakat bisa mendaur ulang sampah menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual,” kata salah satu pengembang aplikasi ini, Yusroni.

Aplikasi dilengkapi sejumlah fitur. Ada akun bagi penjual dan pembeli. Produk yang diperdagangkan juga dikategorikan berdasarkan bahan, seperti plastik, kaca, kayu, dan lainnya. Aplikasi juga dilengkapi fasilitas perbincangan untuk mendukung proses transaksi dengan sistem pembayaran terpercaya. [ns/as]

Recommended

XS
SM
MD
LG