Tautan-tautan Akses

AS

RUU Baru Partai Demokrat Bertujuan Hapuskan 1,5 Triliun Utang Mahasiswa


Beberapa mahasiwa sedang duduk-duduk di tangga Perpustakaan Wilson di kampus Universitas North Carolina di Chapel Hill, North Carolina, 20 September 2018. (Foto: Reuters)

Senator Demokrat Bernie Sanders serta anggota DPR Amerika Ilhan Omar dan Pramila Jayapal telah bergabung bersama untuk memperkenalkan rancangan undang-undang yang menjanjikan pembatalan semua utang mahasiswa senilai $1,6 triliun dengan memajaki perdagangan saham, obligasi, dan transaksi derivatif di Wall Street. Rancangan undang-undang yang disebut “College for All Act” itu juga akan menghapus SPP dan biaya kuliah lainnya di universitas negeri empat tahun.

Mahasiswa Amerika bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk melunasi pinjaman mahasiswa. Tetapi sebuah RUU yang diperkenalkan oleh anggota Kongres dari Partai Demokrat, jika lolos menjadi undang-undang, berpotensi untuk membebaskan hampir 45 juta lulusan dari utang yang mereka tanggung seumur hidup.

Capres dari Partai Demokrat AS, Senator Bernie Sanders di Houston, Texas, 5 Juli 2019. (Foto: dok).
Capres dari Partai Demokrat AS, Senator Bernie Sanders di Houston, Texas, 5 Juli 2019. (Foto: dok).

Senator Bernie Sanders, yang mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Demokrat adalah salah seorang penggagas rancangan undang-undang itu. “Sama sekali tidak dapat diterima bahwa generasi muda kita yang bukan karena kesalahan mereka sendiri akan mengalami standar hidup yang lebih rendah daripada orang tua mereka karena lebih banyak utang, upah rendah, dan kecil kemungkinannya untuk memiliki rumah sendiri,” jelasnya.

Senator Sanders, yang bekerja sama dengan anggota DPR dari Partai Demokrat Ilhan Omar dan Pramila Jayapal, mengungkap RUU itu dalam jumpa pers beberapa waktu lalu. Omar mengatakan krisis utang mahasiswa jauh berdampak pada keluarga-keluarga berpenghasilan rendah daripada orang-orang kaya di Amerika.

Ilhan Omar, mantan pengungsi dari Somalia yang kini menjabat sebagai anggota DPR Amerika mewakili negara bagian Minnesota, menjelaskan, “Menghapuskan pinjaman mahasiswa adalah masalah orang miskin dan kelas menengah, bukan orang kaya. Jadi, daripada membuat pengecualian, mari kita akhiri krisis ini sepenuhnya untuk selamanya.”

Memajaki transaksi keuangan di pusat perdagangan saham dan finansial di Wall Street, New York, akan merupakan penggalangan dana yang dibutuhkan, kata Omar.

Dia memberikan alasannya. “Jadi, kita dapat meminta spekulan di Wall Street untuk membayar pajak transaksi keuangan yang jumlahnya kecil saja yang akan sepenuhnya mendanai pengampunan pinjaman mahasiswa selama 10 tahun. Rakyat Amerika telah memberikan dana talangan untuk Wall Street. Kini sudah tiba waktunya bagi Wall Street untuk menyelamatkan rakyat Amerika.”

Utang mahasiswa telah tumbuh hampir dua setengah kali lipat dalam dekade terakhir - dari 600 miliar dolar menjadi 1,5 triliun dolar, menurut Pramila Jayapal, perempuan anggota DPR keturunan India dari Partai Demokrat yang mewakili negara bagian Washington.

Pramila Jayapal menjelaskan, “Enam puluh persen mahasiswa kulit putih di seluruh negara kita memiliki beban utang mahasiswa, dan mahasiswa kulit berwarna bahkan lebih, yakni 87 persen mahasiswa kulit hitam harus meminjam untuk bisa kuliah di perguruan tinggi empat tahun. Sementara wanita keturunan Afrika-Amerika yang lulus dengan gelar sarjana harus membayar sekitar seratus sebelas persen dari gaji tahun pertama mereka untuk pinjaman mahasiswa.”

RUU baru itu dibuat didasarkan pada rancangan undang-undang yang diajukan di Kongres terdahulu ketika majelis itu dikuasasi oleh Partai Republik. Tetapi, karena kini Partai Republik masih menguasai Senat, usulan rancangan undang-undang yang hendak membebaskan beban utang mahasiswa ini memiliki peluang kecil untuk bisa lolos menjadi undang-undang. [lt/ab]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG