Tautan-tautan Akses

AS

Mantan Direktur CIA: Rusia dan Tim Trump Berhubungan


John Brennan, mantan direktur Badan Intelijen Pusat (CIA), diambil sumpahnya sebelum memberikan kesaksian di depan Komisi Senat Amerika, Selasa (23/5).

Laporan tentang permintaan Presiden Trump kepada pimpinan puncak badan intelijen Amerika agar menyangkal adanya kolusi antara kampanyenya dan Rusia mendominasi hari ketika berlangsung kesaksian di Kongres Amerika.

Penyelidikan Kongres terhadap campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden di Amerika tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, bahkan ketika Penasihat Khusus Robert Mueller memulai penyelidikan luas Departemen Kehakiman.

Hari Selasa (23/5) kemarin menjadi hari yang penuh pertanyaan di gedung Kongres, Capitol Hill, dan sekali lagi tidak banyak jawaban mengenai hubungan antara kampanye Trump dan Rusia.

John Brennan, mantan direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) yang memberikan kesaksian di depan Senat Amerika, mengatakan, “Saya menemukan dan mengetahui adanya informasi dan intelijen yang mengungkapkan terjadinya kontak dan interaksi antara pejabat-pejabat Rusia dan orang-orang Amerika yang terlibat dalam kampanye Trump, dan hal itu menimbulkan pertanyaan dalam pikiran saya. Sekali lagi, apakah Rusia bisa memperoleh kerjasama dari orang-orang Amerika itu.”

Brennan, yang memimpin badan mata-mata Amerika tahun lalu, mengatakan bahwa dia memperingatkan tentang campur tangan Rusia yang berani dan tanpa malu-malu dalam pemilihan 2016, upaya yang mencakup perekrutan pejabat kampanye.

“Seringkali, orang-orang yang menempuh jalan berkhianat itu bahkan tidak menyadarinya sampai agak terlambat,” kata Brennan.

Jalan yang akan lebih sulit bagi para penyidik untuk dipilah-pilah setelah mantan Penasihat Keamanan Nasional Trump Michael Flynn menggunakan hak konstitusinya untuk menolak memberikan kesaksian yang memberatkan.

Kasus Flynn adalah bagian penting dari teka-teki Rusia dan yang dikatakan oleh Brennan kepada para senator pada akhirnya terserah pada penegakan hukum untuk memutuskannya.

Kesaksian Brennan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah muncul laporan bahwa Presiden Trump meminta dua pejabat tinggi intelijen Amerika agar secara terbuka menyangkal adanya kolusi dengan Rusia, Salah seorang pejabat intelijen itu tidak bersedia membahas laporan itu ketika memberikan kesaksian di Senat. Pejabat itu adalah Dan Coats, Direktur Intelijen Nasional.

“Saya rasa tidak tepat untuk membicarakan diskusi dan percakapan saya dengan presiden,” ujar Coats.

Coats mengatakan kepada para senator bahwa dia menghindari pertimbangan politis dan sangat prihatin dengan kebocoran informasi rahasia. Pernyataan itu segera mendapat tanggapan dari Senator Demokrat Martin Heinrich dari New Mexico.

“Jika presiden memegang posisi lain dalam pemerintahan kita, apa yang dikatakannya kepada orang-orang Rusia bisa dianggap sebagai sumber dari semua kebocoran. Apakah berbahaya bahwa presiden memberikan informasi rahasia kepada pemerintah Rusia?," tanya Senator Heinrich.

Coats mengatakan kepada Kongres lawatan ke luar negeri telah menghalanginya berbicara dengan presiden tentang pengungkapan informasi rahasia di kantor presiden Oval Office tersebut.

Laporan tentang pengungkapan rahasia itu hanyalah satu dari banyak keprihatinan yang mendorong diteruskannya investigasi Kongres, bahkan setelah Penasihat Khusus Robert Mueller memulai penyelidikannya sendiri. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG