Tautan-tautan Akses

Risiko Teror, Banyak Hotel Perketat Keamanan


Hotel Mandala Bay di Las Vegas, di mana pelaku penembakan massal, Stephen Paddock menembak kerumunan penonton konser dari kamarnya di lantai 32 Minggu malam 1/10 (foto: ilustrasi).

Di seluruh dunia, risiko serangan ekstremis dan kekerasan lain telah membuat pengetatan keamanan di hotel dan resor menjadi kegiatan rutin, bahkan di negara-negara dimana aturan pengendalian senjata yang ketat mungkin membantu mencegah serangan penembakan seperti yang terjadi di Las Vegas Minggu malam lalu (1/10).

Setiap tempat memiliki keamanan beranekaragam. Di banyak kota, hotel-hotel mewah memiliki pintu yang langsung menuju ke pusat perbelanjaan. Lobi hotel sering menjadi tempat berlindung dari jalanan kota yang berisik dan kacau, dan umumnya mudah diakses.

Tetapi kini manajemen hotel menempatkan personil bersenjata, barikade mobil, mesin-mesin pemindai dan piranti keamanan lain untuk mengurangi risiko.

Pasca Serangan, Hotel di Filipina Tingkatkan Keamanan

Insiden besar baru-baru ini di Asia, tepatnya di kasino Resorts World Manila di Filipina Juni lalu, memiliki kesamaan dengan serangan di Las Vegas Minggu malam lalu.

Penyerang – yaitu seorang laki-laki yang kecanduan judi, berhasil melewati keamanan hotel mengenakan rompi amunisi dan membawa senapan serbu – melancarkan serangan pembakaran, yang menewaskan 37 orang, sebagian besar akibat tercekik asap. Penyerang itu kemudian bunuh diri.

Setelah insiden itu, Resorts World Manila mengatakan menyewa kontraktor keamanan, Blackpanda; dan membentuk protokol keamanan dan keselamatan darurat yang baru. Sebuah resor kasino di dekatnya – City of Dreams – juga mengatakan telah memperketat keamanannya.

Bahkan sebelum serangan itu terjadi, pengunjung ke Resorts World Manila – sebagaimana hotel, kompleks perkantoran dan pusat perbelanjaan di Manila – diharuskan melewati detektor logam dan mengharuskan semua tas diperiksa di pemindai.

Tindakan pencegahan semacam itu tidak selalu diterapkan di seluruh dunia. Tetapi di beberapa negara, khususnya di Afrika dan Timur Tengah dimana lebih sering terjadi serangan terhadap hotel dan wisatawan, mereka lebih terfokus pada keamanan dibanding di tempat-tempat lain.

Keamanan Hotel di Israel Gunakan Teknologi Canggih

King David Hotel di Israel yang kadang-kadang menjadi tempat menginap pemimpin negara asing seperti Presiden Trump tahun ini, dilaporkan telah menggunakan kamera infra-merah yang dipasang pada balon-balon udara di atas gedung dan robot di gorong-gorong untuk mencari bom. Jendela di lantai-lantai yang lebih tinggi dapat menahan tembakan dan grant yang diluncurkan dengan roket dan sistem pendingin udara yang tidak dapat dicemari gas.

Hotel di Afrika Ubah Sistem Pengamanan

Afrika mengalami dua serangan di hotel dalam selang waktu beberapa bulan pada tahun 2015, yaitu di Tunisia yang menewaskan 38 orang dan di Mali yang menewaskan 18 orang. Di hotel Radisson Blu di ibukota Mali, Bamako, kini ada piranti pemindai tas, pagar tambahan, dan pemblokiran lalulintas sehingga orang tidak bisa berkendara di depan gedung itu.

Hotel di Tunisia, yang negaranya bergantung pada pariwisata namun jumlah wisatawan merosot setelah beberapa serangan pada tahun 2015, kini menambah jumlah polisi dan memasang detektor logam.

Dalam Beberapa Kasus, Peningkatan Keamanan Pun Tidak Cukup

Pada tahun 2009, beberapa penyerang di Indonesia menyelundupkan bahan peledak dari piranti pemindai detektor dan berhasil mengelabuhi para petugas keamanan; menimbulkan ledakan di Mariott Hotel dan Ritz-Carlton Jakarta yang menewaskan delapan orang. Pada tahun 2003 sebuah mobil bermuatan bom juga meledak di depan Mariott Hotel, menewaskan 12 orang.

Di India, pada tahun 2008 para ekstremis menarget dua hotel mewah, sebuah stasiun kereta api dan restoran; mengepung kawasan di Mumbai itu selama 60 jam dan menewaskan lebih dari 160 orang.

Jaringan hotel di India, termasuk Accor, Hyatt dan Mariott, kini menggunakan detektor atau pelacak jejak genggam dan pemindai x-ray untuk memeriksa bahan peledak dan barang selundupan. Hotel Lemon Tree di bandara New Delhi memasang sistem pengenalan wajah untuk melacak pengungjung.

“Baik Indonesia maupun India telah memperkuat keamanan hotel sejak kejadian ini, dan kejadian-kejadian lain di kawasan itu,” ujar Mario Hardy, CEO Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik. “Kendaraan diperiksa dan banyak hotel menambah pemindai x-ray di pintu-pintu masuk hotel dan juga sistem CCTV,” tambahnya.

Hardy mengatakan “sebagai konsumen kita kadang-kadang merasa hal-hal ini sebagai gangguan. Tetapi saya pikir kejadian seperti di Las Vegas mengingatkan kita semua tentang arti penting tindakan pengamanan.” [em/ds]

XS
SM
MD
LG